Bekerja tidak Sesuai Bidang, Why Not? 👍

Best Regards, Live Through This, 22 August 2020
Seringkali kita sulit untuk sukses karena pikiran kita terpaku hanya pada satu cara untuk sukses, padahal ada banyak jalan tidak terduga menuju kesuksesan itu.

Lahir - TK - SD - SMP - SMA/K - Kuliah - Bekerja - Menikah - Beranak - Bercucu - Pensiun - Meninggal.

Konstruksi sosial kita, paling tidak memiliki urutan kehidupan yang disederhanakan seperti ini. 

Tentu saja tidak semuanya sama, tergantung kondisi dan latar belakang finansial. Tapi pada umumnya, sebagian dari kita mengidamkan hidup yang lurus-lurus saja seperti ini.

Biasanya lompatan antar jenjang pendidikan itu lebih sangat jelas, setelah SD lalu SMP, lalu SMA/K, dan seterusnya. Anda tidak perlu terlalu pusing dengan ini.

Tetapi semua berbeda ketika kita dihadapkan pada keputusan untuk bekerja. Peralihan dari SMK atau kuliah ke dunia pekerjaan biasanya sangat membingungkan dan tidak sesuai mimpi-mimpi utopis kita semasa berkuliah atau bersekolah.

"Kerja itu ya harusnya sesuai bidang atau passionmu, kalau kamu nggak seneng buat apa dikerjain?"

Di bangku kuliah atau sekolah, jurusan apa yang kita pilih, biasanya adalah penentu jalan hidup kita ke depan. Dosen-dosen dan guru-guru kita mendidik dan mempersiapkan supaya kita mendalami keahlian di bidang tersebut dan sukses di bidangnya.

Tentu saja, mimpi kita pun otomatis terarah ke situ. Memiliki pekerjaan sesuai jurusan atau bidang.

Seminar-seminar motivasi pun sangat banyak mengajari untuk bekerja sesuai passion dan ikuti mimpi kita.

https://id.pinterest.com/pin/155796468337440067/ 

Nyatanya, dunia tidak seindah kata-kata motivator. Realita seakan "membangunkan" kita dari mimpi indah mendapatkan pekerjaan impian.

Tidak bekerja sesuai minat bukanlah akhir segalanya.


Ada sudut pandang lain dalam memandang suatu pekerjaan.

1. Kebutuhan

Dalam bekerja, ada faktor kebutuhan di sana. Kebutuhan dasar anak muda freshgrad, apalagi masa pandemi seperti ini, yang justru membengkak, seperti kebutuhan sandang, pangan, kosan, kuota. 

Anda bisa saja terpaksa menerima sebuah tawaran kerja yang mungkin Anda tidak begitu menarik. Namun, tagihan tidak mengenal kata libur bukan? Ibu kos tidak bisa dinegosiasi. Tidak bayar, ya diusir.

http://wealth.co.id/services/financial-planning/ 

Bagi yang masih tinggal di rumah orang tua, bersyukurlah karena tanggungan tempat tinggal dan makan sedikit berkurang. Tapi kita juga tidak mungkin minta jajan ke orang tua untuk nongkrong, bukan? 

Kalau kita menunggu sampai mendapat pekerjaan impian, bukankah waktu kita justru sia-sia dan malah mempersulit diri sendiri karena tidak ada pemasukan ?


2. Pembelajaran

Growth begins outside comfort zone. Daripada sibuk memikirkan dan menyesali "terjebak" dalam pekerjaan yang tidak sesuai dengan passion kita, mengapa kita tidak coba mencari sesuatu yang dapat dipelajari dari job yang sekarang? 

Di era pasar bebas sekarang ini, jalan menuju sukses kita akan sangat berat jika kita hanya memiliki satu keahlian saja. Hitung saja berapa teman satu jurusan di kampus saat kuliah. Itu semua adalah saingan dalam satu bidang keahlian.

https://www.forbes.com/sites/steveolenski/2018/09/01/how-to-take-a-multidisciplinary-approach-to-marketing/#3053bd0c76e7 

Akan lain ceritanya, apabila jam terbang kita tinggi dan keahlian kita banyak. Mungkin kita adalah lulusan teknik atau sastra, tetapi dari pengalaman menjalani pekerjaan yang "melenceng," kita jadi lebih ahli dalam melakukan presentasi, public speaking, dan negosiasi dengan klien.

Oh ya, bahkan untuk sukses dalam berbisnis sekalipun kita harus menguasai banyak hal. Tidak pernah saya bertemu orang sukses berbisnis yang hanya menguasai satu hal saja selama hidupnya. Ya, mungkin ia menonjol di satu hal. Tetapi ia juga cukup paham dengan baik beberapa hal di luar bidang itu.


Tidak membatasi diri kita hanya pada satu keahlian akan membuka banyak jalan menuju kesuksesan hidup.

Pesan saya, dunia memang tidak ideal, belajarlah berdamai dengan itu.

Mental seseorang diuji saat menghadapi kondisi yang tidak ideal. 

Jika menghadapi pekerjaan yang kita tidak terlalu sukai saja kita sudah malas-malasan dan banyak alasan, mengerjakan apa yang kita sukai tidak akan mengubah itu. Pekerjaan yang kita suka sekalipun juga memiliki tantangan tersendiri. Kita akan tetap menjadi seorang pemalas dan tetap tidak sukses.

Situasi tidak pernah bisa kita ubah, dunia kita memang tidak ideal, tetapi kita dapat mengubah cara pandang dan respon kita.

Selamat berjuang, para pengejar mimpi!

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan  dan bukan untuk manusia. Pekerjaan apa saja yang diberikan kepadamu, hendaklah kalian mengerjakannya dengan sepenuh hati, seolah-olah Tuhanlah yang kalian layani, dan bukan hanya manusia. - Kolose 3 : 23






LATEST POST

 

Sebuah Pertemuan23 Januari 2019, GKI Gunung Sahari. Sekitar 1 tahun yang lalu, aku mengenal mereka,...
by Jonathan Joel Krisnawan | 22 Sep 2020

Ignite People, awal tahun ini menjadi tahun yang kurang menyenangkan untuk kita. Tidak hanya kurang...
by Regina Megumi Tandiari | 22 Sep 2020

Melayani remaja bisa dibilang merupakan hal yang paling menantang di zaman ini. Aku merupakan seoran...
by Noni Elina | 22 Sep 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER