Kala Yang Tiada, Baru Punya Harga.

Best Regards, Live Through This, 23 July 2020
Ketika ia hidup, kalian selalu menutup mata. Ketika ia tiada, kalian baru membuka mata.

Pernahkah kalian merasa, ada sesosok pribadi yang semasa hidupnya seolah dipandang sebelah mata, atau bahkan tidak digubris keberadaannya sama sekali, baik itu dalam lingkup keluarga, pertemanan, atau apapun itu? Kita yang merasa iba dengan kondisinya yang seperti itu pasti sangat tergerak hatinya. Hati kita merasa sangat tergugah karena kita mampu menyelaraskan antara perbuatan dengan suara hati. Entah hanya sekadar menanyakan kabar atau bahkan merawat sekuat tenaga kita. Sebetulnya, yang kalian lakukan tadi, benar adanya. Karena kalian melakukan apa yang Tuhan Yesus katakan melalui 1 Petrus 4:10, berbunyi demikian,

Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.

- 1 Petrus 4:10 -

Namun, apa daya, jika lingkungan tadi yang kurang menyetujui perbuatan kita? Mulai dari menasehati hingga memarahi kita atas tindakan yang kita perbuat tadi dan pada akhirnya kita terpatri untuk tidak melakukan hal tersebut dikelak kemudian hari. Tak ayal, kita pun menjadi acuh tak acuh dengan keberadaan sosok yang mirip dengan pribadi tadi. Pada akhirnya, pribadi tersebut harus kembali pulang dan kita hanya bisa meratapinya dengan penuh penyesalan. Air mata mengalir dengan derasnya, bukan hanya menangisi kepergiannya, melainkan menangisi perbuatan kita yang sudah tidak menggubris keberadaannya.


IGNITE People, dalam tulisan ini, saya akan membahas yang sebenarnya sudah cukup awam di telinga kita. Kalau dikemas dengan konteks komunikasi yang tinggi (high context communication), tulisan ini akan membicarakan, bagaiman kita memanusiakan manusia, atau bahasa umumnya dikenal juga dengan menghargai sesama. Manusia memang memiliki karakternya masing-masing dalam menerima orang. Ada yang diam, ada yang memiliki pendekatan langsung (direct approaching) seperti mengajaknya berbicara, dan lain-lain. Sebenarnya tidak salah ketika menerima orang dengan hanya berdiam diri atau bahkan melempar senyuman lugu, tetapi yang menjadi salah adalah ketika kita menerima orang baru dan tidak menghargainya sebagai sosok manusia seutuhnya. Bisa jadi karena ada kekurangan dalam orang tersebut, baik secara fisik atau pun mental. Benih sikap tadi yang ditanamkan sejak dini akan menimbulkan sikap penolakan karena adanya sebuah perbedaan dalam sebuah kelompok tadi.



Setelah berjalannya waktu, kita pun sadar akan “ketiadaan” sosok tadi, hingga pada akhirnya, kenyataan paling pahit pun harus diterimanya, yakni dikucilkan dari kelompok. Sikap ini jelas bertentangan dengan sebuah ayat yang diberikan oleh Tuhan Yesus, dalam Matius 22:39 yakni,

Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

- Matius 22:39 -

Waktu yang terus berjalan. Kita terus menyikapi sosok tadi dengan sikap yang tidak pernah berubah. Pada suatu titik, kita sadar, pribadi yang kita kucilkan tadi, tidak dapat bertemu dengan kita sampai selamanya. Barulah di situ kita sadar akan keberadaannya. Bagiku, ini semua terlambat, untuk apa kita masih membicarakan kebaikan dan keberadaannya sedangkan semasa pribadi tadi masih ada, kita tidak menganggapnya sama sekali. Kurang etis dan tidak bermoralnya kita, ketika kita sudah menyudutkan pribadi tadi, tetapi sekarang kita malah meninggi-ninggikannya. 



Apabila hal ini terjadi dalam lingkungan pergaulan kalian, hentikan dari sekarang. Mulailah kita membangun lingkungan yang positif dengan menghargai setiap insan yang bergabung dan/atau ada di dalamnya. Kekurangan memang pasti ada, tetapi itulah tantangan kita bagaimana menyikapi kekurangan pribadi yang baru bergabung tersebut. Seperti potongan lirik lagu yang biasa kita nyanyikan saat liturgi Salam Damai,

Hiduplah dalam damai

seorang dengan yang lain:

Itu kehendak Tuhan bagimu

Lagu ini seolah-olah mengingatkan kembali kepada kita, untuk terus hidup menghargai sesama kita dan membawa damai bagi mereka. Ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua, untuk tetap menghargai setiap keberadaan insan yang ada. Maka, dengan melakukan tindakan tersebut, kita pun menjadi merasa bahwa setiap dari kita itu berharga, sehingga tak akan ada lagi rasa penyesalan ketika satu per satu dari kita mulai berpisah satu sama lain, karena kita tahu, kita pernah dihargai satu sama lain. Semoga Tuhan tetap memampukan kita untuk menghargai sesama dengan lebih lagi, bahkan seperti kita menghargai diri kita sendiri.

LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER