Sketsa Serigala di Tepi Laut

Best Regards, Fiction, 09 July 2022
Temukan siapa diri kita di cerpen ini, dan jadilah manusia mulia yang sesungguhnya. Happy reading!

Aku melihat gulungan ombak menghampiri tepian laut. Menghantam barisan batu karang lalu pecah, membentuk titik-titik air yang berhamburan liar di udara. Meninggalkan buih putih serta aroma asin.

Ironis. Aroma asin yang tertangkap indraku justru mengingatkan pada bau anyir. Dan entah mengapa, aku selalu mengaitkan anyir dengan sesuatu yang memilukan. 

Yang membuatku kesal, ingatan itu bak gambar bergerak. Terus-menerus berputar tiada henti. Seolah mengejek, lalu menudingku dengan tatapan serigala licik yang terkikik saat mangsanya sekarat.

Huh! Ingin sekali kuremukkan serigala-serigala macam itu. Namun, di luar kehendakku, nyatanya serigala-serigala yang terkikik itu bukan hanya berupa gambar bergerak, melainkan juga bersuara. Seperti gemuruh. Menggelegar. Memekakkan telinga.

Sontak indraku semakin waspada. Aku memindai langit, tetapi tidak ada halilintar. Mataku menyoroti mercusuar, tetapi tidak ada kelap-kelip atau pun sirene. Yang kulihat hanyalah segerombolan manusia yang berkelakar bak huru-hara.

Ya, itulah serigalanya!

Aku menjuluki mereka sebagai manusia-manusia yang menyebut dirinya mulia.

Mulia!

Aku sempat terbengong-bengong dengan kenyataan itu. Belum lagi bila menyandingkan kata “mulia” dengan mulut mereka yang meracau. Menyumpah. Bahkan mengutuk.

Mereka tidak hanya memaki langit lantaran tiada hujan. Mereka menghujat lautan yang terus-menerus memuntahkan bangkai, juga menulahi tanah karena tidak lagi menumbuhkan tunas unggul.

Semua yang keluar dari mulut mereka membuatku menggelengkan kepala.

Oleh karenanya, aku memilih untuk mengabaikan suara-suara tersebut. Sebab, aku ke sini bukan untuk mendengar ocehan manusia-manusia mulia itu. Persisnya, aku hendak mencari ilhamku yang hilang.



Sambil memejamkan mata, aku menyusup jauh ke dalam pikiran-pikiranku. Menggalinya. Mengaisnya, sampai ilham itu perlahan tampak seperti abu. Abu yang bertaburan di atas kertas lukis yang kubawa.

Buru-buru aku meraih pensil, lalu menata abu itu agar membentuk sketsa. Dimulai dengan garis horizontal untuk memisahkan lautan dari cakrawala, lalu ditambah liukkan diagonal sebagai batas daratan.

Belum sempat aku membubuhkan garis lainnya, manusia-manusia mulia tadi kembali bersuara. Kini mereka mengeluh karena panas.

Aku tahu, udara memang panas. Bahkan sangat panas! 

Tiba-tiba saja emosiku tersulut. Beruntung, mereka tidak mendengar ucapanku. Mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri.

Aku tidak memungkiri bahwa dingin adalah sesuatu yang istimewa bagi kami. Hampir sepanjang tahun, panaslah yang menemani aktivitas kami. Bagiku, dingin hanya bisa diukur dengan hitungan jari. Bukan lagi dengan termometer. Lalu apa gunanya mereka mengeluh?

Aku mendengus kuat-kuat layaknya serigala kepanasan. Dengan demikian kepalaku terasa dingin. Paling tidak, itu harus kulakukan supaya aku mampu menggambar sketsa dengan tenang.

Liukan diagonal mulai kutambah dengan arsiran tipis, tetapi tajam. Aku membuatnya dari sisi kiri, lalu turun. Setahap demi setahap, hingga bagian daratan membentuk pola seperti tanah yang terkelupas dan pasir yang beruap. Kering, di mana tak satu pun biji menumbuhkan tunasnya. Dan gambaran tersebut membuatku merenung cukup lama.

Bangkai!

Teriakan manusia-manusia mulia itu sekonyong-konyong membuatku melonjak kaget. Hampir saja kertas lukisku terlempar, untung segera kutangkap. Sambil mengerutkan kening, aku bertanya-tanya. Siapa yang bangkai?

Kembali kulihat wajah-wajah mereka dengan saksama. Tak satu pun menyiratkan bahwa mereka sedang memaki. Namun, tangan mereka justru sedang teracung ke bibir pantai di ujung cakrawala. Lantas aku pun menoleh.

Tetapi mataku langsung membulat.

Jauh di ujung sana, ada satu kompi bangkai ikan yang tersapu ombak. Aku tidak bisa melihat jelas bentuknya. Namun, aku meyakini satu hal: Ikan-ikan itu belum mau mati. Mereka terpaksa mati.

Terpaksa!

Aku hanya bisa menelan ludah. Onggokan tubuh mereka yang tertampar-tampar ombak begitu sulit dihempas dari pikiran.

Inilah anyir yang sesungguhnya!

Ilham yang kucari!

Jelas kejadian ini tidak akan kusia-siakan. Aku harus mengabadikan kematian para ikan di atas kertas lukis. Itu sebabnya, aku mulai menambahkan guratan-guratan halus di antara liukkan diagonal. Lengkung-lengkungnya tipis, kemudian kuarsir agar tampak menggembung dan nyata.



Ketika goresan pensil membentuk bulatan mata-mata ikan, masygullah hatiku.

Bangkai, tidak. Mayat, bukan. Aku tak sanggup menyebut ikan-ikan itu sebagai mayat, apalagi bangkai. Sekalipun mereka tidak memiliki akal budi, nyatanya merekalah yang pantas disebut mulia. Sudah berabad-abad, bahkan milenium demi milenium berlalu, mereka sudah mengabdikan diri kepada kami yang menyebut diri mulia.

Aku membayangkan mereka dengan gesit berenang memecah ombak. Mengarungi samudera raya nan luas. Menyelam hingga laut dalam untuk mencari makanan dan berkembang biak.

Nyatanya…

Pukat menangkap mereka. Oh, pukat itu masa lalu. Mungkin saja bom, tetapi itu terlalu sadis. Bagaimana dengan gelombang listrik? Ah, aku terlalu tinggi memikirkan sesuatu yang jauh. Zaman ini, ikan-ikan tidak mati karena hal-hal yang demikian.

Alasan yang paling dekat dengan kematian mereka adalah meningkatnya suhu lautan. Perlahan tapi pasti, mereka seperti digiring masuk dalam perangkap mematikan yang jauh lebih sadis dari pada pukat maupun bom.

Di benakku langsung terlintas sekumulan ikan yang megap-megap. Mereka berenang miring-miring karena sekarat, dan akhirnya terkapar. Mereka mengambang, terdampar, lalu membusuk. Kejadian-kejadian itu bak putaran sebuah film. Terlalu jelas.

Aku menarik napas dalam-dalam. Kukuatkan hatiku untuk mengarsir bagian perut ikan sampai membentuk siluet. Siluet yang seharusnya menyiratkan indahnya kegelapan, tetapi justru kelam karena menggambarkan kematian.

Ah, sudahlah! desahku pelan.

Petang ini, aku hanya ingin menyelesaikan sketsaku. Sebab, tiada petang dapat kulewati tanpa sebuah sketsa. Sepanjang hidupku, aku ingin terus melakukannya. Meluangkan waktu dengan mengamati alam di mana aku hidup. Duduk untuk merasakan betapa kecilnya aku di bawah kolong langit. Kecil. Bagai titik. Persis seperti butiran pasir pantai yang menyusup di sela-sela kuku kakiku.

Kini mataku berpaling ke bagian bawah garis diagonal yang masih kosong. Dengan apa aku mengisinya? Aku menoleh untuk mencari gagasan, tetapi justru melihat manusia-manusia mulia itu sedang menanggalkan kaus tipis yang mereka kenakan.

Mau apa mereka?

Mereka berlomba-lomba mencapai bibir pantai dan bermain di sana. Mereka tertawa terbahak-bahak. Mencedok air laut dengan kedua tangan, lalu mengayunkannya. Mereka saling berteriak kegirangan saat air mengenai wajah, lalu balik membalas perlakuan teman yang lain. Begitu terus selama beberapa menit.

Bisa-bisanya, ya? Aku menggelengkan kepala. Jika aku lautan, akan kusuruh ombak menelan mereka hidup-hidup. Belum puaskah mereka menghujat lautan?

Sekali lagi aku melayangkan pandangan ke onggokan ikan-ikan yang berada jauh di sana, lalu menatap lautan beserta ombak-ombaknya yang menggulung ke tepian. Bersama denganku, mereka seolah-olah menyaksikan ulah manusia-manusia mulia yang sedang berbahagia.

Di titik ini, aku menyadari mengapa hatiku tersayat. Pedih. Perih.

Untuk kesekian kalinya aku menghela napas. Lebih baik aku memalingkan pandangan, lalu meneruskan garis-garis yang belum terselesaikan.

Akhirnya aku menggambarkan beberapa garis vertikal, lengkap dengan lengkungan-lengkungan yang membentuk sosok makhluk mulia.

Makhluk itu berdiri dengan telunjuk yang teracung ke langit. Wajahnya beringas, dan perawakannya berisi seperti tong. Ya, mereka yang hidup di zaman ini umumnya memang demikian. Gemuk itu sebagai penanda bahwa di dalam tubuh mereka, ada banyak kuman patogen.

Berbeda denganku. Aku ini sehat, tetapi kurus kering. Bukan karena aku tidak suka makan. Bukan. Tubuhku seperti ini karena memang dunia sedang kelaparan. Aku hanya bisa makan, bila nelayan pulang sambil membawa ikan dan hasil laut lainnya. Bila tidak, ikan-ikan di lautlah yang menjadi saksi bisu.




Sambil memandangi sketsa, aku mendapati diriku tersenyum kecut. Cakrawala, laut, bibir pantai dan daratan. Juga ada onggokan ikan-ikan serta manusia gemuk. Itulah yang sudah terlukis di atas kertas. Itulah kenyataannya.

Dan menurutku, kenyataan akan semakin lengkap bila aku membubuhkan gelora laut yang menggulung ke pantai. Tak lupa dengan matahari yang bentuknya seperti busur di barat cakrawala. Tak lupa pula pohon nyiur yang daunnya terhempas oleh angin kencang, disertai awan hitam yang menggumpal.

Seolah-olah mereka tertawa.

Bersukacita sambil menunjukkan gagahnya.

Membuat siapa pun takut melihatnya.

Memaksa siapa pun yang menantang, berlutut.

Gejolak emosi itu terus berkecamuk tidak hanya di hati, melainkan juga pikiranku. Mempengaruhi seluruh indraku, menjadi terpusat sepenuhnya pada sketsa pensil yang sedang kubuat. Tangan-tanganku pun bergerak semakin cepat. Menambahkan titik-titik di sebelah sini, dan mengarsir garis di sebelah sana. Sesaat ujung jariku menggesek kertas untuk menyamarkan guratan pensil agar objeknya tampak halus, tetapi kemudian aku perlu menambah guratan kasar.

Entah berapa lama aku tertunduk, tetapi setelah sketsaku jadi, aku sedikit merasakan kelegaan. Indraku pun mulai teralihkan. Bukan lagi pada gambar pensil yang kubuat, melainkan pada bau-bauan yang….

Sekarang, manusia-manusia mulia itu tidak lagi bermain air. Beberapa dari mereka duduk melingkar mengelilingi perapian. Sebagian sedang mengeringkan tangan, sebagian lagi membakar ikan menggunakan ranting-ranting.

Belum sempat aku memikirkan kapan dan bagaimana mereka memancing, tiba-tiba mereka bertepuk tangan. Menyoraki dua orang kawan yang berjalan ke arah mereka sambil menjinjing enam ekor ikan berukuran besar.

“Kita makan enak petang ini!” seru seorang yang perutnya paling buncit.

Seraya mencibir, rekan mereka menyahut. “Lebih-lebih karena kita tidak perlu bersusah payah seperti para nelayan yang tolol itu!”

“Ah, sudah. Nikmati dulu tangkapan yang kudapat dari sana!” Seorang dari mereka menyela, sorot matanya lalu tertuju pada onggokkan ikan-ikan yang mengapung miring-miring di ujung cakrawala. “Persediaan kita masih banyak.”

Tiba-tiba saja perutku terasa mual usai menyaksikan drama konyol dari manusia-manusia mulia itu. Mualku bercampur dengan luka dan duka. Terlebih ketika aku membandingkan kejadian-kejadian petang ini dengan sketsa yang kini sudah selesai. Ternyata, baik yang keluar atau pun masuk ke mulut mereka sama-sama membuatku menggeleng. Jijik.

Beruntung sketsaku hitam dan putih. Aku tidak ingin mereka dan juga orang-orang yang hidup di zaman yang akan datang mengetahui warna asli kehidupan kami zaman ini. Suatu saat, bila seseorang menemukan sketsaku, biarlah mereka hanya melihat gambarannya, tetapi tidak menjadi mual.

LATEST POST

 

Artikel ini merujuk pada Roma 3:9-12.Akhir-akhir ini, perselingkuhan seolah-olah menjadi “tren...
by Sandra Priskila | 28 Nov 2022

“MANTRAAAA.... AJI!!”Masih ingat dengan tokusatsu fenomenal era 90-an ini? Sebuah tayang...
by Alviedo Yuda | 28 Nov 2022

... namun, apakah dosa hanya sekadar perbuatan jahat saja? bagaimana proses manusia bisa jatuh dalam...
by Samuel Semeion | 25 Nov 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER