Life as Transpuan : Sharing Session "lika liku kehidupan Transpuan", Kopdar Pemuda GKI Kelapa Cengkir, Jakarta

All About GKI, Spotlight, 05 August 2021
"Kami yang mengatasnamakan diri sebagai transpuan, tidak ingin identitas diri kami dinamai oleh orang lain. Kami punya otoritas dan hak untuk menamai diri kami sendiri. Diksi waria/wadam tidak sesuai dengan apa yang kami mau, karna jelas itu merupakan sesuatu yang berbeda"

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue soal LGBTIQ. Tentu ada begitu banyak perdebatan baik secara teologis maupun secara pribadi. Kali ini, saya berkesempatan mengikuti “Kopdar” yang diadakan oleh Pemuda GKI Kelapa Cengkir, Jakarta, yang mengusung tema yang cukup sensitif ini. "Kopdar" yang diadakan setiap hari Sabtu malam ini merupakan program kerja Pemuda GKI Kelapa Cengkir di masa pandemi. Melihat tema yang dibawakan, akhirnya saya tertarik untuk mengikutinya. Mengusung tema Life As Transpuan, kami diajak untuk melihat perspektif lain dari seseorang yang akhirnya memutuskan menjadi seorang transpuan, serta bagaimana lika-liku menjadi seorang transpuan di Indonesia ini. Sebuah tema yang sungguh sangat berani untuk diangkat ke permukaan. 



Narasumber dalam "Kopdar" ini adalah Rere Agistya, yang kerap dipanggil Rere. Rere juga aktif sebagai pegiat kesetaraan gender bagi teman teman transpuan yang ada di jabodetabek lewat sebuah komunitas bernama Sanggar Suara. Menurut kisah yang dituturkan oleh Rere, hidup sebagai transpuan di indonesia ini sama hal nya dengan teman teman kita yang LGBT, namun yang menjadi pembeda adalah teman-teman transpuan lebih terlihat di permukaan daripada yang lainnya.

Dengan memilih dan memutuskan untuk menjadi seorang transpuan, tentulah ada banyak faktor yang menjadi alasan dan latar belakang keputusan tersebut. Entah karena lingkungan, atau bahkan dari dalam dirinya sendiri sudah merasa berbeda dari keadaan biologisnya. Rere juga menceritakan bagaimana sulitnya sebagai seorang transpuan untuk berjuang mendapatkan hak-hak yang seharusnya mereka terima sebagai bagian dari masyarakat indonesia. Cerita hidup Rere saat “coming out” kepada keluarga dan kisah penerimaan keluarganya sungguh menyadarkan bahwa dari setiap kita dibutuhkan kedewasaan dan momen menerima diri,  “berdamai” dengan diri sendiri adalah aspek terpenting seorang Rere bisa ada dan bertahan sampai sekarang. 



Kondisi teman-teman transpuan di Indonesia sangat tidak mudah, mulai dari sulitnya mendapatkan akses kesehatan, serta sulitnya diakui dalam lingkungan masyarakat tertentu merupakan tantangan terbesar dan terberat teman-teman transpuan di Indonesia. Lebih mirisnya, kaum transpuan tak bisa bekerja dalam lingkup pekerjaan formal. Tak jarang akhirnya kebanyakan dari mereka hanya bekerja sebagai (maaf) seorang pekerja seks komersial dan sektor non-formal seperti kecantikan dan artis jalanan. 

Teman teman transpuan juga seringkali mendapat diskriminasi sosial dan ujaran kebencian yang kerap membuat mereka tertekan. 

Bahkan pemerintah pun memberikan label kepada teman-teman transpuan sebagai “Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial” atau biasa disingkat PMKS. Rere menuturkan juga bagaimana banyak transpuan yang akhirnya tidak memiliki zona nyaman karna terusir dari lingkungan nya termasuk dari lingkungan keluarganya. Apalagi dalam masa pandemi seperti ini, sebuah kondisi yang teman-teman transpuan pun sangat merasakan dampaknya. Bagaimana tidak? Mereka yang bekerja dalam sektor non-formal ini tidak mendapatkan pemasukan. Banyak juga kejadian diskriminasi, dan salah satunya yang paling tragis adalah kasus seorang transpuan yang dibakar hidup-hidup karena dituduh mencuri. Tak sedikit juga akhirnya ditemukan teman teman transpuan yang ditemukan tewas di tempat tinggalnya.



Sebagai orang awam, mungkin sering kali kita menyebut atau memanggil teman-teman transpuan di dalam penyebutan-penyebutan kasar dan kurang sopan seperti waria, banci atau bencong. Rere menjelaskan juga pada setiap kita bagaimana banyak orang kadang kesulitan untuk menyapa teman-teman transpuan dengan julukan yang lebih enak didengar. Maka dari itu, Rere menyarankan sebaiknya ketika kita hendak menyapa teman teman transpuan dengan panggilan “kakak” dan kemudian bertanya kepada yang bersangkutan hendak dipanggil seperti apa. Dibutuhkan proses yang panjang memang  untuk bisa menerima teman-teman transpuan. Rere berpesan bahwa, 

“Kami yang mengatasnamakan diri sebagai transpuan, tidak ingin identitas diri kami dinamai oleh orang lain. Kami punya otoritas dan hak untuk menamai diri kami sendiri. Diksi waria/wadam tidak sesuai dengan apa yang kami mau, karna jelas itu merupakan sesuatu yang berbeda”. 

Namun Rere pun tak bisa memaksakan bagaimana stigma yang sudah terbangun. 



Menarik ketika akhirnya acara ini dibanjiri dengan banyak pertanyaan dari audience yang awam yang ingin mengetahui teman-teman transpuan lebih lanjut. Sebuah info juga yang saya tanyakan berangkat dari rasa penasaran saya adalah soal transpuan Preoperative dan Postoperative. Teman-teman transgender yang belum melakukan operasi biologis disebut Preoperative dan yang sudah melakukan operasi biologis disebut Postoperative. Walaupun hal ini cukup sensitif dan kurang tepat dan sopan untuk ditanyakan, tetapi bersyukur Rere dapat menjelaskan dan memberitahunya pada kita semua. Diskusi ini pun semakin seru dan berlanjut dengan pertanyaan bagaimana ruang lingkup keagamaan menjadi wadah “safe place” untuk teman-teman dari kaum gender minoritas. Tentu bukanlah hal yang mudah untuk membahas topik soal transpuan ini, apalagi berbagi cerita di dalam sebuah wadah sharing yang bernuansa keagamaan seperti ini. Namun, teman teman pemuda GKI Kelapa Cengkir berani dan mampu mengangkat topik ini. Para peserta yang hadir juga cukup suportif. Para peserta bukan hanya berasal dari GKI Kelapa Cengkir, tetapi juga berasal dari luar jemaat muda GKI Kelapa Cengkir. Bahkan ada pula teman transpuan yang ikut men-support acara ini. Menariknya, dalam diskusi tersebut, hadir Pdt. Steven Suleeman yang juga adalah Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Theologia Jakarta yang juga concern membahas topik soal LGBT. Bicara soal “safe place” bagi teman teman kaum gender minoritas seperti transpuan ini, Rere beranggapan bahwa ruang lingkup keagamaan mestinya menjadi ruang aman untuk setiap teman-teman transpuan  bertemu dan berjumpa dengan Tuhannya dan saling sharing perjalanan imannya.



Ditambahkan oleh Pdt. Steven, teman-teman yang memiliki orientasi gender yang berbeda ini seharusnya disambut dengan baik di dalam komunitas kita, gereja kita, sama seperti orang-orang lain karena mereka juga bagian dari kita. Jangan karena orientasi gender yang berbeda, kita menolak mereka dan merasa mereka adalah orang-orang yang abnormal. Kita juga sebaiknya menghindari istilah-istilah kuno seperti bencong dan waria agar sama-sama menjaga perasaan satu dan lainnya. Teman-teman yang berbeda gender ini seringkali merasa takut, bahkan sangat takut dihakimi oleh teman-teman dalam komunitas gereja.



Kopdar ini adalah sebuah diskusi yang akhirnya membuka pandangan saya bagi teman-teman LGBT, termasuk transpuan. Terlepas bagaimana pandangan IGNITE People sekalian memandang topik ini, menurut saya sudah saatnya bagi gereja untuk juga membuka diri seluas-luasnya dalam menyambut teman teman kita yang dianggap “berbeda” dalam lingkungan sosial. Sudah saatnya gereja menjadi ruang yang ramah dan nyaman bagi setiap orang. Sudah saatnya juga masing-masing kita menjadi teman dan sahabat yang menerima dan menyambut teman-teman yang berbeda gender ini tentunya tetap dengan hikmat dari Tuhan. Teman-teman kita yang dianggap “berbeda” sejatinya tidak sepenuhnya berbeda. Mereka masih sama seperti setiap kita. Tanpa membeda-bedakan mereka, atau lebih parahnya mengutuk mereka, karena perbedaan pilihan hidup yang dimiliki. Terlepas juga bagaimana pandangan dosa atau tidak serta bagaimana  perjalanan keimanan teman teman kita ini, bukanlah bagian kita untuk menjadi hakim bagi mereka. Biarlah itu menjadi bagian dan otoritas Tuhan. Bagian kita adalah tetap mengasihi, tetap menjadi teman yang mendukung, mendorong untuk maju, dan memeluk teman teman kita sebagai satu komunitas. 


Soli Deo Gloria!

LATEST POST

 

Hidup ini seperti merangkai puzzle, karena kita akan merangkai kepingan demi kepingannya agar menja...
by Yessica Anggi | 05 Dec 2021

Hallo, gengs! Hmm, filsafat... Filsafat mungkin terdengar menarik sekaligus “mengerikan”...
by Rain Bow Hutabarat | 05 Dec 2021

Bayangkan sebuah dunia di mana kita tak dapat melihat.Sebuah dunia di mana kebutaan merupakan suatu...
by Primaridiana Pradiptasari | 28 Nov 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER