QUO VADIS DOMINE?

Going Deeper, God's Words, 21 May 2022
Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau. - Mazmur 139 : 7-8

Apa yang akan kita lakukan bila kita merasa tidak nyaman ketika berada di suatu tempat? Bisa saya tebak, tentu kita pasti akan segera memilih untuk pergi dari tempat itu sesegera mungkin. Begitu pula dengan yang saya lakukan ketika menghadiri sebuah acara, tetapi di sana saya justru bertemu beberapa orang yang membuat saya tidak nyaman. Saya pun memikirkan bagaimana cara untuk segera meninggalkan acara tersebut.

Sebagai manusia, menurut saya wajar ketika kita membutuhkan rasa nyaman dalam kehidupan. Dalam Hierarchy of Needs: A Theory of Human Motivation, Maslow menuliskan bahwa salah satu kebutuhan utama manusia adalah rasa aman (security needs). Maslow mengacu pada tuntutan keamanan setelah kebutuhan fisiologis telah terpenuhi dengan baik. Contoh tuntutan keamanan ini ada pada hal-hal fisik, stabilitas, ketergantungan, perlindungan, dan kebebasan dari kekuatan yang mengancam seperti kejahatan, perang, terorisme, penyakit, ketakutan, kecemasan, bahaya, kerusuhan, dan bencana alam. Tak hanya itu, menurut Maslow, tuntutan rasa aman secara psikologis juga dibutuhkan, yang dapat membahayakan kesehatan mental, seperti menghindari ejekan, hinaan, atau stres, antara lain. Berangkat dari hal ini, dapat saya simpulkan bahwasannya manusia memang sangat membutuhkan kenyamanan dalam kehidupan.


Photo by MOHD AZRIN on Unsplash


Lantas, bagaimana bila kita sedang merasa tidak nyaman? 

Bila merujuk kepada penuturan Maslow bahwa manusia membutuhkan rasa nyaman dan aman, tentunya kita akan mencari berbagai cara untuk kita merasa nyaman. Mungkin saja kita menghindar, pergi meninggalkan hal yang tidak membuat kita nyaman seperti yang saya lakukan dalam acara tadi. Kita akan melakukan berbagai cara untuk kita menemukan kenyamanan atau menemukan rasa aman dalam kehidupan kita, dan menghindar menjadi salah satu jawabannya. 

Sebagai seseorang yang ambivert, saya memiliki sisi introver. Dalam beberapa momen hidup sejauh ini, saya menemukan bahwa ada kalanya saya menarik diri dari banyak orang atau banyak hal untuk menyendiri. Menyendiri terkadang membuat saya nyaman. Menyendiri terkadang membuat saya menemukan sisi keamanan karena saya tak harus berjumpa dengan orang lain. Di sini, saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa introver atau menyendiri merupakan hal yang salah, tetapi contoh ini membantu saya memaknai bahwa kesendirian menjadi salah satu cara saya menemukan rasa aman dan nyaman. Tentunya mungkin ini juga tidak bisa sepenuhnya relate dengan kehidupan Ignite People. Namun sepertinya IGNITE People pun memiliki cara tersendiri untuk mendapatkan rasa aman atau comfort zone-nya masing masing. Pertanyaannya, apakah menghindar akan selalu menjadi cara terbaik untuk memiliki diri yang bertumbuh?


"Quo Vadis Domine?"

Dalam sebuah cerita legenda gereja, kala itu terjadi penyiksaan besar-besaran yang dilakukan Kaisar Nero kepada jemaat Kristen mula-mula di Roma. Kaisar Nero menyebarkan isu bahwa orang Kristenlah yang seharusnya dipersalahkan atas kebakaran besar yang terjadi di kota Roma kala itu, padahal banyak dugaan bahwa dialah yang melakukan pembakaran tersebut. Akibatnya, terjadilah pemburuan besar-besaran terhadap orang Kristen di Roma. Mereka dipenjara dan dipaksa untuk meninggalkan iman kepada Yesus dan tunduk pada Kaisar saja. Namun, orang-orang Kristen di Roma enggan dan tetap mempertahankan imannya. Tindakan ini tampaknya telah memicu gelombang penganiayaan terhadap orang-orang Kristen, bukan dari para pembangkang agama, tetapi dari kekuatan politik yang bermaksud memusnahkan mereka karena dianggap mengangkat raja mereka sendiri dan mendirikan negara mereka sendiri. Akhirnya, orang-orang Kristen ini dimusnahkan dengan berbagai cara. Ada yang menjadi makanan bagi singa-singa yang kelaparan, ada juga yang dibakar hidup-hidup di tiang tiang jalan pada malam hari dan menjadi penerangan jalan. Tidak heran bila banyak dari mereka yang mati menjadi martir. Sungguh hal yang begitu berat dijalani oleh orang Kristen di Roma kala itu untuk tetap mempertahankan imannya kepada Yesus Kristus. 

Akibat huru-hara dan kondisi yang tidak baik baik saja dalam jemaat di Roma kala itu, Petrus—rasul dan murid Yesus yang terkenal paling pemberani dan militan serta bersemangat—memutuskan untuk lari meninggalkan kota Roma. Ketika sedang melarikan diri itulah, Petrus berjumpa dengan Yesus di sebuah lorong di Via de Apia di luar kota Roma.

Melihat Sang Guru, Petrus pun bertanya pada-Nya, "QUO VADIS DOMINE?" yang berarti, “Hendak pergi ke mana Kau, Tuhan?”

Yesus menjawab, “EO ROMAM ITERUM CRUCIFIGI,” yang berarti, “Aku hendak kembali ke Roma untuk disalibkan lagi.”



Petrus menyadari panggilannya untuk kembali ke Roma dan menghadapi kematiannya setelah mendengar jawaban Yesus. Bahkan tampaknya dia juga berusaha membujuk Yesus untuk tidak mengunjungi Roma karena ada kerusuhan besar di sana. Orang Kristen yang juga merupakan pengikut Yesus dianiaya, diancam, dan bahkan dibunuh. Bagaimana mungkin Sang Guru ke sana "hanya" agar dihukum kembali seperti yang terjadi 30 tahun sebelumnya?

Kalimat permintaan Petrus lebih dari sekadar sapaan belaka, bahkan merangkum sifat kepura-puraan kita sebagai manusia. Kita sudah tahu, tetapi kita masih bertindak seolah-olah kita tidak tahu. Sementara Petrus sedang bergegas meninggalkan Roma, langkah Yesus cukup terlihat dan tampak tergesa-gesa mencapai kota Roma. Tuhan Yesus menjawab dengan tegas dan penuh semangat bahwa Dia hendak memasuki kota Roma dengan sikap berperang untuk menemani umat-Nya. Petrus sangat terkejut sesaat sebelum merasa bersalah dan terhakimi. Dia mengenali perilakunya yang sangat pengecut dan sembrono hanya mencari kenyamanan dan keamanan untuk dirinya sendiri.

Kita tentu mengenal Petrus. Murid Tuhan yang selama ini terkesan sangat pemberani. Masih ingat di dalam kisah perjamuan malam terakhir Yesus bersama para murid? Di situ, Petrus dengan gagah berani ingin membela Yesus. Alkitab mencatat beberapa versi yang menceritakan betapa gagah beraninya Petrus. Contohnya saja dari beberapa bagian berikut:


Kata Petrus kepada-Nya: ”Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!"  Yohanes 13:37


Kata Petrus kepada-Nya: "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau."  —Matius 26:35


Jawab Petrus: "Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati  bersama-sama dengan Engkau!" 

—Lukas 22:33


Kita tahu bersama bahwa pada akhirnya Petrus menyangkal Yesus sebanyak tiga kali hingga ayam berkokok. Kejadian ini kembali terulang di masa akhir hidup Petrus. Dengan ciut ia berusaha lari keluar dari kota Roma. Petrus menghindar, dia lari. Ini kembali mengingatkan kita bagaimana hal yang persis sama ketika sebanyak tiga kali dia menyangkal Yesus di pelataran halaman rumah imam besar karena ketakutan untuk mengakui Yesus sebagai Gurunya. Perjumpaan Petrus dengan Yesus di jalan keluar dari Kota Roma akhirnya menyadarkannya, sama ketika dia diingatkan oleh ayam yang berkokok. Namun kali ini, Petrus tidak keluar untuk menangisi perbuatannya, melainkan dengan sepenuh hati dia kembali ke Roma. Sesaat ia tertegun dan menyesali perbuatannya itu, tetapi dia segera berbalik menghadapi kematiannya di Kota Roma. Menurut tradisi Kristen, Petrus akhirnya mengakhiri hidupnya di kayu salib. Sebelum meninggal, Petrus mengatakan bahwa dia tidak pantas untuk disalibkan dengan kepala di atas seperti Tuhannya, jadi dia memilih untuk disalibkan dengan kepala di bawah. Tanpa rasa takut dan gigih, Petrus pun menyelesaikan narasi hidupnya dengan ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan yang diimaninya.



Gambaran di atas masih berlaku dalam kehidupan kita saat ini. Bukankah cara Petrus itu menggambarkan kehidupan kita?  Kadang-kadang kita tergoda dan terpenjara oleh kenyamanan dan keamanan. Sebagai manusia, kita sering menginginkan kenyamanan yang hanya terfokus pada diri kita sendiri, oleh karena itu kita berusaha untuk menghindari berjalan di "jalan salib". Perjumpaan Tuhan Yesus dengan Petrus dalam upayanya untuk melarikan diri itu sejatinya memberitahu kita bahwa Tuhan Yesus juga ingin kita terus menghidupi "jalan salib" sesuai dengan kondisi saat ini. Bukan hal yang mudah bagi kita memikul salib dan berusaha meninggalkan segala zona nyaman yang mengekang kita dari hidup yang dikehendaki Tuhan. Wajar menurut saya, karena jika kita melihat kembali pada hierarki kebutuhan Maslow, manusia memang terus-menerus membutuhkan rasa aman. Pertanyaan “Quo Vadis Domine" mendorong kita senantiasa untuk selalu bertanya apakah kita berada di jalur yang benar dengan Tuhan saat kita menjalani hidup. Menjadi seorang Kristen tidak berarti bahwa kita semua sepenuhnya memahami kehendak Tuhan. Namun, bukankah kurangnya pemahaman kita—di sisi lain—justru membawa kita lebih dekat kepada-Nya? 


Photo by tommao wang on Unsplash


“Quo Vadis Domine” seharusnya menjadi doa kita setiap hari. Ke mana pun Yesus pergi, seharusnya ke situ pula kita pergi. Tentu ini bukan berbicara secara literal, tetapi bagaimana kita berproses dalam mengikuti Tuhan—bahkan dalam setiap hal yang kita lalui, baik itu sukar maupun terasa mudah untuk dilakukan. Akan sulit jika kita masih mengedepankan ke-aku-an bila kita hendak mengikut Tuhan, termasuk mengikutinya di "jalan sengsara". Sungguh menarik ketika melihat respons Petrus yang sesegera mungkin kembali ke Roma. Tanpa berpikir panjang, dia segera kembali kepada jalan yang harus ditempuhnya, yaitu kematian. Saya teringat pada sebuah seruan pemazmur ini:

Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau. - Mazmur 139:7-8

Pemazmur menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang luput dari perhatian Tuhan. Apa pun yang kita lakukan, Tuhan sudah tahu. Bahkan Dia sudah mengetahuinya jauh sebelum kita hadir di dunia ini. Yang kemudian menjadi refleksi bagi kita, menyadari kemahatahuan dan teladan yang telah Tuhan lakukan, apakah kita mau senantiasa mengikuti-Nya sekalipun kesengsaraan—bahkan kematian—adalah hal yang harus kita tempuh?


Sebuah lagu dari KJ 376 berjudul Ikut Dikau Saja Tuhan menyadarkan kita sama seperti Petrus yang disadarkan oleh perjumpaannya dengan Yesus dalam usahanya untuk melarikan diri. Melalui lagu ini, kita dikuatkan dan terus disadarkan bahwa mengikut Tuhan—walau dalam sengsara sekalipun—adalah kerinduan kita. Tuhan sejatinya adalah jalan damai bagi kita. Melalui Tuhan yang kita kenal di dalam Yesus Kristuslah kita beroleh keselamatan yang sentosa. Dalam Dia sajalah kita menemukan kebahagiaan di setiap kesengsaraan kita. Walau tak mudah jalan kita, kasih Tuhan senantiasa menguatkan setiap langkah kita dan membuat kita terus berani untuk melangkah, bahkan dalam lembah yang kelam. Karena kita percaya Tuhan yang menjumpai Petrus kala itu adalah Tuhan yang juga senantiasa menyertai dan memberikan kekuatan untuk menapaki setiap langkah dalam kehidupan, meskipun salib kita menekan kita begitu berat. Kiranya lagu ini dapat menjadi doa sekaligus harapan bagi setiap kita untuk terus sadar bahwa janji Tuhan itu teguh walau kita harus menempuh kesengsaraan.


“Quo Vadis Domine?”


Selamat terus berjalan bersama-Nya. Tuhan menguatkan kita semua berjalan walau dalam kegelapan dan ketidakpastian sekalipun


Soli Deo Gloria

LATEST POST

 

Artikel ini merujuk pada Roma 3:9-12.Akhir-akhir ini, perselingkuhan seolah-olah menjadi “tren...
by Sandra Priskila | 28 Nov 2022

“MANTRAAAA.... AJI!!”Masih ingat dengan tokusatsu fenomenal era 90-an ini? Sebuah tayang...
by Alviedo Yuda | 28 Nov 2022

... namun, apakah dosa hanya sekadar perbuatan jahat saja? bagaimana proses manusia bisa jatuh dalam...
by Samuel Semeion | 25 Nov 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER