“Tetapi Sekarang Mataku Sendiri Memandang Engkau”: Bagaimana Pembenaran Ayub oleh Allah Menolong Saya dalam Mempertanyakan-Nya (Bagian 2)

Going Deeper, God's Words, 28 January 2023
"Saya disadarkan betapa Tuhan yang saya ikuti itu tak selalu menyenangkan, tetapi tak pernah Ia mengecewakan." - Eka Darmaputera

Baca bagian pertama di sini


TANYA YANG DIVALIDASI

Membaca Ayub menghadirkan kelegaan tersendiri. Kisah Ayub memberikan validasi atas keraguan dan pertanyaan yang terus mengalir. Lebih dari itu, mengenali Ayub akan menyadarkan bahwa kerinduan terdalam umat manusia untuk percaya dalam tanya adalah valid, bahkan esensial demi relasi yang hidup dengan Allah. Relasi terindah adalah ketika kita senantiasa rindu terus bertanya dan menyambut jawaban-Nya, bahkan ketika Dia menjawab bukan sesuai jawaban yang kita mau. Karena seperti yang pernah disampaikan oleh Eka Darmaputera yang dikutip oleh Andar Ismail dalam bukunya yang berjudul Selamat Berguna, “Saya disadarkan betapa Tuhan yang saya ikuti itu tak selalu menyenangkan, tetapi tak pernah Ia mengecewakan.”

Segala validasi atas iman yang bersedia terus bertanya itu terbukti oleh Allah yang merespons Ayub. Dia menghardik dan menegur para “penghibur sialan” yang hanya tahu pengajaran agama yang dianggap benar tanpa mau melihat lebih dalam konteks pergumulan masing-masing pribadi maupun masyarakat. Dia lebih menyambut tanya yang tulus dalam ketidaktahuan daripada jawab yakin dalam sikap sok tahu.

Allah sungguh melegakan dahaga Ayub. Jawaban-Nya mencengangkan dan membuat Ayub tunduk karena sadar, inilah Allah yang sejati. Tak hanya karena keluasan sudut pandang-Nya yang jauh melampaui sudut pandang Ayub (sesuai dengan judul yang diberikan Lembaga Alkitab Indonesia atas perikop Ayub 38, “kekuasaan TUHAN di alam semesta”), tetapi juga karena Dia membenarkan Ayub terhadap teman-temannya (Ayub 42:7). Lewat afirmasi-Nya atas Ayub, Allah lebih "memeluk" pertanyaan dan gugatan Ayub daripada pernyataan pembelaan sahabat-sahabatnya yang merasa lebih mengerti Allah. Bahkan jika menyandingkan pembacaan Ayub dengan Injil, kita akan semakin kagum memahami bahwa Allah inilah yang Yesus Kristus “gugat” di kayu salib dengan petikan Mazmur 22 (“Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”) sekaligus Sang Anak kenali sungguh-sungguh dalam segala kemahakuasaan-Nya maupun rencana keselamatan-Nya yang tak terselami kemanusiaan.

Kristus adalah pernyataan konkret atas kegelisahan Ayub yang terus bertanya dan terus percaya. Pertanyaan Kristus di kayu salib adalah gugatan di tengah sakitnya penderitaan karena meyakini rencana kosmis Bapa, yang menaklukkan kerajaan maut dan memulihkan segenap ciptaan. Gugatan yang mendapat jawabnya pada waktu dan tempat terbaik yang Allah tetapkan.


https://unsplash.com/photos/iy34kwDyJ4E


MENGAKHIRI RATAPAN, MEMANDANG ALLAH YANG MERANGKUL TANYA

Kisah di dalam Ayub 42:1-6—ketika Ayub mencabut perkataannya dan menyesalkan diri—adalah klimaks yang begitu melegakan dahaga akibat pertanyaan yang tak terjawab. Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu memang bukan melulu untuk mendapat jawaban yang dapat nalar manusia pahami. Jangan-jangan, jawabannya pun memang sesederhana penyataan diri Allah yang bersama kita, bahkan di kala kita merasa Dia sungguh hening. Jangan-jangan, pertanyaan-pertanyaan tiada henti itu datang untuk dijalani bersama Allah yang menyatakan diri.

Allah yang menyatakan diri lewat mereka yang terhina, tersingkirkan, terlupakan, dan terluputkan. Allah yang menyingkapkan diri lewat hal-hal remeh. Allah yang menghadirkan jawab tak terduga. Allah yang membuat Ayub termangu-mangu. Dia yang tak pernah gagal dalam rencana-Nya dan mengetahui segala yang tampak begitu ajaib dalam pemahaman manusia.

Allah di dalam kitab Ayub menyatakan diri-Nya dengan melampaui stereotip keberagamaan. Dia tak dapat terangkum oleh perkataan-perkataan yang pernah didengarkan Ayub. Inilah yang akhirnya memuaskan dan memulihkan Ayub dari ratapan serta dukacitanya, sehingga dia berani berkata, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang engkau” (Ayub 42:5).  Ayub telah melihat-Nya, justru karena Ayub mengenali kembali bagaimana hakikat Allah dari mereka yang tersingkirkan yang dia jumpai dalam perjalanannya.

Allah yang sama yang, di dalam Kristus, memeluk erat kita yang terus bertanya tetapi juga belajar terus untuk peka dengan jawaban-Nya. Kita yang tidak mengunci pergumulan di kepala sendiri, tetapi justru mencoba melihat sekitar, mendengarkan suara Roh Kudus, lalu menemukan jejak-Nya pada yang paling diremehkan. Di dalam anugerah-Nya yang tidak terkatakan oleh konsep kemanusiaan, Allah berkenan menjumpai kita yang berdosa ini. Allah Sang Perawat segenap ciptaan tidak hanya memanggil kita, tetapi juga memandang kita dan setiap karya-Nya seluas-luasnya.

Allah yang memanggil kita berpulih, bertobat, dan mengakhiri ratapan. Dialah yang pada kesudahan-Nya akan menyingkapkan segalanya, menghadirkan kedaulatan dan keadilan sejati, menghapuskan air mata, memulihkan segenap ciptaan.

Allah yang memanggil kita yang, dalam segala ketidaksempurnaan, kerapuhan, dan kejatuhan berkali-kali, mencoba dengan berani mengucapkan keras-keras, “Aku percaya! Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Markus 9:24).

Bersediakah saya dan Ignite People menyambut uluran tangan Allah yang berkenan menyingkapkan diri-Nya yang "misterius" ini?

LATEST POST

 

Pemerintahan di dunia ini dilaksanakan dalam berbagai metode, namun pada intinya adalah mengatur sec...
by Oliver Kurniawan Tamzil | 29 Feb 2024

Image on PexelsMarilah kita membayangkan diri kita sendiri ketika kita sudah tua nanti? Apakah kita...
by Samuel wangsa | 18 Feb 2024

Lagu Kidung Jemaat no. 249 berjudul "Serikat Persaudaraan" mungkin sudah tidak asing lagi...
by Alviedo Yuda | 14 Feb 2024

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER