Kaum Muda Kristen yang Kekinian, Kaum Muda yang Tidak Apolitis

Going Deeper, God's Words, 11 April 2019
Gereja perlu mempersiapkan kaum muda untuk terlibat dalam perhelatan politik negara ini.

Pemilu yang akan diikuti oleh seluruh WNI—yang berusia di atas 17 tahun—tanggal 17 April mendatang telah menarik perhatian berbagai kalangan, salah satunya Gereja. Walau demikian, hanya beberapa Gereja yang memberikan bentuk kepeduliannya, salah satunya melalui ibadah bernuansa nasionalis atau seminar politik. Kegiatan ini tentu patut diapresiasi umat Kristiani, agar Gereja dapat terus mengembangkan sikap kritis dan optimis terhadap politik. Tapi mengapa kedua hal ini dibutuhkan?

Kita perlu menyadari dan mengakui bahwa terdapat anggapan tabu yang berkembang di dalam Gereja untuk membicarakan hubungannya dengan politik praktis. Banyak Gereja yang memilih tidak mencampuri urusan politik agar menunjukkan sikap netral. Julianus Mojau, penulis buku Teologi Politik Pemberdayaan, menganggap sikap semacam itu muncul karena pemahaman bahwa Gereja bukanlah komunitas iman politis. Namun di sisi lain, ada cukup banyak Gereja yang memberikan suara kepada pasangan calon tertentu.

Tentu saja ketidakjelasan keterlibatan Gereja menyulitkan umat Kristiani untuk mengkritisi permasalahan politik di negara ini dengan tetap menggunakan landasan imannya. Alih-alih menjaga netralitas, Gereja justru semakin sulit untuk bertindak dan menanggapi beragam isu politik yang bergulir. Padahal dalam tiga tahun terakhir, kondisi politik di Indonesia sedang dipenuhi isu ini—yang berpotensi menimbulkan perpecahan di tengah kemajemukan masyarakat. Apabila sikap itu tetap dipertahankan, maka Gereja akan terus hadir tanpa pengaruh yang signifikan—atau setidaknya, kurang signifikan di tengah pergumulan hukum dan politik di negara ini.

“Bila demikian, lantas apa yang harus kita lakukan sebagai orang percaya?”


Photo by on Unsplash

Gereja, termasuk kita, perlu menyadari bahwa politik memiliki kairos (momen, kesempatan) yang perlu dioptimalkan untuk menghadirkan transformasi sosial. Sebagai warga negara, kita perlu menggunakan setiap hak dan kewajiban politik kita secara bertanggung jawab demi perkembangan politik di negeri ini; secara khusus di tengah Pemilu yang kian hari hampir pasti dibumbui politik identitas.

Bukan hanya hadir saja, kita sebagai umat percaya juga perlu bersikap kritis untuk menghadirkan transformasi sosial. Namun pertanyaannya sekarang, transformasi yang seperti apa? Kemudian, siapa yang dapat melakukannya?

Transformasi yang perlu diwujudkan adalah kesejahteraan. Hal ini tentu disesuaikan dengan cita-cita awal kemunculan komunitas politik (polis) dan nilai kehadiran Kristiani yang didasarkan pada firman Tuhan, khususnya ayat ini:

"Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.

(Yeremia 9:27)


Photo by Johny McClung on Unsplash

Kita dapat belajar beberapa hal dari seruan Yeremia di atas. Pertama, suara kenabiannya ditujukan bagi bangsa Israel yang sedang berada dalam pembuangan di Babel. Melalui Yeremia, Tuhan memerintahkan mereka untuk mengusahakan dan berdoa agar kota—tempat mereka hidup waktu itu—mendapatkan kesejahteraan.

Tidak hanya itu, bangsa Israel diperintahkan oleh Tuhan untuk mengaplikasikan spiritualitas yang tidak egosentris dan bersifat sosial-transformatif. Seruan ini sekaligus menjadi motivasi tersirat bagi mereka untuk hadir dan berdampak konstruktif; tidak hanya untuk komunitas Israel itu sendiri, melainkan bagi komunitas lain tempat mereka tinggal.

Menjelang Pemilu tahun ini, saya meyakini bahwa setiap orang percaya perlu menyuarakan pentingnya kesejahteraan kota maupun negara di mana dia hidup. Secara khusus, hal ini dapat diusahakan melalui kehadiran kaum muda Kristen. Mengapa kaum muda?

Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum, lebih dari 50% pemilih dalam Pemilu 2019 merupakan kaum muda. Artinya, kaum muda—termasuk kita—memiliki potensi yang dapat berpengaruh signifikan terhadap perkembangan dan jalannya politik praktis di negara ini.

Namun, apakah kaum muda menyadari dan memahami dampak dari peran mereka? Apakah mereka memiliki sikap kritis dan optimis untuk menjalani Pemilu?

Inilah dua dari sekian banyaknya tugas gereja: mempersiapkan kaum mudanya untuk menghadapi Pemilu dan menggunakan potensi politis yang mereka miliki—agar mereka tidak acuh terhadap politik.


Photo by Toa Heftiba on Unsplash

Menurut saya, keterlibatan kaum muda Kristen pada Pemilu nanti dapat muncul dalam dua bentuk; yakni mencalonkan diri melalui partai politik maupun menjadi pemilih aktif-dan-efektif dalam Pemilu. Setiap orang yang mengikuti partai politik dan mencalonkan diri dalam Pemilu 2019 perlu mengingat identitas serta tanggung jawabnya sebagai agen sosial untuk menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat. Bagi kita yang memilih, kita perlu mempertimbangkan kapabilitas calon yang akan dipilihnya demi kesejahteraan bersama—bukan hanya satu golongan tertentu. Lantas, bagaimana kita dapat mengetahuinya?

Mari kita mencermati dengan kritis rekam jejak, ideologi politik, serta strategi dari calon yang akan dipilih. Apabila hasil penelusuran terhadap calon tersebut tidak membuat kita yakin bahwa sang calon sanggup mengusahakan kesejahteraan, maka calon tidak perlu dipilih. Begitu pula dengan yang mencalonkan diri dalam Pemilu. Mereka perlu memiliki ideologi politik dengan strategi yang jelas dan efektif untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat—bukan pribadinya, kelompok politiknya, bahkan kelompok agamanya.

Kita perlu memahami bahwa Pemilu merupakan sebuah momentum yang berdampak bagi kehidupan bangsa dan negara (setidaknya untuk 5 tahun ke depan). Apa pun peran kita dalam Pemilu, kita memiliki potensi besar untuk memengaruhi politik di negara ini; dan Gereja, sekali lagi, memiliki tanggung jawab memfasilitasi kaum muda untuk mengoptimalkan potensi tersebut. Apabila hal ini diwujudkan dengan sebagaimana mestinya, maka akan ada banyak anak muda yang kritis, optimis dan tidak anti politik. Apakah ini juga yang jadi kerinduan kita, wahai kaum muda Kristen?

Untuk Disimak Lebih Lanjut:

Mojau, Julianus. Teologi Politik Pemberdayaan. (2009). Yogyakarta: Kanisius

KOMPASTV. “Pemilih Muda adalah Kunci Sukses Pemilu 2019”. Filmed (September 2018). YouTube video, 1.37. posted (September 2018). https://www.youtube.com/watch?v=ECPUQQ0iwo0.


Penulis : Gretz Janialdi Apner

LATEST POST

 

Apa sih perasaannya kala itu?Saya sendiri bahkan tidak tahu apa yang saya rasakan. Saya tidak bahagi...
by Sobat Anonim | 15 Jul 2019

Purwokerto, 9 Juli 2019Shalom,Damai Sejahtera bagi kamu,Halo Nat, lama kita ngga berjumpa. Gima...
by Agustina Endarwanti | 15 Jul 2019

Water covers 70% of our planet and it is easy to think that it will always be plentiful and will not...
by Arum Sekar Ratrie | 15 Jul 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER