Merenungkan Makna Paskah Bersama Series The Boys

Going Deeper, God's Words, 22 March 2023
Di momen paskah, mari kita tidak berfokus kepda kekuatan dan kemampuan, tetapi menjadi hamba yang selalu mencoba untuk melayani sesama.

Haaa? Maksudnya? Kita merenungkan kebangkitan Yesus Kristus dari kematian salib bersama seri The Boys? Emang ada hubungannya? (Disclaimer: Jangan baca lebih lanjut kalau ingin nonton seri ini terlebih dahulu)


Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, saya mengucapkan selamat memaknai kebangkitan Kristus! Kiranya kebangkitan Kristus memberikan pengharapan kepada kita yang hidup pada zaman ini untuk senantiasa berpegang teguh pada-Nya.

Nah, kembali ke judul di atas, saya mau mengajak Ignite People untuk mengenal seri The Boys terlebih dahulu untuk mendapatkan gambaran ringkasnya dan kaitannya dengan Paskah. The Boys adalah sebuah serial yang diambil dari komik yang berjudul The Boys, sebuah karya dari Garth Ennis dan Darick Robertson. Series ini berlatarkan dunia yang diisi oleh banyak superhero yang bertugas untuk melindungi masyarakat, menolong dan menjadi panutan bagi orang. Tugas superhero di series ini dapat dikatakan sama seperti superhero pada umumnya. Uniknya, series ini tidak seperti seri superhero yang populer dari Marvel maupun DC (Detective Comic) seperti Superman, Ironman, Spiderman, dan Batman yang menjadi tokoh yang sungguh-sungguh baik, sungguh-sungguh menjadi panutan dan sungguh-sungguh melindungi masyarakat. Sebaliknya, superhero di seri The Boys sangatlah bobrok: mereka melakukan tindakan amoral, kriminal, pembunuhan, pelecehan dan sebagainya (huft). Memang, sih, mereka masih melakukan tugas superhero seperti para tokoh di dalam Marvel atau DC, tetapi kebejatan mereka ya tetap digas.

Superhero utama di seri The Boys ialah The Sevens, kelompok superhero di seri The Boys. Mirip-mirip seperti Avengers atau Justice League. Anggotanya terdiri dari Homelander mirip Superman, Black Noir mirip Batman, A-Train mirip The Flash, The Deep mirip Aquaman, Queen Maeve mirip Wonder Woman, Starlight anggota baru, dan Translucent mirip Invisible Woman. Dari luar, mereka tampil baik. Namun, mereka juga memiliki kelemahan dan kebobrokan yang tersembunyi. Contohnya adalah Homelander, yang dikenal publik sebagai penolong, teladan, dan rendah hati—tetapi di belakang mereka, dia menggunakan kekuatannya untuk melecehkan perempuan dan memiliki narsis yang akut. The Deep juga demikian, lalu ada A-Train yang kecanduan obat. Mengerikan? Oh, tunggu dulu. Sekarang, mari kita beralih pada kisah The Boys.

Kejahatan-kejahatan yang dilakukan The Sevens menumbuhkan dendam pada sekelompok orang yang pernah menjadi korban, atau kerabatnyaMereka inilah yang disebut The Boys (jadi, jangan tertukar, ya). Anggotanya terdiri dari Butcher, yang istrinya diperkosa oleh Homelander; Hughie, seorang anak muda polos yang pacarnya mati karena kecerobohan A-Train; Frenchie; dan MM. Mereka berusaha menjatuhkan The Sevens dan seluruh superhero dengan alasan bahwa Superhero memang jahat. Singkat cerita, dalam sebuah episode, anggota The Boys punya kekuatan. Namun sayangnya, mereka pun akhirnya menjadi jahat sama seperti The Sevens.


Photo by Greenscene.co.id

Series ini menunjukkan bahwa kekuatan pada akhirnya cenderung membuat orang menjadi jahat, menunjukkan jati diri orang yang di dalam hatinya jahat dan menjadi orang yang menggunakan kekuatannya untuk kepentingan sendiri. The Boys menunjukkan hal itu. Realitas bahwa kekuasaan cenderung membuat orang jahat, menunjukkan jati diri orang yang hatinya jahat dan orang menggunakan kekuasaan untuk kepentingan sendiri sudah nyata. Kita bisa lihat banyak contohnya dari kaisar-kaisar seperti kaisar Nero, pemimpin agama yang menyalahgunakan kewibaannya, dan kasus-kasus serupa yang sering kita lihat di berita.


Lalu, apa hubungannya dengan Paskah?


Kita bisa membayangkan mengapa Tuhan memilih jalan penderitaan yang lemah untuk membawa kemuliaan, bukan datang dengan superpower yang memporakporandakan. Dalam salah satu percakapan-Nya dengan dua murid yang sedang menuju ke Emaus, Yesus—yang telah bangkit—menegur mereka karena keputusasaan dan ketidakpahaman terhadap penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya:

Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?” Lukas 24:26

Bagaimanakah itu? Coba kita lihat Lukas 22:25-26 ketika Yesus berkata pada para murid-Nya:

"Raja-raja bangsa-bangsa memerintah rakyat mereka dan orang-orang yang menjalankan kuasa atas mereka disebut pelindung-pelindung. Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan.” 

Di ayat 25, kita bisa mengerti bahwa para raja di zaman tersebut dianggap sebagai perwakilan dewa, bahkan dianggap sebagai dewa itu sendiri. Mereka tentu melakukannya dengan menguasai orang di bawahnya, dengan pedang bagi pemberontak, menekankan status, menggunakan pedang untuk melakukan hal yang mereka mau. Mirip seperti dewa-dewi mereka. Kalau Ignite People familiar dengan mitologi Yunani, kita tahu dewa yang bernama Zeus ("raja" para dewa) sering kali melecehkan perempuan dan membunuh orang-orang yang tak bersalah. Di zaman itu, para raja seringkali menggunakan kekuasaannya untuk kepentingannya, sehingga banyak orang tertindas. Kekuasaan/kekuatan itu sering kali penuh dengan sistem yang rusak (corrupted).

Kabar baiknya adalah kekuatan Yesus tidaklah demikian, karena kekuatan-Nya bukan terletak pada kekuasaan, pedang dan, status—hal-hal materi yang dipandang manusia untuk takluk pada para penguasa. Yang Yesus teladani adalah hidup-Nya sebagai seorang hamba yang melayani, mengasihi Bapa dan sesama, serta mengosongkan diri-Nya (Filipi 2:5-11) hingga mati di kayu salib menjadi Juruselamat dan memperdamaikan relasi Tuhan dengan manusia yang berdosa. Sebagai Anak Alllah, Yesus berkuasa untuk melakukan segala sesuatu. Namun, Dia memilih taat kepada Bapa untuk mewujudkan misi keselamatan yang telah dikerjakan-Nya. Inilah kabar keselamatan yang kita terima melalui anugerah Tuhan kita, Yesus Kristus!


Photo by Emma Shappley on Unsplash 


Paskah dan The Boys?

Pada akhirnya, kita tahu superpower yang dipakai para heroes di The Boys membawa kehancuran. Kisah The Boys mengingatkan bahwa kita, manusia berdosa, juga sama seperti mereka karena tidak ada seorang yang benar di hadapan Tuhan (Roma 3:10-18). Namun, syukur kepada Allah, karena kasih karunia (atau anugerah) Allah kita diselamatkan melalui iman kepada Tuhan Yesus Kristus (Efesus 2:8-9). Nah, anugerah keselamatan ini memerlukan respons kita. Maka, di momen Paskah ini, mari kita tidak berfokus kepada kekuatan dan kemampuan jasmani, tetapi menjadi hamba yang selalu mencoba untuk melayani sesama mengikuti teladan Tuhan Yesus Kristus. Sebagai manusia yang telah diselamatkan, kelemahan dari dosa tidak secara otomatis hilang begitu saja. Itulah sebabnya, kita perlu senantiasa bergantung penuh kepada Tuhan, mengikuti proses yang dihadirkan-Nya dalam memurnikan kita, karena kita tidak bisa menghadapi kelemahan-kelemahan itu dengan kekuatan diri sendiri.

Saya menutup artikel ini dengan beberapa poin. Pertama, mari arahkan tujuan dan cara mencapai tujuan hidup kita masing-masing dengan fokus pada Tuhan dan sesama, bukan pada kekuatan pribadi, ambisi, kekayaan, dan apa pun yang berpusat kepada diri sendiri. Kedua, kita berdoa pada Tuhan, agar kita tidak menjadi orang yang fullpower-tetapi-menyalahgunakannya (seperti yang ditulis oleh Christian Aditya di sini -ed.); sebaliknya, mari kita memohon kepada Tuhan untuk dibawa-Nya pada keadaan-keadaan yang mengondisikan kita untuk tetap melayani bersama-Nya. Ketiga, mari membuka diri untuk tetap dikritik oleh orang lain; contohnya, jika kita berada dalam sebuah organisasi, kita perlu mengusahakan sistem yang terbuka untuk kritik dan masukan, agar selalu disadarkan utnuk melayani bukan pada kekuatan yang corruptedTerakhir, mari kita selalu mengikuti cara hidup Kristus yang melayani. Keempat poin ini membutuhkan relasi yang intim bersama Tuhan dari hari ke hari. Karena itu, mari kita belajar untuk tidak menyia-nyiakan makna Paskah ini: hanya anugerah keselamatan Allah yang melayakkan kita mengenal-Nya dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, satu-satunya Pribadi yang telah mati dan bangkit untuk menyelamatkan kita dari kematian kekal.

Selamat (menyambut) Paskah!


Silakan simak salah satu video dari The Bible Project ini untuk memperoleh gambaran kehadiran Yesus

di tengah-tengah sistem dunia yang rusak akibat dosa.

LATEST POST

 

Musa dan Yohanes merupakan penulis kitab pertama dan terakhir dalam Alkitab. Maka akan sangat menari...
by Jeffry Immanuel | 24 May 2024

Ethan Winters dan Mia baru saja memulai hidup barunya yang tentram dan damai bersama Rosemary, bayi...
by Olyvia Hulda | 23 May 2024

Respons terhadap Progresive ChristianityIstilah progresive Christianity terdengar belakangan ini. Ha...
by Immanuel Elson | 19 May 2024

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER