Our Last Memory

Best Regards, Live Through This, 30 April 2019
Dari pengalaman itu, Tuhan mengajarkanku untuk tidak menunda-nunda dalam menyatakan kasih.

Kasih menjadi konten vital yang memberi warna dalam kehidupan setiap orang. Perasaan dikasihi membuat setiap orang merasa berharga dan memiliki citra diri yang baik. Perbuatan mengasihi juga dapat menjadi tolok ukur sejauh mana kita menganggap orang tersebut berharga di dalam kehidupan kita. Seseorang dapat dengan mudah mengatakan, “Aku mengasihi kamu,” tetapi terkadang perbuatannya tidak sejala.

Bila kita mengasihi seseorang, maka orang tersebut seharusnya dapat merasakannya melalui tindakan nyata yang kita lakukan. Namun dalam perkembangan dunia yang semakin maju, tingkat kesibukan serta mobilitas seiring meningkat. Hal-hal yang tidak sejalan dengan target kita, kian kita pandang sebelah mata dan akan kita tunda untuk waktu yang tidak dapat ditentukan. Salah satu hal yang sering kita tunda adalah kasih, khususnya kasih kepada keluarga.

Kasih dalam keluarga merupakan bagian yang sangat erat dalam hidup seseorang. Rasa sakit hati mungkin dialami, tetapi kita selalu belajar untuk memaafkan dan mengasihi mereka. Tolok ukur kasih pada mereka ialah dengan perwujudan nyata kasih itu, yakni melalui tindakan yang kita lakukan. Inilah salah satu pengalaman mengasihi keluarga yang begitu kuingat sampai hari ini. Tuhan mengajarkanku tentang “rencana” mengasihi orang lain, melalui sebuah momen luar biasa.

Sejak tahun 2001, aku tidur di kamar yang sama dengan pamanku. Kami akhirnya berpisah di tahun 2013 karena aku kuliah di luar kota. Selama tiga belas tahun, aku selalu menceritakan kejadian yang kualami sepanjang hari. Rasa kesal dan bahagia, harapan, maupun cita-citaku kusampaikan padanya sebelum tidur. Ia adalah sosok yang telah berperan banyak dalam perkembangan kehidupanku.

Pada akhir tahun 2017, disaat aku berlibur pamanku baru saja keluar dari rumah sakit setelah menjalani rawat inap. Telah berulang kali dia keluar masuk rumah sakit, tetapi sedihnya, aku tidak pernah mengetahui dengan jelas keadaannya hingga hari kepulanganku itu. Saat itu, kulihat pamanku bernafas menggunakan bantuan oksigen selama hampir 24 jam. Sudah tidak banyak aktivitas yang ia dapat lakukan, hanya menghabiskan waktunya di rumah saja.

Aku menganggap bahwa semua akan berjalan baik-baik saja. Sebelumnya, aku sudah merencanakan untuk menghabiskan waktu bersama teman-teman dan berbagai kegiatan refreshing lainnya untuk membebaskan diri dari penatnya kuliah. Hal tersebut membuat waktuku bersama pamanku hampir tidak ada. Oleh karena penyakitnya, aku justru berpikir untuk menceritakan keadaanku dan jalan-jalan bersamanya setelah ia lebih sehat.

Keadaan mengatakan sebaliknya. Beberapa hari setelah Natal ia harus kembali ke Rumah Sakit untuk dirawat. Ketika ia menjalani perawatan di rumah sakit, aku yang masih berada dalam euforia liburan hanya menyempatkan diri untuk mengunjunginya selama beberapa jam saja. Selama ia di rumah sakit, tidak pernah satu malam pun aku menggantikan mama atau adikku untuk menjaganya. Belum pernah pula sekali pun secara khusus aku berdoa bersama-sama dengannya. Di saat kuliah, aku terbiasa untuk mendoakan temanku yang sakit saat perkunjungan. Namun ironisnya, aku tidak melakukannya di saat pamanku sendiri yang terbaring sakit.

Pada tanggal 1 Januari 2018, seusai mengikuti kebaktian Minggu, Tuhan menaruh perasaan di dalam hatiku untuk bercengkrama dan berdoa bagi pamanku. Sepulang dari gereja, aku memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Di sana, aku mendapatinya terbaring lemah. Aku memang sempat berbicara dengannya, tapi melihat keadaannya, aku mengurungkan niatku untuk bercengkerama lebih banyak. Aku memberinya waktu agar bisa beristirahat kembali.

 

Aku berada di rumah sakit bersama keluargaku. Waktu telah menunjukkan pukul 23.00 sebelum aku kembali ke rumah dan beristirahat, mengingat esok hari aku masih memiliki janji dengan teman-temanku. Kepulanganku ditutup dengan sebuah doa bagi kesehatannya.

  Sesampainya di rumah dan setelah aku tertidur beberapa saat, waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari ketika aku mendapat kabar bahwa pamanku telah tiada. Semua rencana dan tawa yang kubayangkan menjadi sia-sia dan terlambat! Pengalaman manis yang kubayangkan menjadi pahit yang menyesakkan, keadaan tidak berjalan sesuai dengan kehendakku.

Dari pengalaman itu Tuhan mengajarkanku untuk tidak menunda-nunda dalam menyatakan kasih. Pamanku adalah salah satu orang terdekat dalam hidupku. Aku merasa ia bisa memahami perasaanku untuk bersenang-senang, aku pun merasa bisa menunda untuk menyatakan kasihku padanya. Aku menganggap semua akan berjalan sesuai kehendakku, hingga akhirnya Tuhan menyadarkanku bahwa semua hanya akan terjadi sesuai kehendak-Nya. Aku mempertanyakan Tuhan akan kejadian ini, akan kasihku pada pamanku yang belum sempat ternyatakan. Tuhan seakan menjawabku, “Mengapa engkau menunda?”

Sering kali kita merasa keluarga akan mengerti dan memaklumi segala aktivitas dan kesibukan kita, kenyataannya pun memang demikian. Mereka adalah orang-orang yang begitu memahami kita, sekalipun tanpa ucapan. Justru inilah yang kerap membuat kita terlena untuk menunda perwujudan kasih kita pada mereka. Sebab itu, berhati-hati dan bijaklah menggunakan waktu yang ada, jangan sampai ketika kita memutuskan untuk menunda menyatakan kasih, ternyata waktunya sudah terlambat.

  Saya teringat akan suatu bagian dari surat Paulus kepada jemaat di Galatia, “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Bagian ini mengingatkan kita tentang waktu dan kesempatan yang kita miliki saat ini, karena kesempatan tidak akan selalu tersedia. Bersyukurlah bila kita masih memiliki kesempatan, pergunakanlah waktu yang ada dan wujudkanlah kasih sebelum terlambat. Kasihilah orang lain, seakan kesempatan itu adalah kesempatan terakhir kita dapat bertemu dengannya.

LATEST POST

 

“Swing low, sweet chariotComing for to carry me homeSwing low, sweet chariotComing for to carr...
by Christan Reksa | 18 May 2019

Belakangan ini sering terjadi perdebatan, bahkan perpecahan dari kedua kubu politik dimana para pend...
by Priska Aprilia | 18 May 2019

“Untuk beli bibit.. ““Untuk beli obat, Neng...”“Kemarin harga jatuh. P...
by Surya Hadi | 18 May 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER