You Can't Run & You Can't Hide

Going Deeper, God's Words, 25 January 2022
Kita tidak bisa melawan atau lari dari Tuhan. Dan kita juga tidak dapat bersembunyi dari kasih Tuhan. Sujud dan berserahlah dalam dekapan kasihNya.

You Can’t Run & You Can’t Hide

Bacaan Alkitab        1 Samuel 15:10-21

Di tahun 1959, hiduplah Bambang seorang anak laki-laki berusia 10 tahun yang sangat nakal. Ia sangat suka berulah, seperti mencuri mangga tetangga, merusak kebun milik Ibunya, dan senang berkelahi dengan teman-teman sebayanya. 

Pada satu sore, di tahun yang sama, ketika sedang asik beraksi memanjat pohon mangga tetangga, Bambang kaget karena melihat ibunya yang ia panggil Emak, menunggu di bawah pohon dengan sebilah rotan di tangan siap menghukumnya. 

Sontak Bambang melompat turun dan menyambar sapu lidi milik tetangga untuk melawan Emak. Bambang merasa dia hebat dan kuat, sehingga ia berpikir ia dapat melawan Emak dengan kekuatannya. Di luar dugaan, dengan mudah Emak menyita sapu lidi dan Bambang kalah telak saat itu. Sapu lidi milik tetangga berhasil meninggalkan memar di tubuhnya. 

Belum hilang luka memar sebagai hukuman dari Emak karena kenakalannya, seminggu kemudian Bambang sudah berusaha untuk berbuat onar.  Bambang berniat untuk mencuri mangga dari tetangga yang sama. Dan ia bertekad bahwa bila Emak kembali memergoki dia, maka dia akan lari sekencang-kencangnya.  Sesuai prediksinya, Emak kembali memergoki dan sudah siap dengan “senjata” andalannya yaitu sebilah rotan. Dengan penuh percaya diri, Bambang lari sekencang-kencangnya. Di luar dugaannya, Emak (yang ternyata adalah atlet kasti di masa mudanya) ternyata begitu gesit dan lagi-lagi berhasil “menangkap” Bambang. Bambang pun tidak berdaya.  

Dalam ketakutannya, akhirnya Bambang pasrah, berpura-pura kapok, ia lalu sujud memeluk erat kaki Emak. Dalam jarak dekat, rotan menjadi sulit menggapai kaki Bambang, namun dengan dramatis Bambang berteriak “Sakit Mak! Ampun Mak!” dan Emak menjawab “Kena juga belum!”

Tiba-tiba suasana menjadi hening, sayup-sayup terdengar isak tangis Emak, seraya berkata “Bang, kalau bukan Emak yang menghajar kamu, habis hidupmu dihajar dunia di luar sana.”

Seperti Bambang yang tidak mampu mengenal tujuan didikan ibunya, Saul pun demikian. Ia tidak mengenal jalan Tuhan.  Seakan buta secara rohani, Saul memutuskan untuk memberontak. (1 Sam 15:18-19).  Seperti Bambang yang dengan dramatis berkata sakit, di saat rotan sama sekali tidak mengenai dia, Saul pun dengan naïf namun penuh keangkuhan berkata bahwa Ia telah menaati perintah Tuhan. (1 Sam 15:20-21).


Adakah kita di dalam hidup ini juga mengalami apa yang dialami oleh Bambang atau Saul? Ketika Tuhan mendidik kita dengan keras, walaupun mata fisik kita dapat membaca firmanNya, namun mata hati kita seakan buta dan tidak mampu mengenal kehendak Tuhan serta tidak mau melihat jalanNya.

Hari ini kita diingatkan, bahwa kita tidak dapat melawan ataupun lari dari Tuhan. Karena di luar Tuhan tidak ada kehidupan. Hanya di dalam Tuhan, diri kita yang lemah menjadi hidup dan berguna (1 Sam 15:17).  Jika kita dengan taat membuka mata rohani kita, maka kita akan dimampukan Tuhan untuk mengenal jalanNya.


Mungkin dengan atau tanpa sadar, kita seringkali menjadi lalai dan jatuh dalam kesombongan. Merasa diri ini hebat dan lupa bahwa hidup kita sesungguhnya semata-mata adalah kasih karunia Tuhan. 


Apakah ada di antara kita yang saat ini sedang mengalami pergumulan dan pertentangan dalam batin dan pemikiran? Pastikan jangan melawan atau lari dari Tuhan. Kadang memang didikan Tuhan terasa perih dan sakit, tapi percayalah, saat kita tersungkur, mendekap balik pelukan kasih Tuhan, di sana kita menemukan kedamaian. Karena di luar Tuhan tidak ada kehidupan. Satu pepatah dalam bahasa Inggris sering kita dengar “You can run, but you can not hide”; tapi sejatinya, di dalam hidup mengikut Kristus kita tak dapat lari dan tak dapat bersembunyi. Selamat memeluk kasih Tuhan, dan menikmati didikanNya.

Disadur dari khotbah ‘Minggu Bungsu’ Pdt. Em. Alm. Setiadi Bambang Soetopo. 

GKI Buaran, 25 Oktober 2009.


Doa:

Tuhan, kami mohon ampun, karena kedegilan hati kami membuat kami tidak mampu mengenal didikanMu dan tidak mau melihat jalanMu dengan mata bathiniah kami.  Berikanlah kami kemauan untuk selalu taat dan menghidupi kasihMu. Di dalam nama Tuhan Yesus, Yang KasihNya mendekap erat hidup setiap anakNya, kami pasrahkan hidup ini. Amin.

LATEST POST

 

Mazmur 42:2-3“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan E...
by Valentine Ibrahim | 23 May 2022

Sebuah kalimat yang melekat, buat saya, terhadap pendeta Budi Santoso Marsudi, adalah ketika Jumat A...
by Victor Hasiholan | 23 May 2022

Fenomena anak indigo tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Apalagi akhir-akhir ini, banyak content...
by Monica Petra | 23 May 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER