Besi yang Dibengkokkan: Mengikut-Nya setelah Panggilan Ketiga

Going Deeper, God's Words, 03 August 2019
Saat Anda melihat TUHAN itu jahat, cobalah untuk melihat dari sudut pandang-Nya. Mungkin, TUHAN memiliki rencana yang lebih indah.

Apa yang terpikir oleh kamu tentang masa depan? Tentu, sebagai manusia normal, kita menginginkan masa depan yang cerah, bagai berlian yang terkena lampu sorot konser Sheila on 7. Pun dengan saya. 

Harapan dan cita-cita itu ada saat saya ada di jenjang SMA. Saat ditanya, “Lukas, apa cita-cita kamu?”, saya menjawab dengan lantang, “Duta Besar, Bu! Saya mau mengambil jurusan Hubungan Internasional di Bandung, lalu mau menjadi duta besar Indonesia di Eropa atau di negara-negara Oceania, Bu.” Untuk mereka yang masih berada di kelas 11 (2 SMA) ini adalah hal yang terlalu tinggi untuk dipahami bagi mereka. Namun di kelas 12, cita-cita ini hancur, bak kapal Titanic yang menghantam gunung es! Saya harus berhadapan dengan masalah di keluarga saya. Masalah yang terpendam, mungkin sejak zaman saya masih berpakaian putih biru. Kesulitan ekonomi keluarga saya dimulai, dan saya harus mengubur cita-cita. Berhenti di situ? Tidak! Saya hampir tidak dapat meneruskan studi saya ke jenjang sarjana. Hal yang memalukan untuk saya, yang selama berada di jurusan IPS, tidak pernah lengser dari peringkat satu paralel.

Saya pun “banting kemudi” mencari universitas negeri yang kira-kira menyediakan beasiswa dan berbiaya murah. Mata saya langsung terarah pada UGM. Ya, Universitas Gadjah Mada, di Yogyakarta, yang pada kelanjutan cerita hidup saya menjadi batu lompatan saya untuk mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi. Saat saya belajar di UGM, seratus persen biaya studi saya ditanggung negara dalam bentuk beasiswa Bidik Misi. Saya pikir, inilah jalan Tuhan bagi saya. Namun, belum setahun saya belajar di jurusan Manajemen UGM, saya mendapatkan panggilan pertama saya untuk banting setir lagi menjadi Hamba Tuhan alias Pendeta. First calling  ini saya tolak mentah-mentah, karena bagi saya UGM juga merupakan jalan Tuhan, dan bentuk syukur saya adalah belajar dengan sebaik-baiknya di UGM, hingga lulus dan diterima kerja.


Semester demi semester saya lalui, hingga sampailah saya di semester tujuh. Proposal skripsi saya sudah jadi dan siap untuk ditulis dan diteliti. Kejutan kembali datang, saat saya mendapatkan second calling saya. Tepatnya 31 Desember 2015 di SAAT, Malang. Saat itu saya mengikuti KKR yang dibawakan oleh Pdt. Benny Sholikhin, saya yang keras kepala ini kembali 'berusaha menolak' panggilan yang datang lagi. Kali ini lebih ekstrem. Seakan ada yang mengganjal mata saya, saya tidak dapat menutup mata, dan melihat ratusan remaja, yang menyerahkan diri kepada Tuhan untuk menjadi hamba-Nya. Mata yang tidak tertutup ini akhirnya mengeluarkan air matanya, saat ada suara yang berkata “Mereka saja mau dan berani ambil keputusan ini, masak kamu enggak? Lupakah kamu pada pertolongan Tuhan di UGM?”. Akhirnya, saat itu saya memutuskan untuk menggumuli panggilan Tuhan, sempat tersirat, apakah panggilan ini hanya emosi belaka.


Saya melompat langsung pada 25 Agustus 2017, tanggal yang saya tidak pernah lupakan. Skripsi saya diuji di ruang sidang. Pengumuman yang menyatakan saya lulus diberikan sekitar pukul 18.00. Salah satu dosen bahkan langsung menanyakan keinginan saya untuk melanjutkan studi S2 di Australia, dan kemudian kembali ke UGM sebagai dosen. Sontak saya katakan, “ Saya mau, Bu!” Ya, saya lupa terhadap panggilan saya, dan melamar di salah satu perusahaan media nasional, hingga diterima langsung sebagai Associate Manager HR, dengan tawaran gaji dan fasilitas yang bukan hanya tinggi tetapi tidak masuk akal. Seorang lulusan baru mendapatkan pekerjaan, bahkan saat ijazahnya belum dicetak adalah titik tertinggi saya.

Ternyata Tuhan punya cara lain. Layaknya besi yang dibengkokkan, Tuhan memberi saya “hadiah” berupa penyakit stroke yang hingga sekarang saya anggap sebagai hadiah terindah dari Dia. Saya mengubur impian saya, yang saya sudah bangun hampir 6 tahun sebelumnya. Kecewa? Pasti! Siapa yang tidak kecewa dengan kondisi seperti itu. Tetapi ternyata ini jalan yang Tuhan mau. Tuhan mau, Lukas menjalani panggilan-Nya dengan taat dan setia sampai di garis akhir nanti, Lukas yang tidak lagi berlari kesana kemari, layaknya seorang anak, saya digendong kembali oleh Ayah saya ke jalan yang Dia tunjukkan, walaupun jalan yang diambil oleh sang Ayah berbeda kehendak dengan si anak.


Tidak selesai sampai di situ, jalan untuk mempersiapkan diri saya menjadi pribadi yang berada di gendongan Sang Ayah ternyata juga masih panjang, bahkan berliku. Sejujurnya saya lelah, saya mulai berpikir negatif, “Apa iya, Dia mau saya melayani sepenuh waktu?”. Namun saya berhenti pada satu titik, yang menyadarkan saya, bahwa TUHAN tahu apa yang saya butuhkan dan jalan mana yang harus saya lalui.


Bukan TUHAN yang butuh saya, tetapi saya yang perlu TUHAN untuk menggandeng pribadi keras kepala ini. Ya, selayaknya besi yang dibengkokkan, pribadi Lukas yang sombong itu dihancurleburkan dan diminta untuk kembali pada jalan yang mula-mula. Philip Yancey pernah menulis tentang Ayub, dalam bukunya Kekecewaan kepada Tuhan (Disappointment with God); dalam salah satu babnya, Yancey mengatakan, karya Tuhan tidak dapat dinilai dengan mata manusia, bahkan Ayub sekalipun. 

Saya mendapat satu pesan yang Tuhan mau atas hidup setiap kita, bahwa Tuhan sudah dan akan terus menuntun kita pada jalan yang sudah Ia persiapkan. Pertanyaannya, maukah kita mengikuti jalan itu, atau perlu dibengkokkan dulu, selayaknya besi yang dipaksa bengkok, agar kita tetap pada jalan-Nya? Apakah yang akan kita putuskan? Ingatlah, Tuhan tidak pernah gagal dalam rencananya. Manusia boleh bermimpi, tetapi Tuhan yang berhak atas diri kita seratus satu persen. Masihkah kita mau mencari jalan sendiri dan menunggu Tuhan berbicara: ”Hei, kamu, jalanmu salah! Kembali ke sini!”, dengan berbagai “kejutan” yang Dia berikan? Kiranya Tuhan menolong kita untuk mengerti panggilan-Nya, dan lebih dari itu menjalaninya dengan serius, di bidang apapun yang Tuhan telah titipkan pada kita. Tuhan Memberkati.

LATEST POST

 

Kalimat itu terus terbesit dalam benak saya malam  itu di dalam kesendirian saya di kamar kos s...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 15 May 2021

Tidak ada seseorang yang sempurna untuk dicintai.Kamu akan menemukan orang-orang yang tidak sempurna...
by Monica Petra | 15 May 2021

Tujuh tahun yang lalu, ketika salah seorang sahabat terdekat saya meninggal dunia karena pesawat yan...
by Primaridiana Pradiptasari | 15 May 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER