Cara Melawan Rasa Iri dan Cemburu

Best Regards, Live Through This, 07 August 2020
Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain. -Galatia 6:4

Suatu hari, Miki Tikus meninggalkan zona nyamannya, dengan menjadi wartawan magang di sebuah redaksi Harian Kota Tikus. Beberapa tugas ia ambil. Rata-rata setiap pekerjaan yang diterima dari pemimpin redaksinya sangat berat. Ambil contoh, Miki harus menulis artikel tentang kucing yang bisa mengeong hingga sepuluh kali dan harus menulis tanpa huruf K. Saking beratnya tugas-tugas yang Miki terima, sang penjaga apartemen bernama Trigger mencemburuinya. Trigger iri dengan Miki yang begitu pulang langsung tidur nyenyak, sementara Trigger harus menjagai apartemen siang dan malam.

Sampai di situ aku tertawa membaca salah satu judul dalam komik Paman Gober Edisi Tematis: Wizard of Mickey IV, Dunia Baru (ceritanya berada di halaman 157). Padahal, seandainya Trigger tahu, Miki bisa saja iri dengan Trigger yang seharian rebahan, sementara Miki harus berkutat di depan laptop dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore. Bahkan Miki harus berjalan-jalan di jalan raya demi menghitungi lubang jalan.

Well, itu kisah yang sangat bagus dari sebuah komik yang kubaca saat aku kuliah dulu. Cerita itu cukup berhubungan dengan pengalaman sehari-hari kita, sebab ini memunculkan pertanyaan: Bukankah kita suka seperti itu? Kita mudah mencemburui orang lain yang hidupnya lebih enak--menurut ukuran kita. Padahal kita tak tahu saja apa yang baru ia hadapi demi kenikmatan-kenikmatan yang kita tangkap dengan kedua mata kepala kita sendiri. Ah, sungguh rumput tetangga jauh lebih indah daripada rumput sendiri.

 


Masalah yang satu ini ternyata sudah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu. Sampai-sampai Tuhan--melalui Musa--melarang umat Israel untuk tidak mengingini kepunyaan sesama kita (Keluaran 20:17). Aku tidak tahu pasti apa yang mendasari keluarnya larangan seperti itu di dalam dua loh batu. Namun, pastinya Allah mengetahui isi hati setiap umat Israel. Mungkin saja di era tersebut banyak di antara umat Israel yang saling iri dan sirik, yang kita tahu rasa iri bisa mendorong kita untuk membunuh atau mencuri.

Itu sama seperti Kain yang membunuh Habel karena persembahan Kain tak dilirik. Atau, saat Ribka mengerjai suaminya sendiri karena iri dengan perlakuan Ishak yang memberikan privilese yang sangat istimewa ke Esau. Contoh lainnya, Yusuf terpaksa dijual ke Mesir karena dicemburui oleh sepuluh saudaranya. Kalau diteruskan, bisa panjang. Ada cukup banyak kasus iri di dalam Kitab Kejadian. Bahkan, Abraham saja pernah bermasalah dengan perasaan iri. Ingat saat Hagar dan Ismael diusir? Nah itu dia!

Tampaknya perasaan iri atau cemburu itu bisa menjadi berbahaya. Dari iri, mata seseorang jadi buta, lalu khilaf. Sejak jaman Perjanjian Lama hingga era Modern, kalau kita tak bisa mengendalikan perasaan tersebut, kita bisa terseret ke berbagai pengalaman-pengalaman tidak menyenangkan. Kadang, di situ aku berpikir lumayan keras bahwa mungkin karena itulah Allah meminta kita untuk tidak mencemburui sesama kita dalam dua loh batu yang kita kenal sebagai tabut perjanjian.

Maka dari itu, jika perasaan iri datang, kita mungkin bisa menampar diri kita sendiri untuk tidak iri dengan sesama kita. Maksudnya, selalu ingat bahwa Tuhan memiliki rencana khusus bagi hidup kita. Fokus saja ke hidup kita.


Omong-omong, aku bukannya bilang perasaan iri itu jahat. Biar bagaimanapun, sejak zaman di Kejadian, perasaan iri dan cemburu sudah ada. Dosa pertama saja terjadi karena rasa iri juga. Ingat bagaimana Adam dan Hawa tergoda oleh bujukan ular. Iri adalah suatu perasaan yang normal. Aku saja yang menuliskan ini saja pernah iri. Yang jadi masalahnya ialah jangan sampai mata digelapkan oleh rasa iri.

Mengambil kisah Miki Tikus tersebut, kalau kalian pernah baca juga, pada akhirnya karena terdorong rasa iri si Miki Tikus bisa melakukan tindak pencurian. Kita harus mengendalikan rasa iri agar tidak sampai jatuh dalam dosa. Memang ini tak mudah. Aku sampai sekarang masih suka cemburu dengan hidup orang lain. Aku suka iri dengan seorang temanku yang tiap minggu sering bergonta-ganti motor--ditambah lagi ada satu perempuan cantik duduk di belakangnya. Makanya, aku bilang tak mudah untuk mengendalikan rasa iri tersebut. 

Akan tetapi, ada beberapa ayat yang mengingatkan aku akan bahaya rasa cemburu tersebut.

-Amsal 14:30 Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.

-Yakobus 3:14-16 Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran!  Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas,  tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan. Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.

-Amsal 23:17-18 Jangan iri hati terhadap orang yang berdosa. Hormatlah dan takutlah kepada TUHAN dengan sepenuh hati supaya masa depan kamu terjamin dan harapan kamu tidak hilang.

-Ayub 5:2 Sesungguhnya, orang bodoh dibunuh oleh sakit hati, dan orang bebal dimatikan oleh iri hati. 

Dan, ini satu ayat pamungkas yang sangat aku favoritkan, yang menurutku sangat berhubungan dengan slogan "Buang Insekyur dengan Bersyukur", simak yah.

Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni  dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan.
1 Petrus 2: 1-2

Aku punya tips. Jika rasa iri datang menyerang, coba lakukan terapi ini. Berdiam dirilah sejenak. Kita flashback lagi apa saja yang sudah kita lalui. Berikan penghargaan untuk setiap perbuatan/karya sederhana yang pernah kita lakukan. Meskipun itu hal sepele, namun apakah kita sudah menghargainya? Selanjutnya, fokus saja kepada segala hal yang kita bisa lakukan, dan kerjakan  setiap halnya sama seperti kita tengah melakukannya untuk Tuhan. 

Mari kita aminkan, dan tundukan kepala kita!





LATEST POST

 

"Kala kucari damaihanya kudapat dalam Yesuskala kucari ketenanganhanya kutemui di dalam Yesusta...
by Grifith Mercia | 25 Nov 2020

Kalau saja namanya bisa ditukar dan menjadi keadaan ibunya, Gia akan senang hati menukarnya walau mu...
by Surya Hadi | 25 Nov 2020

Pagi itu, aku hendak berangkat ke gereja dan melihat ada yang berbeda dari helm papaku. Ada stiker b...
by Emmanuela Angela | 25 Nov 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER