Memaknai "Berserah" Tatkala Tuhan Lagi-lagi Meremukkan Harapan-harapanku......

Best Regards, Live Through This, 17 November 2020
Se-ambyar apapun kita sekarang, sanggupkah kita berkata: Tidak pa-pa, Tuhan...

Sebentar lagi kita akan menyambut 2021. Sejenak, menjelang tahun baru tentu setiap kita perlu meluangkan waktu untuk berefleksi. Bagaimana selama setahun ini? Apa yang sudah saya capai? Apakah saya sudah senangkan hati Tuhan atau belum? Atau banyak rencana-rencana kita yang gagal, karena hampir sepanjang tahun ini kita diliputi dengan suasana pandemi?

Saya pribadi, tahun 2020 tidak merasa ada perubahan yang signifikan. Ada mimpi yang belum teraih. Bahkan boleh dibilang saya merasa hidup saya di ujung tanduk. Seperti Tuhan meremukkan rencana saya berkali-kali (saya tidak akan cerita tentang hidup saya, karena ini privacy yang belum siap untuk saya bagi, tapi yuk berefleksi bersama, mungkin ada yang merasakan hal serupa).

Namun pada 2020 ini hingga di penghujung tahun, saya belajar tentang sesuatu yang sangat berharga. Tentang arti ‘berserah’. Saya secara pribadi termasuk orang yang tidak bisa atau kurang bisa memaknai hal ini. Dari dulu, saya lebih cenderung untuk selalu berusaha keras, berdoa, melakukan yang terbaik... Tapi setelah saya berefleksi, kapan sih terakhir kali saya benar-benar mau berserah pada Tuhan? Rasanya, saya seorang pribadi yang sangat gengsi untuk melakukan itu. Jika berdoa saya selalu menyampaikan keluhan dan permohonan-permohonan saya.

Berserah memang bukan berarti menyerah. Berserah adalah ketika kita sudah melakukan bagian kita dan meletakkannya ke dalam tangan Tuhan. Namun, seringkali manusia tidak siap dengan hasilnya. Jauh di lubuk hati saya yang terdalam, saya merasa layak dapat yang terbaik dari Tuhan (menurut versi saya). Saya merasa layak dapat upah dari kerja keras saya, dari doa-doa saya. Hal inilah yang sering kali membuat saya jatuh pada kekecewaan demi kekecewaan.


Memang saya sudah berusaha dan berdoa tapi ketika hasilnya tidak seperti yang saya minta.. Mulai marah dan kecewa. Apa sih itu berserah? Terus saya harus gimana ini? Tuhan rencana saya gagal, saya harus gimana? Bingung, nggak ngerti, stres....

Sampai, akhir tahun ini... saya bener-bener mulai mengerti dan merasakan arti ‘berserah’. Saya masih mendapat doa-doa yang belum dijawab, harapan-harapan yang remuk, hidup serasa di ujung tanduk, nggak ngerti hari depan.. Saya punya banyak pikiran buruk. Saya membatasi Tuhan dengan pikiran saya seolah Dia nggak sanggup. Hingga akhirnya saya tidak punya pilihan selain hanya berdoa. 

Saya berdoa lebih sering. Saat saya merasa anxious, saya langsung tutup mata, lipat tangan, berdoa. Sampai segitunya saya rajin. Karena.. ya, saya merasa bisa tenang saat berdoa. Saya merasakan itu lebih dari biasanya. Saya bener-bener nggak punya pilihan selain ‘berserah’. Bener-bener... gini ya rasanya berserah. 

Kadang Tuhan membuat kita merasa terpojok, agar kita melakukan apa yang Dia mau. Kalau kamu bergumul tentang pengampunan, akan ketemu orang-orang yang nyakitin. Begitu pun, ketika ternyata saya sulit untuk berserah, Tuhan buat saya bener-bener terpojok. Tuhan bilang: Dia tahu, Dia lihat saat banyak malam saya habiskan dengan meneteskan air mata, saat saya menangis di bawah shower.



Saya nggak punya pilihan selain bergantung pada Dia. Selama ini ada kesulitan, tapi masih bisa diatasi sendiri, dengan minta tolong sama manusia, dll. Dalam keadaan begitu, mudah lho kita bersaksi bahwa pertolongan Tuhan itu nyata. Tapi saat ini... hmm... saya bener-bener merasakan.. nggak ada lho yang bisa menolong selain Tuhan.

Tetap bersyukur juga buat pencapaian-pencapaian yang mungkin tampak kecil tapi itu adalah pencapaian. Bersyukur buat hal-hal baik yang saya terima di tengah rasa sakit karena ‘dipaksa’ untuk berserah. Sampai sekarang saya masih belajar untuk menjalaninya dengan sukacita. Saya bukan orang yang sangat dewasa dalam rohani, bisa menerima segala hal dengan mudah, no. Untuk bisa bersyukur aja masih belajar, masih jatuh bangun, masih butuh komunitas. Se-ambyar apapun kita sekarang, sanggupkah kita berkata: Tidak pa-pa, Tuhan..

Di akhir tahun ini, summary selama setahun ini, secara pribadi Tuhan ingin saya berserah. Walau saya merasa sangat pahit. Tuhan sanggup menyelesaikan segala perkara. Baik atau tidak baik hasilnya, di mata Tuhan tetap baik. Ketika kita bisa menerima dan menjalaninya, di situlah kita mulai bisa berserah.  

Tahun 2021, nggak tahu bakal gimana. Tapi percaya, Tuhan ada. Dia sudah menyediakan semua yang baik, bahkan terbaik. Kita bisa memegang janji-janjiNya. Dia cuma minta kita untuk tidak takut, karena Dia akan selalu memegang tangan kita.


LATEST POST

 

Buat kalian pecinta YouTube, adakah dari kalian yang merasakan hal yang berbeda di awal tahun ini? K...
by Lay Lukas Christian | 22 Jan 2021

Just imagine, or remember, if you have this kind of story of life! One day, you met your “supp...
by Timothy Aditya Sutantyo | 22 Jan 2021

Berada dalam suatu persekutuan inklusif yang membangun iman percayaku kepada Allah Tritunggal dan da...
by Jerell Michael Cussoy | 21 Jan 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER