Mengampuni seperti Yesus mengampuni : Refleksi Jumat Agung

Best Regards, Live Through This, 14 April 2022
Kitab-kitab Injil memberitahukan kita bahwa Yesus menjadi korban dari tragedi kemanusiaan atas nama agama dan politik yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Maka kita seringkali menganggap orang-orang Yahudi saat ini adalah orang-orang yang berdosa berat karena menyalibkan Tuhan kita. Tetapi sadarkah kita bahwa orang-orang yang menyalibkan Yesus adalah diri kita juga?

Sebelum masuk kepada refleksi saya mengenai Jumat Agung ini, saya mengajak Ignite People untuk melihat lukisan di bawah ini.



Bagi sebagian besar orang Kristen (mungkin juga Ignite people sendiri), lukisan ini terasa cukup asing. Kita biasanya menyaksikan lukisan penyaliban Yesus seperti thumbnail artikel ini. Namun, lukisan di atas tidak cukup familiar karena perspektifnya tidak banyak digunakan oleh para pelukis. Bahkan pelukisnya pun bukanlah seorang Kristen!

Lukisan di atas berjudul “White Crucifixion” karya Marc Chagall. Lukisan ini merupakan refleksi atas tragedi Holocaust yang menewaskan enam juta warga Yahudi. Seperti yang Ignite People lihat, Yesus digambarkan disalib di tengah-tengah suasana perang. Yesus hanya bisa memandang lesu orang-orang Yahudi yang berlari-lari menyelamatkan diri dari tentara Nazi Jerman dengan keadaan kacau. Menariknya, Yesus digambarkan sebagai orang Yahudi: mengenakan ikat kepala dan kain tallit (kain tudung kepala yang dipakai orang Yahudi ketika beribadah). Gambaran yang jarang kita temui dalam lukisan-lukisan penyaliban umumnya, bukan? Tidak hanya sebagai manifestasi refleksi, Chagall juga sedang mengkritik orang-orang Kristen yang sering kali melepaskan Yesus dari identitas keyahudian-Nya dengan sengaja. Padahal Yesus bukanlah seorang Kristen, apalagi orang Eropa!

Kritik Chagall ini bukanlah tanpa dasar. Selama berabad-abad, orang Yahudi menjadi korban kebencian gereja dan Christendom di abad pertengahan. Mereka dibenci karena mereka dianggap sebagai keturunan dari orang-orang yang menolak dan menyalibkan Yesus. Gereja bahkan menyebut mereka sebagai kaum yang "buta hatinya", sebab mereka tidak mampu melihat Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan Allah melalui nubuatan para nabi dalam kitab Tanakh. Bahkan dalam sejarah tradisi gereja, terdapat suatu doa yang disebut sebagai Oratio Pro Perfidis Judaeis (Doa untuk orang Yahudi Yang Durhaka). Doa ini merupakan bagian dari doa-doa umat yang terdapat dalam liturgi ibadat Jumat Agung Gereja Katolik. Isi doa tersebut memohon agar Orang Yahudi dibuka hatinya untuk mengakui Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan. 

Doa ini bertahan hingga abad modern ini dan terus diucapkan setiap kali ibadah Jumat Agung, hingga akhirnya doa ini direvisi karena sangat offensive bagi orang Yahudi. Mengapa? Karena terminologi "perfidis" (durhaka) menuduh mereka sebagai orang yang kejam. Akhirnya gereja membuka diri dan merevisi doa tersebut menjadi doa permohonan agar umat Yahudi sebagai penerima wahyu pertama senantiasa dikasihi Allah. Doa ini menjadi lebih inklusif.

    Photo by Matthew Angus on Unsplash 

Momen Jumat Agung menjadi momen bagi kita—sebagai orang percaya—untuk mengenang misteri ilahi yang menyelamatkan kita dari hukuman kekal akibat dosa. Kita mengenang sengsara dan kematian Kristus yang begitu mengenaskan dan tidak berperikemanusiaan.Sebagai dasar pengenangan peristiwa penyelamatan, Alkitab juga menceritakan kepada kita betapa kerasnya hati pemimpin-pemimpin Yahudi beserta umatnya, hingga mereka tega membungkam rasa kemanusiaan mereka dengan membunuh Sang Mesias. Namun, sadarkah kita bahwa sering kali kita juga menjadi seperti mereka? Ketika merefleksikan sengsara dan kematian Kristus sebagai bentuk kebutaan orang Yahudi, sering kali kita tidak menyadari bahwa "kebutaan" tersebut juga adalah "kebutaan" kita terhadap Kristus. Seberapa sering kita menundukkan nilai-nilai kemanusiaan dengan ego kita? Seberapa banyak kita tidak memperhatikan, bahkan menindas liyan atas nama agama? Seberapa sering kita merasa telah menjadi orang-orang yang "suci" ketika beribadah, tetapi kembali berdosa—apalagi tanpa rasa bersalah—setelah ibadah atau persekutuan usai?

Berbeda dari kita yang berdosa, Kristus sebenarnya telah menjadi sama seperti kita dalam kemanusiaan-Nya, kecuali dalam hal dosa karena Dia adalah pribadi yang sempurna (Ibrani 4:15). Yesus pun mengalami dinamika kehidupan sebagai manusia, sehingga Ia tahu apa yang dialami manusia ketika manusia melakukan dosa. Oleh karena itu, Yesus memiliki misi untuk membaharui hidup manusia melalui jalan salib-Nya. Di sana, Ia benar-benar mengalami penderitaan yang diberikan manusia kepada-Nya, termasuk oleh kita. Maka kita tidak luput dari kelompok orang yang menyalibkan Yesus!

Injil memberitahukan kepada kita bahwa Yesus berdoa kepada Bapa dari atas salib supaya Bapa mengampuni mereka yang menyalibkan-Nya (Lukas 23:34). Sebenarnya, Yesus tidak hanya memohonkan ampun bagi orang-orang Yahudi saja, melainkan juga bagi kita. Penderitaan akibat siksaan baik secara fisik maupun psikis ditimpakan kepada Yesus melalui sikap dan perilaku kita. Yesus menderita hingga Ia memohonkan ampun bagi kita, karena Yesus tahu bahwa kita adalah manusia yang rapuh di dalam dosa. Karena kita rapuh dan tetap akan rapuh, maka Yesus memberikan kita sebuah makna dalam kerapuhan. Kristus telah menanggung kerapuhan kita agar kita bangkit menjadi seorang yang penuh kasih dan berbela rasa terhadap sesama manusia yang rapuh. Kita mesti sadar bahwa kita seringkali tidak mengasihi sesama karena kerapuhan kita. Dengan permohonan ampun-Nya. Yesus menyadarkan sekaligus mengampuni kita atas tindakan kita.


Photo by Christoph Schmid on Unsplash 


Kembali pada lukisan “White Crucifixion” dan Oratio et pro perfidis Judaeis, saya mengajak Ignite People untuk mulai memiliki suatu perspektif baru dalam memandang saudara-saudara kita, umat Yahudi. Pada masa lalu, nenek moyang mereka memang pernah membunuh Yesus, Tuhan kita. Namun, bukan berarti mereka yang hidup bersama kita di abad ini juga adalah pembunuh. Nenek moyang mereka juga pernah menganiaya para pendahulu iman kita. Namun, bukan berarti mereka yang hidup bersama kita sekarang juga adalah penganiaya kita. Sejarah juga mencatat bahwa pendahulu iman kita membalas dendam terhadap mereka dengan menindas mereka melalui jalur politik. Mereka juga menjadi korban tragedi kemanusiaan yang memilukan dan menakutkan yang dilakukan atas nama ras dan agama. Dengan doa Yesus yang diucapkan di atas kayu salib, kita perlu menyadari akan kerapuhan dan keberdosaan kita, sehingga tidak ada kata dendam yang perlu dibalaskan.


Selamat menghayati kasih Allah dalam pengorbanan Kristus. Selamat menghidupi nilai pengampunan dan bela rasa yang diberikan Kristus kepada kita. Amin.

 

---


Artikel ini disadur dari paper akhir mata kuliah Yudaika milik penulis di Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana berjudul “Mencabut Duri dalam Duri: Polemik Birkat HaMinim-Oratio Pro Perfidis Judaeis dan Dinamikanya Bagi Relasi Yahudi-Kristen” Paper bisa dibaca di sini.

LATEST POST

 

Mazmur 42:2-3“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan E...
by Valentine Ibrahim | 23 May 2022

Sebuah kalimat yang melekat, buat saya, terhadap pendeta Budi Santoso Marsudi, adalah ketika Jumat A...
by Victor Hasiholan | 23 May 2022

Fenomena anak indigo tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Apalagi akhir-akhir ini, banyak content...
by Monica Petra | 23 May 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER