Si Pembawa Keceriaan, Maukah Kau Berbagi Kesedihan Denganku?

Best Regards, Live Through This, 17 July 2019
Dia yang membawa keceriaan, justru nyatanya memendam duka yang dalam.

Tahun lalu aku mulai berkenalan dengan salah satu rekan kerja dengan karakter yang sangat unik, tingkahnya penuh kekonyolan dan jenaka. Setiap hari dia selalu terlihat bahagia, seperti tidak punya bakat untuk menangis. Sering kali dia menghabiskan waktu dengan mengelilingi ruangan, kadang sambil bernyanyi atau berjoget, ada saja tingkahnya yang mengocok perut, kehadirannya adalah hiburan bagi kami di kala penat. Semua yang berbincang denganya, isinya hanya pekerjaan dan lawakan. Bahkan orang mulai beranggapan bahwa dia adalah orang yang tak pernah punya masalah. 

“Pasti hidupnya engga mikirin apa apa", "Pasti anak orang kaya", "Pasti keluarganya utuh dan bahagia”. Orang mulai melabelinya dengan berbagai sebutan terhadapnya.

Sedangkan bagi ku dia adalah “si pembawa keceriaan” dan aku senang menghabiskan waktu bersamanya, tentu saja kadang aku harus pulang dengan sakit perut karena terlalu banyak tertawa.

Image by Christopher Ross from Pixabay 

Suatu kali saat hubungan kami mulai semakin akrab, aku ingin mengenalnya lebih dalam, entah...

Aku merasa ada yang perlu dia ceritakan lebih dari sekedar rangkaian lelucon...  

Aku memberanikan diri bertanya, mencoba membuka diri, andai saja dia mau berbagi...


“Jadi di balik wajah yang sangat menghibur ini, apakah mungkin di baliknya ada sosok yang sedang menahan tangis?” tanyaku dengan nada menggoda.

Dia tertawa terbahak-bahak sebelum menjawabnya. 

“Tahu dari mana?” katanya. 

“Hehe... Aku hanya ingin mengenal dirimu yang sebenarnya, kapan pun kamu siap. Aku akan ada untuk mendengarnya, atau jika perlu punggung pun akan aku pinjamkan,” kataku sambil mendekat ke arahnya.

Lalu dengan muka penuh pertimbangan, akhirnya dia mulai bercerita tentang kepahitan hidupnya yang tidak pernah aku bayangkan

Image by Ryan McGuire from Pixabay 

Ia menahan tangis saat menceritakannya, dengan senyum tipis dia mengakhiri ceritanya, “Ini aja lagi cari uang buat bayar listrik, kemarin baru sampe rumah, uangnya sudah diambil bapak buat bayar hutang. Harta bapak kan sudah habis dulu buat selingkuhannya, sekarang bapak udah enggak kerja, tapi malah aku yang harus bayar hutangnya, belum untuk keperluan sehari-hari aku sama ibu, semua aku yang cari sendirian.”

Dan malah aku yang duluan dibuatnya menangis 

"Kenapa baru cerita, kan siapa tahu aku bisa bantu?" tanyaku.

"Hehe.. kalau kamu engga tanya juga aku enggak akan cerita. Aku pikir enggak perlu ada yang tahu masalah aku. Biar orang lain tahunya aku happy happy ajanangisnya di rumah aja pas sudah sepi,dengan menyeka air matanya yang sudah mulai menetes. 

“Boleh peluk engga?” Tanyaku sambil melebarkan kedua tanganku.

Lalu dia membalas pelukanku dan melepaskan tangisannya yang sudah tak terbendung. Meraung dan terisak, mendengarnya saja hatiku tersayat. 

Aku merasakan kepedihan dan betapa dia sesungguhya minta tolong, ada rasa lelah dan keputusasaan yang terdengar. 

Aku menepuk-nepuk pundaknya yang sudah sampai gemetar dan membiarkan dia menghabiskan tangisannya di pelukanku hari itu, tanpa memberi saran, hanya mendengarkan.

Malam harinya, dia mengirimku pesan singkat yang membuat hidupku merasa terberkati. 

“Terima kasih sudah bertanya, terima kasih sudah mendengarkan, malam ini aku tidak lagi menangis sendirian.”Image by Sasin Tipchai from Pixabay 

Dia yang membawa keceriaan, justru nyatanya memendam duka yang dalam.

Selama ini tanpa terlihat membutuhkan orang lain, dia menerjang kehidupan seorang diri. Membawa beban berat itu, tanpa pernah mau membaginya ke orang lain. Dengan mencoba membuat orang tertawa seharian ia mencoba menutupi luka, lebam dan kesakitan sepanjang hari, akhirnya hanya bisa menutup malam dengan menangis. 

Benar, dia memasang topeng, karena terlihat rapuh di depan orang lain kadang bukan hal yang mudah bagi sebagian orang.

Terlebih dewasa ini menjadi sulit untuk menemukan orang yang benar-benar peduli. Jangankan menanyakan perasaan, menghormati perasaan  orang lain pun dihiraukan, kepekaan batin telah tergerus kesibukan dan habis dimakan kepentingan, hanya mau mendengarkan jika hal tersebut berkaitan dengan dirinya, selebihnya menjadi bukan urusan.

Andai saja aku tidak menanyakan hal yang menggangguku saat itu,

Andai saja aku percaya bahwa dia memang sebahagia itu. 

Mungkin dia akan menyembunyikan beban itu lebih lama dan lebih dalam, lalu jika hal buruk sampai terjadi padanya, aku tak bisa membayangkan bagaimana aku akan sangat menyesal. 

Karena sebenarnya mahir menyembunyikan kesedihan, bukan hal yang salah; hanya saja tidak sehat. 

Energi yang ditimbulkan oleh emosi yang dipendam dalam jangka waktu yang lama tidak baik bagi tubuh maupun jiwa. Bahkan menurut penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Psychomatic Research, memendam emosi dapat meningkatkan risiko terkena penyakit kronis seperti jantung dan kanker. Para ahli pun menyarankan semua orang dapat mengutarakan emosi yang dirasakanya, terutama emosi yang menyedihkan. Karena selain baik bagi kesehatan fisik, menyampaikan emosi juga baik untuk kesehatan mental (Chapman, et al., 2013). 

Image by Adina Voicu from Pixabay 

Senada dengan itu Rasul Paulus pada jemaat di Galatia juga menyampaikan agar setiap orang mau berbagi dalam hal kesedihan dan beban. "Bertolong - tolonglah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." (Galatia 6 : 2). Tuhan yang paling mengerti bagaiamana kita semua sesungguhnya punya pergumulan yang harus kita hadapi. Tapi Tuhan tetap meminta kita, pun yang juga sama-sama punya beban, untuk saling berpanggulan.

Tidak hanya untuk orang yang terlihat dirundung kesedihan, tapi juga mereka yang terlihat baik-baik saja, apakah kita mau untuk sekedar menanyakan isi hatinya dengan nada lebih teduh?

Kita tidak pernah tahu bahwa mungkin mereka selama ini menunggu kita bertanya, agar beban itu terbagi. Agar malam ini dia tidak perlu menangis sendirian.

Mereka butuh orang-orang yang sungguh peduli untuk mampu melihat lebih jauh dari apa yang selama ini mereka tampilkan. Orang yang punya kebesaran hati untuk mau mendengarkan cerita orang lain, tanpa merasa ikut terbeban. 

Sungguh tidak ada rugi saat mendengarkan permasalahan orang lain, Begitu pun saat kita membagikan permasalahan kita dengan orang yang tepat. Karena keduanya akan sama-sama merasa terberkati, menguatkan kembali pengharapan dan saling bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus. 

Image by Bhakti Kulmala from Pixabay 

Dan bila tulisan ini sampai ke salah satu dari mereka, yang disebut pembawa keceriaan, ini pesan untuk kamu:

“Hai, si pembawa keceriaan. Mungkinkah ada hal lain yang mau kamu bagi denganku selain lelucon, kesedihan misalnya? Tidakkah kau lelah menyembunyikannya?  Tidak apa, kau cukup mencopot sebentar saja topeng tawamu saat bersamaku, karena aku telah siap membawa handuk untuk menghapus semua air mata mu, atau sekedar air putih bila akhirnya tenggorokanmu kering sehabis menangis. Aku akan memelukmu dengan erat dan setelahnya aku akan berdoa untukmu.”

– Dari seorang teman yang takut menyesal karena tidak bertanya.



LATEST POST

 

Bahagia itu konsep yang aneh, definisi umumnya adalah keadaan di mana kita menikmati hidup dan meras...
by Joshua Eldi Setio | 06 Apr 2020

“Dunia sedang sakit atau dunia sedang berduka” begitulah tanggapan setidaknya dari penga...
by Lefrandy Praditya Klaas | 06 Apr 2020

Hari ini Luna berulang tahun, ulang tahun kesekian yang tidak perlu disebutkan berapa angkanya. Seda...
by Surya Hadi | 06 Apr 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER