Perjalanan Menemukan Diri, Semoga Kita Tidak Lekas Berhenti

Best Regards, Live Through This, 03 March 2020
"Ada dua hari terpenting dalam hidup kita," tulis Mark Twain, "hari saat kita dilahirkan dan hari saat kita mengerti kenapa kita dilahirkan."

Namun bagaimana jika ‘hari yang kedua’ itu seperti tak kunjung tiba, sedangkan segenap kegelisahan merongrong begitu rupa? Ketika berbagai pertanyaan internal tidak sekadar mengusik, melainkan memberondong dan menuntut jawaban paling paripurna? Ekstremnya, bukankah hidup yang demikian banal jadi tak layak untuk dijalani lagi? 

Saya sempat bergumul sangat panjang mengenai siapa diri saya dan apa signifikansi kehidupan saya, hingga di satu titik, ketika desakan di dalam kepala makin ganas menginvansi, saya memilih untuk berhenti.

Awalnya saya berhenti mengerjakan apa yang bisa dan biasa saya lakukan. Lalu, saya berhenti menginginkan. Saya menjadi manusia yang berhenti bertumbuh. Hingga, saya berhenti bermimpi. 

Hari-hari setelahnya,  saya merasa seperti sedang mengitari labirin yang ujungnya itu-itu saja. Muram. Buram. Hidup menjadi stagnan di fase "hang in there." Bertahan dari hari ke hari saja cukuplah. Sudah untung saya tidak mengeksekusi ide-ide yang lebih gelap dari itu.

Persepsi saya terhadap Sang Khalik juga banyak guncang, bahkan gugur. Ada rasa marah,  kecewa dan ditinggalkan. Mengapa Tuhan hanya berdiam diri? Mengapa keberadaan saya seolah-olah cuma hasil lotere genetis dan ketidakberaturan kosmos?

Menuju pertambahan usia ke-23, salah satu teman baik saya bahkan mengirimkan pesan, "Aku perhatikan, kamu kehilangan warnamu yang personal." Ah, akurat. Seandainya kami bertemu langsung, akan dia dapati saya memang terengah-engah dan sedang hilang arah.


Photo by Yuris Alhumaydy on Splash


Kalau kamu berharap tulisan ini menyertakan kesaksian yang sensasional, kamu salah besar. Tak ada titik balik spesifik yang selanjutnya memutarbalikkan keadaan. 

Sungguh, tidak ada suara magis atau peristiwa ajaib yang menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang paling eksistensial. Namun, bukankah itu yang justru dialami oleh kebanyakan orang percaya, bahwa tak semua orang beroleh anugerah mengalami momen putar arah yang dramatis untuk dituturkan ulang?

Kebanyakan dari kita pada akhirnya tetap menyimpan pertanyaan-pertanyaan besar di dalam kepala, seraya menahankan luka-luka yang diakibatkannya. Lalu, entah dengan pura-pura tegak atau mati-matian merangkak, kita kembali mengabdikan diri pada rutinitas banal di depan mata. 

Pertama, karena ada tanggung jawab yang terlanjur mengikat. Ada keluarga yang patut dipikirkan. Ada perut yang wajib dikenyangkan, dan seterusnya, dan seterusnya.

Kedua, karena sang waktu nyatanya tetap bergulir, dengan kita  yang sudah atau belum berdamai dengan segala sesuatu. Tak terasa, hari sudah petang. Tak terasa, usia makin matang. Tak terasa, tenggat ini-itu menjelang. Mau termangu sampai kapan?

Ketiga, karena entah bagaimana, ada topangan yang terus saja menyokong jalan. Sekeras apa pun saya berusaha meminimalisir penyebutan peran Tuhan, Ia setia memunculkan jejak di dalam keseharian dan kesederhanaan.

Saya mendapati Tuhan melalui pertolongan-pertolongan kecil yang tiba tepat waktu. Saya meraba hadir-Nya melalui perhatian hangat dari mereka yang terdekat. Saya sayup mendengar bisik-Nya melalui riuh-rendah yang saling bersahutan di jalanan. 

Sedikit banyak, saya pun mengalami--seperti cerita Ibu Theresa dalam pergumulan imannya--melihat wajah Yesus pada wajah-wajah orang yang ia layani setiap hari.

Pernah saya coba, menguliti bias-bias agamis demi membuktikan premis, "Jika memang harus saya sendiri yang mengambil-alih kemudi dalam membuat pemaknaan hidup ini, sekalian saja sosok Tuhan, institusi gereja, beserta segala atribut spiritual lainnya, saya lepaskan sama sekali!"

Namun tidak, tidak semudah itu kita mangkir dari tangan Tuhan, meski kita pikir telah luput dari rengkuhan-Nya. Pada unsur kehidupan saya yang paling mikroskopis dan subtil sekalipun, Sang Alfa dan Omega ada di sana, memberi konteks tentang segala.

Keberadaan saya secara penuh terkandung dalam kedaulatan Tuhan yang teguh. Asal-muasal saya, proses gumul-juang saya, bahkan apa yang membayangi saya di balik daun pintu kematian, semuanya terefleksi di deretan ayat-ayat kudus.

Tuhan rupanya lekat, dalam desah nafas yang saya hela ketika diterpa tekanan berat. Tuhan rupanya larut, dalam tetes air mata yang mengucur ketika impian jadi carut-marut. 

Saya dan Tuhan semestinya manunggal, dosa lah yang menjadi satu-satunya pengganjal. Ini pun tetap dilingkupi fakta: Secara ontologis saya memang pendosa sejati, tetapi saya ini pendosa sejati yang amat Dia kasihi. Bersamaan dengan keberdosaan saya yang meresap hingga ke sendi-sendi, kasih-Nya merembes jauh, dan jauh lebih dalam lagi.


Photo by Joel Muniz on Unsplash


Jadi, bagaimana ujungnya?

Mungkin sekarang kamu mengharapkan ending tulisan yang bahagia. Sayangnya, saya harus menurunkan ekspektasimu lagi karena saya tidak mempunyai jawaban sederhana.

Soalnya, begini… ada yang tak kalah penting dari keberhasilan menemukan jawaban yang tepat. Yaitu mengajukan pertanyaan yang tepat, kepada Pribadi yang juga tepat. Maka, jangan ragu menghadap tahta kasih karunia Tuhan dan menggugat. 

Sang Pencipta tidak ciut pada pertanyaan-pertanyaan kita yang terbesar. Sebab Ia tahu, kitalah yang sebenar-benarnya butuh waktu untuk mencerna, pun menghadapi, pertanyaan-pertanyaan kita sendiri. 

Dalam perjalanan menghayati hidup, yang terbaik yang bisa kita lakukan mungkin memang adalah terus menapak. Terus mencari. Terus mengetuk. Seraya terus mengingat bahwa kita tidak pernah menjelajah sendirian.

Saya dan kamu bukanlah musafir yang ditelantarkan. Saya dan kamu adalah kumpulan anak yang sedang jatuh-bangun belajar di jalan pemurnian.

Dalam proses menemukan diri bersama-Nya, semoga saya, dan juga kamu, tidak memilih untuk berhenti lebih cepat dari yang seharusnya.

LATEST POST

 

Mungkin saya akan memulai artikel ini dengan sebuah pernyataan kontroversial Ayub. “Mengapa or...
by Lay Lukas Christian | 31 May 2020

Ketika mendengar bahwa di Surabaya Raya akan diterapkan PSBB pada pertengahan April lalu, sedikit ba...
by Kevin Susanto | 31 May 2020

Salah satu hobi saya adalah menonton konser, terutama grup musik cadas (rock). Selain musiknya, sela...
by Christan Reksa | 30 May 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER