Manusia Baru

Going Deeper, God's Words, 25 January 2022
Bulan pertama di tahun yang terbaru ini sudah hampir selesai. Bagaimana dengan progres resolusi yang kita buat di penghujung tahun yang lalu? Atau kita sudah terlalu lelah untuk membuat resolusi dan berupaya untuk memperbaharui diri? Apa kata Rasul Paulus tentang menjadi Manusia Baru?

Bacaan Alkitab: Kolose 3: 5-17

Dalam sebuah sit com yang menjadi salah satu tontonan favorit saya, bertajuk “How I Met Your Mother”, ada satu peran fiktif bernama Barney Stinson yang punya banyak tagline andalan. Satu yang cukup menarik di antaranya adalah: “New is Always Better!”.

Apakah Anda setuju dengan pernyataan tersebut? Benarkah sesuatu yang baru itu PASTI SELALU lebih baik?

Perikop bacaan kita hari ini diberi judul oleh LAI: “Manusia Baru”. 

Pada ayat 1-4, Paulus mengingatkan khususnya bagi Jemaat di Kolose saat itu bahwa mereka telah dibangkitkan di dalam Kristus. Mereka harus menanggalkan manusia lamanya. Menurut saya, nasihat Paulus tetap relevan dengan situasi kita saat ini. Sebagai umat yang menyatakan diri sebagai Pengikut Kristus, apakah kita sudah mengikuti gaya hidup Kristus?

Mari kita cermati bersama-sama. Dari Kolose 3:5-17, ada 3 hal besar yang dapat kita renungkan bersama:

1. Dengan sadar mematikan manusia lama (Kolose 3:5-10)

Di ayat 5, Paulus memulai nasihatnya langsung to the point tanpa basa-basi dengan kata: “Matikanlah!”.

Serem ya, kita disarankan Paulus untuk “MEMATIKAN”. Ini kalau diucapkan dengan logat Nenek saya dari Tana Toraja, akan lebih seram lagi, karena Nenek saya kalau kasih instruksi ke saya untuk mematikan lampu, itu bukan manis seperti orang Jawa pada umumnya yang akan berkata secara halus, “Nduk, tolong matikan lampunya ya.” Tapi tegas, dan kata yang dipilih juga sadis, yaitu “Hey! Jangan lupa nanti, kau bunuh itu lampu!”

Atau kalau versi yang udah lebih halusnya “Kasih mati itu lampu!”

Tetap serem ya. Salah apa itu lampu sampe harus dibunuh atau dikasih mati.

Nah, itulah perasaan saya ketika saya membaca ayat 5 ini. “MATIKANLAH!” ga pake kata “tolong matikan” ga juga pake kata “Kalau bisa dimatikan ya”. Tanpa tedeng aling-aling, Paulus menyampaikan dengan tegas “MATIKANLAH”

Hal pertama yang perlu kita cermati dari ayat 5 adalah mematikan segala sesuatu yang duniawi, segala hasrat untuk berdosa. Mengapa? Jelas di ayat 6 diingatkan, karena: “semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka)”.

Adakah di antara kita yang masih belum “mematikan” segala sesuatu yang jahat?

Di ayat 8, kembali kita diingatkan “Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.”

Paulus bilang “sekarang” bukan nanti kalau udah tua, atau nanti pas pelayanan, atau saat di gereja. Sekarang.

Saya jadi teringat, kalau saya lagi setir mobil, kadang saya ini senang meramaikan suasana di jalan, jadi saya pencet klakson mobil itu agak sering, biar semangat! Hehehe. Repotnya, kalau saya setir mobil, pas saya bawa polisi pribadi (yang adalah suami saya). Ada saja protesnya Bapak Ibu. Mulai dari gerakan tubuh, sampai kadang seperti kerasukan Roh Kudus (karena mendadak berkhotbah).

Satu kalimat yang sering dia bilang “Katanya orang Kristen!” kalau dia udah ngomong gitu, selesai sudah. Mau ga mau saya jadi tobat sesaat.

Padahal, dia kalau nyetir juga lebih serem! Dan kalau udah dia yang nyetir, saya ingetin hal yang sama, “Katanya orang Kristen”, dia jawab apa? Dia bilang “Ya gapapa, dalam rumah Bapaku banyak tempat!”

Nah repot deh kalau udah gitu. 

Dari contoh kecil itu, saya belajar, menjadi orang Kristen adalah komitmen seumur hidup setiap saat. Paulus bilang “sekarang” artinya, ya selama kita menyatakan diri sebagai pengikut Kristus, maka seperti tercantum dalam ayat 10, kita harus “terus menerus diperbaharui”.

Jadi, hal pertama yang kita pelajari adalah mematikan, meninggalkan, berhenti menjadi manusia lama dan terus diperbaharui.


2. Dengan bertanggungjawab, mengasihi diri sendiri & orang lain (Kolose 3:11-13)

Hal kedua, menjadi manusia baru berarti bertanggung jawab hidup senantiasa di dalam kasih. Tercantum di ayat 11, “tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua di dalam segala sesuatu”.

Apakah mengasihi itu mudah? Satu ketika, saya pernah membaca di instagram, bahwa di sebuah sekolah ada seorang guru memberikan tugas kepada anak muridnya untuk menulis surat kepada Tuhan. Ada satu surat yang membuat saya ketika membacanya, kemudian tertawa geli. Surat itu kurang lebih isinya demikian:
“Tuhan, aku sangat yakin pasti sulit sekali jadi Tuhan, karena tugasMu adalah harus mengasihi semua orang di muka bumi ini. Di keluargaku cuma ada 4 orang, dan sepertinya aku tidak akan mampu mengasihi mereka.”

Kalau pertama baca, kesannya lucu ya, tapi setelah dibaca ulang, kog sedih ya. Miris sekali, seorang anak kecil bahkan kesulitan mengasihi keluarganya. Tapi bukankah kita pun demikian?

Tapi ya itulah hidup sebagai manusia baru, kita harus tetap setia mengasihi dan tidak membedakan.

Isu perbedaan pada saat itu merupakan satu isu utama yang cukup kuat, itu mungkin mengapa Paulus mencantumkan hal ini. Sebagai pelayan Tuhan, sering kali kita diperhadapkan pada situasi dimana kemanusiaan kita berkata “kali ini kita boleh lah berhenti mengasihi”. Namun tidak. 

Tapi ya itulah kasih. Kasih tidak perlu dipertanyakan, kasih tidak membeda-bedakan. Dan kasih tidak mengenal tanggal kadaluarsa. Jadi, poin kedua adalah senantiasa mengasihi.


3. Senantiasa/selalu menjadikan Tuhan sebagai sumber utama dan satu-satunya harapan dalam hidup (Kolose 3:14-17)

Hal terakhir adalah senantiasa menjadikan Tuhan sebagai sumber utama dan satu-satunya harapan di dalam hidup.

Ketika kita menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya sumber utama kehidupan, kita akan mampu untuk selalu bersyukur.

Selalu bersyukur ini hal yang mudah dinasihatkan tapi sulit sekali dipraktikan.

Contoh paling mudah soal bersyukur adalah perkara baju. Saat ini, kalau ditanya tiba-tiba, berapa total jumlah semua baju yang Anda miliki, apakah kita mampu menjawab dengan benar? Padahal itu baju kita lho.. Tapi kita ga tau berapa jumlah persisnya.

Pertanyaan lanjutan, apakah ada di antara kita yang ketika tau berapa jumlah bajunya, kemudian berhenti membeli baju?

Atau adakah di antara kita yang setiap kali buka lemari baju, terus bilang “Puji Tuhan! Bajuku lebih dari satu!” adakah Bapak Ibu?

Saya ambil contoh lagi suami saya saja. Kebetulan orangnya belum tentu baca tulisan ini, dan kalaupun dia membacanya saya yakin dia ga akan marah karena dia sudah janji sama Tuhan untuk mencintai saya sampai maut memisahkan.

Suami saya kalau mau ada acara di kantornya, acara perayaan natal misalnya, maka saat buka lemari bajunya, dia akan bilang “Yang, aku ga ada baju buat natal kantor”. Padahal itu satu lemari isinya baju saja.

Hal ketiga yang kita pelajari dari Paulus hari ini, saat menjadi manusia baru, kita akan selalu berorientasi pada Tuhan. Kita akan selalu dimampukan untuk mengucap syukur dalam segala hal.


Untuk menutup renungan ini, mari bersama-sama kita membaca Kolose 3:17

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.”

Marilah kita mendengar nasihat Paulus, menjadi manusia baru yang penuh kasih dan senantiasa menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya harapan dan landasan dalam kehidupan kita.

Amin.

LATEST POST

 

Mazmur 42:2-3“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan E...
by Valentine Ibrahim | 23 May 2022

Sebuah kalimat yang melekat, buat saya, terhadap pendeta Budi Santoso Marsudi, adalah ketika Jumat A...
by Victor Hasiholan | 23 May 2022

Fenomena anak indigo tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Apalagi akhir-akhir ini, banyak content...
by Monica Petra | 23 May 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER