True Faith

Going Deeper, God's Words, 11 January 2022
Iman adalah penurutan terhadap kehendak Allah. Iman tidak cukup dimulai dengan hanya mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah tetapi bersedia menuruti secara mutlak kehendak-Nya.

Ke-kristenan tidak akan lepas kaitanya dengan iman. Iman seringkali menjadi perkataan yang sering didengar baik dalam ibadah maupun kehidupan sehari-hari. Bahkan kata iman dan percaya sering terdengar dan dipercakapkan di kalangan orang beragama. Bukan hanya orang yang beragama Kristen tetapi juga non-Kristen.

Iman merupakan pokok pengajaran yang penting. Iman sendiri berkaitan dengan keselamatan. Alkitab menyatakan: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh Iman;itu bukan hasil usahamu,tetapi pemberian Allah” (Efesus 2:8 )

Apakah iman itu? Kalau memandang dari sudut pandang ke-kristenan, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, iman berarti kepercayaan yang biasanya ditunjukan kepada Tuhan dan Kitab Suci atau ketetapan hati dan keteguhan batin. Bedanya antara beriman dan percaya adalah, percaya biasanya digunakan secara umum, dan beriman secara khusus ditujkan antara umat dan Tuhan. Jadi pada dasarnya percaya kepada Tuhan sama artinya dengan beriman kepada Tuhan.

Dalam Bahasa Yunani kata “Iman” diterjemahkan dari Pistis  yang artinya kepercayaan atau penyerahan kepada seseorang. Kata kerja dari Pistis adalah Pisteuo yang mempunyai pengertian percaya kepada, mempercayakan diri, atau menyerahkan diri kepada suatu objek (dalam hal ini tentu Tuhan).

Jenis-Jenis Iman

Dalam Alkitab terdapat banyak sekali kata iman yang tentu memiliki pengertian berbeda dan konteks yang juga berbeda, saya akan membagi dalam 3 jenis Iman, seperti berikut:

  • Iman Keyakinan

Ini adalah iman yang bertalian dengan keyakinan atau harapan terhadap sesuatu yang bisa terjadi dan terwujud jika diyakini atau diharapkan dengan kuat. Kalau kita melihat banyak mukjizat terjadi karena iman ini, bahkan seringkali jika kita membaca dalam Alkitab banyak kisah yang menunjukan iman jenis ini, Tuhan Yesus pun mengajarkan kepada para murid untuk memiliki iman ini.

Jadilah kepadamu menurit imanmu perkataan Yesus ini ditujukan kepada orang buta yang meminta supaya matanya dicelikan,kekuatan iman orang buta ini menyembuhkan mata orang buta tersebut” [Matius 9:29]

Dan berbagai kisah seperti seorang wanita yang sakit pendarahan selama 12 tahun (Matius 9: 21-22) serta perwira Romawi.

Kalau melihat hari–hari ini, jenis iman keyakinan ini seringkali diajarkan di gereja ‘secara berlebihan dan tidak proposional’. Seolah-olah dengan iman manusia bisa memperoleh yang mereka inginkan. Bahkan dikesankan seakan-akan Tuhan tidak berdaya dengan umat yang memiliki iman jenis ini dan Tuhan bisa diatur oleh kekuatan dan keyakinan dalam pikiran manusia.

Bahkan banyak orang kristen yang ekstrim sampai-sampai melakukan hal yang aneh dalam mengingini sesuatu dengan dasar iman seperti mengingini mobil yang baru dan memegang mobil tersebut serta berkata dengan iman dan dalam nama Yesus jadi punya saya! Kalau kita melihat kisah yang saya bicarakan tadi mereka semuua belum percaya kepada Yesus. Justru konteksnya adalah Tuhan mengunakan momentum ini untuk membuktikan bahwa Akulah Tuhan Allahmu (Yohanes 3:2).

  • Iman Persetujuan Pikiran

Iman jenis ini bertalian dengan persetujuan pikiran, yaitu menerima sesuatu sebagai suatu kebenaran atau pengaminan secara akal atau bahasa mudahnya ‘pokoke percoyo’ (pokoknya percaya). Iman adalah suatu tindakan. Kalau seseorang mengaku beriman tetapi tidak ada tindakan yang menunjukkan imannya, berarti ia pembohong (Yakobus 2:17-18).

Banyak orang kristen berpindah agama sebab mereka tidak mengenal kebenaran Alkitab. Mereka merasa memiliki iman tetapi tidak mengenal apa dan siapa yang diimaninya. Ini berarti iman yang Palsu! Contohnya, memang persetujuan pikiran bisa menjadi langkah awal seseorang belajar mengenal Tuhan yang benar bahkan tanpa persetujuan pikiran orang tidak akan berani melangkah untuk berani belajar mengenal Tuhan. Tetapi ini tidak cukup sebab kalau tanpa tindakan nyata untuk belajar firman Kristus maka tidak pernah ada iman yang benar.

Seperti pasangan suami-istri yang baru menikah sedang membuat perencanaan hal-hal yang harus dibelanjakan selama 1 bulan. Anggaran dana sudah dibuat secara sistematis mulai dari kebutuhan pokok sampai membeli pakaian. Jika pasangan suami–istri ini hanya merencakan tanpa mereka melakukan tindakan untuk membeli kebutuhan selama 1 bulan, apakah dengan sendirinya mereka akan bisa bertahan hidup? Begitu juga dengan iman!


  • Iman Keselamatan

Iman jenis ini adalah iman yang bertalian dengan keselamatan. Iman jenis ini  bukan sekadar pengaminan secara akal  atau persetujuan pikiran tetapi berupa tindakan konkret dan inilah iman yang menyelamatkan itu. Dalam memahami iman bukan hanya sekadar kepercayaan secara persetujuan pikiran tetapi juga aspek hubungan antara umat dan Tuhan. Umat sebagai subjek yang percaya dan Allah sebagai sebagai objek kepercayaanya.

Banyak orang Kristen merasa sudah beriman hanya karena Tuhan itu ada. Apakah ini benar? Dalam Yakobus 2:19, setan pun percaya bahwa Tuhan itu ada dan ketakutan. Namun setan tidak memiliki hubungan yang benar dengan Tuhan bahkan setan memberontak dan ingin seperti Allah. Dalam hal ini setan bukan dikatakan sebagai pribadi yang beriman kepada Tuhan walau ia percaya bahwa Allah itu ada!

Beriman kepada Allah bukan hanya mengakui statusnya tetapi juga penyerahan diri kepada kehendaknya yang terlihat dalam tindakan yang nyata. Banyak orang berteori tentang Tuhan tetapi dalam praktiknya tidak. Sebut saja Teis Teoritis (bertuhan secara pikiran) tetapi dalam perbuatanya Ateis Praktis.

Kalau seorang mengaku beriman, itu harus diukur dari kualitas hubungannya dengan Tuhan. Kualitas hubungan dengan Tuhan nampak dalam karakternya sehari-hari. Jikalau seseorang pandai dalam menjabarkan Alkitab tetapi perilakunya tidak sesuai, SAYA KATAKAN MEREKA PEMBOHONG TOTAL!

Roma 10:17 “Rhema” (iman datang dari mendengar rhema dan melahirkan kehidupan iman yang benar)

  • Iman Sejati

Iman yang sejati adalah iman yang bertumpu bahwa semua yang Tuhan kehendaki untuk dilakukan dan dialami, dan apa yang yang Tuhan kerjakan adalah yang terbaik. Ini berarti seseorang yang memiliki iman sejati tidak akan bersungut-sungut dalam segala keadaan.

Bahwa Allah bekerja dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan

 

bagi orang yang mengasihi Dia” (Roma 28:8)

Iman yang sejati kita bisa melihat dalam pribadi Tuhan Yesus melalui pergumulanya di Taman Getsmani dengan pengakuan: Bukan kehendaku yang jadi, tetapi kehendakmulah yang terjadi ( Mat 26: 39-44). Tuhan Yesus menunjukan ketaatan kepada Bapa menjadi contoh yang sempurna bagi umat Kristen. Kehidupan seperti itulah yang Tuhan Yesus kehendaki bagi kita semua. Tanpa ketaatan, seseorang tidak mungkin bisa beriman kepada Tuhan. Seperti anak kepada orang tua, bagaimana orang lain bisa melihat kita cinta dengan orang tua kalau kita sering tidak menghiraukan mereka. Tanpa ketaatan kepada Kristus, seseorang belum memiliki iman yang benar!

  • Apa itu Iman yang Benar ?
  1. Iman adalah penurutan terhadap kehendak Allah. Iman tidak cukup dimulai dengan hanya mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah tetapi bersedia menuruti secara mutlak kehendak-Nya.
  2. Iman yang benar bukan hanya sekadar kita berteori tentang Tuhan. Namun semuanya harus terpancar lewat karakter kita yang harus seperti karakter Tuhan Yesus.

Allah Tritunggal Memberkati saudara sekalian.


LATEST POST

 

Artikel ini merujuk pada Roma 3:9-12.Akhir-akhir ini, perselingkuhan seolah-olah menjadi “tren...
by Sandra Priskila | 28 Nov 2022

“MANTRAAAA.... AJI!!”Masih ingat dengan tokusatsu fenomenal era 90-an ini? Sebuah tayang...
by Alviedo Yuda | 28 Nov 2022

... namun, apakah dosa hanya sekadar perbuatan jahat saja? bagaimana proses manusia bisa jatuh dalam...
by Samuel Semeion | 25 Nov 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER