Memilih Mendengar atau Melayani?

Best Regards, Fiction, 25 July 2019
Pelayan atau Pendengar? Please focus on God!

“Tuhan Yesus, Malam ini Jane mengucap syukur atas penyertaan yang telah Engkau berikan sepanjang hari ini. Jane bersyukur atas berkat-Mu hari ini ya Tuhan. Sekarang Jane mau menutup mata dan beristirahat, kiranya penyertaan-Mu selalu tinggal dalam Jane, juga mami dan papi. Terima kasih ya Tuhan. Dalam nama Tuhan Yesus, Jane berdoa, amin.”


Kemudian Jane menuju tempat tidurnya dan memejamkan matanya untuk beristirahat.

***

Pagi itu matahari bersinar sangat cerah…

“Aduh, silau sekali,” kata Jane saat membuka matanya.

“Ah sial, sudah jam 07.15 aku terlambat ibadah pagi. Padahal udah janjian mau duduk sebelahan sama Aryo dan Eka Tapi ya udahlah nanti aku berangkat agak awal saja biar bisa ketemu mereka dan minta maaf,” kata Jane dalam hati saat melihat jam dinding di atas meja belajarnya.

Ibadah siang dimulai pukul 9 pagi. Namun karena rasa bersalahnya, Jane sampai di Gereja pukul 8.30 dan langsung mencari Aryo dan Eka. Memang mereka bertiga sahabat dari kecil. Bahkan sudah seperti saudara sendiri karena memang orang tua mereka satu keluarga, keluarga penatua gereja.

Pada jam-jam segini, gereja memang masih ramai dengan jemaat yang baru saja pulang dari ibadah pagi. Jane sedikit kesusahan menemukan mereka. Namun ya itu tujuannya berangkat pagi, agar mereka belum pulang terlebih dahulu. Setelah mengelilingi gereja dan mengecek ruangan yang ada, Jane menemukan mereka di samping kantor. Terlihat dari jauh mereka sedang membicarakan hal yang sangat serius. Jane kemudian mendekati mereka. Upsiee… ternyata Aryo sedang memarahi Eka.


Ketmau rika ngendi bae hah (Dari tadi kamu ke mana saja hei)!” bentak Aryo

Aku ketmau nang Gereja yambok, dikirane si nang endi (Aku dari tadi di Gereja ya kan, kamu kira di mana)?!”

Anu ngapa si janenane (Ada apa sih ini sebenarnya)?” sahut Jane yang baru datang

Mbuh kieh kakange (Ga tahu nih mas satu ini)!.” jawab Eka

Brisik lah koe, mbeke teka usah melu-melu (Berisik aja kamu,, baru datang tidak usah ikut campur)!.” kata Aryo dengan marah

Perdebatan mereka masih berlanjut, akhirnya Jane masuk ke kantor dan mencari bapak pendeta untuk melerai.

“Koko Edward, maaf nih menggangu. Itu di samping kantor Aryo sama Eka lagi marahan, Koko bisa bantu?”

“Mungkin bisa, tapi sebentar saja karena ibadah mau dimulai.” jawab beliau.

“Iya Ko, terima kasih Ko.”

“Aryo, kenapa kamu marah marah?” tanya bapak Pendeta.

“Gini loh Ko, jadi tuh tadi aku liat Pnt. Wiwi angkat snack sama galon. Aku kan kasihan ya jadi aku bantu. Eh malahan si Eka diem aja duduk dengerin khotbah, dan ngga ikut bantuin. Ngga ada penegertiannya. Anak-anak KPR yang cewek juga pada mbantuin angkat-angkat, eh dia yang cowo duduk diam sebagai jemaat yang baik” jawab Eka.

“Jadi gini, koko tahu mungkin kamu kesel. Tapi dalam sebuah pelayanan kamu itu harus ikhlas, toh kamunya juga yang mau. Singkatnya pelayan dan pendengar itu seperti sepasang sepatu. Bentuknya tidak sama persis tapi serasi, jangan jadikan perbedaan itu menjadi pemisah untuk saling menyalahkan. Berjalan tidak pernah kompak tapi memiliki arah tujuan yang sama, kalian sama-sama bertujuan kepada Tuhan bukan? Kamu ingin melayani-Nya, sedangkan Eka ingin lebih mengenal-Nya. Bila salah satu hilang maka yang lain tidak ada artinya. Kamu membayangkan tidak, bila semua jemaat melayani Tuhan? Bukankah kursi-kursi gereja akan kosong? Atau mungkin semua pelayan menjadi jemaat? Nanti siapa yang akan membawakan Firman? Tidak salah kamu ikut melayani atau menjadi jemaat. Namun yang terpenting adalah kesiapan hati kalian dalam melayani itu atau mendengarkan Firman. Fokus kalian dalam melaksanakannya apakah untuk Tuhan atau untuk diri kalian sendiri.”

“Maaf k=Ko, aku salah...” jawab Aryo dengan mata berkaca-kaca.

“Udah lah. Ayo, ibadah sebentar lagi dimulai. Eka, Aryo, mau ikut ibadah lagi ngga? Dan Jane, Koko kayaknya belum liat kamu ibadah pagi ini.”

“Siap ko, OTW!” Jawab Aryo, Eka dan Jane bersamaan.


Lima menit lagi lonceng tanda persiapan ibadah akan berbunyi, dan mereka bertiga sudah duduk manis di bangku bagian depan.

…. 1 ….


…. 2 ….


…. 3 ….


KRINGGGGG…….. KRING…. KRING…… KRING….

Alarm pagi Jane membangunkannya dari mimpi. Untung masih pukul 6 pagi. Jane segera berangkat menuju gereja. Di sana Jane langsung mencari Eka dan Aryo, sahabatnya. Beruntunglah mereka tidak sedang berdebat seperti dalam mimpinnya. Jane menghampiri mereka sambil tersenyum-senyum sendiri, tidak heran bila mereka dibuatnya bingung.


Dalam saat heningnya Jane berdoa:

“Tuhan, Terimakasih kami panjatkan,

atas sahabat yang telah Engkau berikan,

damai yang tidak luput Engkau sertakan,

atas semua yang telah Engkau lakukan,

berserta kami dalam setiap pergumulan,

Tinggal dalam setiap perenungan,

berilah kami senantiasa hikmat atas segala pilihan,

agar kami selalu berfokus pada tujuan,

selamanya bagi-Mu segala kemuliaan”

LATEST POST

 

Kita semua tentu tidak asing dengan DC Comics—salah satu perusahaan komik terbesar di Amerika...
by Febrian Eka Sandi Nugroho | 09 Oct 2019

Beberapa tahun lalu, saya mengerjakan penulisan untuk sebuah majalah ‘untuk kalangan Kris...
by Sobat Anonim | 09 Oct 2019

Kekacauan di Indonesia yang terjadi beberapa pekan terakhir melukai hati saya. Bisa dibilang, setiap...
by Eleazar Evan Moeljono | 05 Oct 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER