Kita adalah Wong Cilik

Best Regards, Live Through This, 31 December 2019
Pernahkah teman-teman menyadari bahwa kita ini hanyalah ‘wong cilik’ di hadapan Tuhan?

YESUS dan Wong Cilik – Sedikit termenung ketika mendapati tema Editor Letter Ignite kali ini. Saya baca dengan seksama dan saya memahami dengan pasti apa yang diharapkan oleh editor dengan tema ini.

Bagi saya pribadi, tema ini termasuk cukup berat. Pertama, terlalu segmented. Kedua, tema ini harusnya dipraktikkan bukan dituliskan. Jadi rasanya.. cukup membingungkan untuk menuliskannya panjang lebar. Seolah hanya pandai berkata-kata tapi tidak melakukan. Atau jika kita melakukan pun, apakah harus bragging tentang itu semua di tulisan kali ini?

Saya bilang tema ini cukup segmented karena memang tidak semua orang memiliki kerinduan untuk berbagi dengan ‘wong cilik’. Meskipun ada orang-orang yang memiliki kerinduan itu, mereka mungkin masih terhalang dengan masalah lainnya, seperti dana atau penghasilan yang tidak seberapa.

Ada orang-orang tertentu yang panggilannya melayani keluarganya sendiri, entah itu dalam hal materi seperti bergumul harus membiayai adik-adiknya karena orang tua yang semakin menua, atau dalam hal rohani seperti terpanggil membawa mereka mengenal Tuhan, mereka merasa harus melakukan itu. Hal-hal ini mungkin terjadi sehingga fokus mereka untuk melihat ‘wong cilik’ di sekitar mereka hanya sekadarnya saja, atau belum pernah terpikir rencana tertentu untuk menjangkau mereka. Apakah itu salah? Saya rasa tidak. Setiap orang memiliki panggilan spesifik dalam hidupnya. Jika keluargamu masih menuntut pelayanan dan perhatianmu secara maksimal, teruskan perjuangan itu. Ada orang-orang lain yang Tuhan panggil untuk benar-benar menjangkau ‘wong cilik’ di sekitar kita.

Photo by Steve Knutson on Unsplash

Namun dalam kasus berbeda, jika ada di antara teman-teman yang selama ini suka sibuk sendiri atau hanya berkutat dengan dunia / kesenangan / urusan pribadi, maka tidak ada salahnya benar-benar menyisihkan waktu dan tenaga untuk menengok ‘wong cilik’ di sekitar kita. Buat teman-teman yang tidak ada beban khusus dengan keluarga dan hanya sibuk mencari materi dan mempersiapkan masa depan pribadi, yuk belajar untuk melihat ke sekeliling kita (masa depan pribadi bukan tidak penting, tetapi dalam hal ini, prioritas hidup masih bisa berubah dan masih banyak ruang untuk dibagi dengan hal-hal lain, pelayanan memperhatikan ‘wong cilik’ misalnya). 

Tidak harus melakukan hal spektakuler dan tidak harus hanya di momen hari raya gerejawi. Menyumbang dana bisa jadi langkah yang paling mudah dan hemat waktu. Bisa juga mengikutsertakan mereka dalam pokok doa, atau menyumbang dalam bentuk barang secara langsung ke panti asuhan dan tempat-tempat lain yang membutuhkan. Ada banyak yang bisa kita lakukan dan tidak selalu membutuhkan usaha atau dana yang besar.

Nah, saya tidak akan membahas lebih jauh tentang berbagi kasih dengan orang-orang yang dirasa kurang mampu atau ‘wong cilik’ atau yang dianggap terpinggirkan oleh masyarakat. Kali ini, izinkan saya melihat dari sudut yang berbeda.

Photo by Ali Arif Soydaş on Unsplash

Pernahkah teman-teman menyadari bahwa kita sendiri ini juga hanyalah ‘wong cilik’ di hadapan Tuhan?

Pernahkah kita merenungkan hal ini?

Bahwa kita ini sebenarnya tidak layak? Bahwa kita ini lah orang-orang yang terpinggirkan?

Bahwa terkadang kita jauh lebih malang daripada orang-orang yang dianggap kurang beruntung?

Kita bisa saja memakai baju baru, makan mewah bersama keluarga, tersenyum kepada setiap orang, tetapi sebenarnya hati kita sangat berantakan…

Tetapi sebenarnya kita memiliki keinginan untuk menyerah…

Tetapi sebenarnya kita tidak pernah merasakan kebahagiaan yang sejati…

Pernahkah teman-teman berpikir bahwa kita ini sama dengan orang-orang lain yang kita anggap ‘wong cilik’ tadi?

Kita butuh kasih Tuhan, kita butuh pengampunan, kita butuh kabar baik itu.

Mungkin sudah setiap tahun kita merayakan momen Natal, tapi apakah kita masih selalu mengingat bahwa Yesus sudah lahir untuk kita?

Atau jangan-jangan setiap Natal tiba yang kita ingat hanyalah lelah dan rasa sakit?

Bahkan tak jarang sukacita Natal itu hilang.

Kita hanya larut dengan hingar-bingar pesta dan pelayanan namun melupakan makna yang sesungguhnya.

Boro-boro mengingat ‘wong cilik’, kita sendiri saja lelah.

Kita sendiri saja lupa, apa itu arti Natal.

Kiranya, Natal yang baru saja lewat, kembali memperbarui iman dan sukacita kita. Kiranya kita senantiasa mengingat bahwa Natal bukanlah tentang gemerlapnya pesta dan perayaan. Biarlah kelahiran Kristus membuat kita tentu memiliki pengharapan kepada Dia, di tengah segala situasi hidup.

LATEST POST

 

Buat kalian pecinta YouTube, adakah dari kalian yang merasakan hal yang berbeda di awal tahun ini? K...
by Lay Lukas Christian | 22 Jan 2021

Just imagine, or remember, if you have this kind of story of life! One day, you met your “supp...
by Timothy Aditya Sutantyo | 22 Jan 2021

Berada dalam suatu persekutuan inklusif yang membangun iman percayaku kepada Allah Tritunggal dan da...
by Jerell Michael Cussoy | 21 Jan 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER