Melayani, Bukan Mencari Kekuasaan

Going Deeper, God's Words, 23 April 2021
Melayani bukanlah mencari keuntungan, di atas penderitaan Melayani bukanlah mencari penghormatan atau dengan melakukan pembungkaman Melayani adalah mempertimbangkan kemanusiaan dari mereka yang membutuhkan Dan mereka yang membutuhkan, dapat kita temui ketika ada pengenalan

Saya adalah seorang laki-laki, dan sepertinya terdapat pandangan umum di masyarakat kita, bahwa laki-laki ini memiliki tiga kelemahan: Harta, tahta, dan wanita. Pandangan ini tidak bisa saya benarkan sepenuhnya, karena seakan-akan menjadikan perempuan atau wanita sebagai obyek yang bisa jadi kelemahan para kaum pria. Tapi dari pandangan ini terlihat bahwa tahta atau kekuasaan itu kayaknya menjadi sebuah momok yang kerap menghancurkan seseorang. Terkadang demi mencari kekuasaan, manusia bisa melakukan hal-hal yang bahkan tidak humanis, misalkan korupsi, memanipulasi sesama, atau bahkan bisa juga membunuh manusia lainnya. Misalkan saja, penjajahan atau perang atau invasi militer, terkadang bisa membuat sekelompok orang menyiksa manusia lainnya, demi mendapatkan wilayah jajahan. Karena itu, tidak dapat disalahkan juga ketika sekelompok masyarakat yang terjajah atau tertindas tersebut meminta untuk bebas atau merdeka atau referendum. Itu juga yang terjadi dengan bangsa Indonesia di bawah penjajahan kolonial Belanda dan Jepang, di mana bangsa Indonesia ingin merdeka dari penjajahan. Sebenarnya kekuasaan itu tidak memiliki makna negatif dalam dirinya, namun realita menunjukkan bagaimana oknum pemegang kekuasaan kerap menyalahgunakan kekuasaan.

Dalam Matius 23:1-12, YESUS berusaha mengkritik kekuasaan tersebut. YESUS mengkritik ahli Taurat dan orang Farisi - bukan karena ajaran mereka - namun, karena tindakan mereka yang menyalahgunakan kekuasaan tersebut. YESUS mengajak umat untuk tetap menuruti dan melakukan apa yang diajarkan secara teoritis oleh para tokoh agama Yahudi tersebut. Namun yang YESUS tolak di sini adalah soal tindakan mereka. Ayat 4 mengatakan:

 “Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.”

YESUS mengatakan beban berat di sini maksudnya adalah beberapa ajaran yang justru mempersulit kehidupan orang-orang Yahudi. Meskipun ajaran-ajaran tersebut mempersulit kehidupan umat, namun pemimpin umat (ahli Taurat dan orang Farisi) justru tidak mendapatkan kesulitan tersebut. Alkitab BIS mengatakan, “Mereka menuntut hal-hal yang sulit dan memberi peraturan-peraturan yang berat, tetapi sedikit pun mereka tidak menolong orang menjalankannya.” Bahkan mereka menerima privilege dari kesulitan yang didapatkan oleh umat Yahudi. Inilah kritik pertama yang YESUS layangkan pada oknum ahli Taurat dan orang Farisi, yaitu mencari keuntungan di atas beban hidup umat.

Kritik kedua dari YESUS terhadap ahli Taurat dan orang Farisi adalah gila hormat. Mereka memakai tali sembahyang, duduk di tempat terhormat, suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil rabi. Terkadang ketika seseorang sudah mendapat jabatan kekuasaan, gila hormat menjadi suatu karakter yang cenderung dialami oleh pemegang kekuasaan. Tidak jarang, gila hormat menjadi ekstrem sehingga berupaya untuk membungkam atau menyerang mereka yang berbeda pendapat dengan pemegang kekuasaan tersebut. Beberapa peristiwa di Alkitab menunjukkan bagaimana ahli Taurat dan orang Farisi datang untuk mencobai YESUS. Bahkan penyaliban YESUS yang diinisiasikan oleh oknum tokoh agama Yahudi tersebut, menjadi salah satu bentuk penyerangan/pembungkaman yang paling dahsyat, oleh sebab YESUS berbeda pandangan dengan elit agama Yahudi.


Realita seperti ini tidak hanya ada pada masa YESUS. Film The Trial of Chicago 7 juga menunjukkan bagaimana sebuah pembungkaman dilakukan oleh para oknum pemegang kekuasaan. Dalam film The Trial of Chicago 7 digambarkan sebuah proses pengadilan politis. Pengadilan politis maksudnya di sini adalah bahwa proses pengadilan tersebut memang dilakukan untuk menyerang lawan politik dari pemegang jabatan pada masa itu. Presiden Lyndon B. Johnson pada tahun 1968 mengeluarkan kebijakan di mana pajak dinaikkan untuk kepentingan perang dan wajib militer diperluas sehingga semakin banyak anak muda yang diharuskan terlibat perang. Kebijakan inilah yang dikritik oleh 7 aktivis pergerakan di Chicago, yang kemudian membawa mereka pada persidangan politis yang dipimpin oleh hakim Julius Hofmann. Film tersebut menggambarkan sebuah sistem peradilan yang curang, karena beberapa kali hakim Hofmann berupaya untuk memperberat dakwaan ketujuh aktivis pergerakan tersebut dan tindakan-tindakan yang meringankan dakwaan justru dihindari oleh hakim. Film ini menunjukkan bagaimana realita kekuasaan justru seringkali menghilangkan hak asasi manusia lainnya.


Tetapi, di balik semua realita kekuasaan yang terlihat curang atau korup, YESUS justru mengajarkan umat bukan hanya mengkritik tindakan oknum pemegang kekuasaan tersebut, namun lebih dari itu, YESUS mengajak umat untuk melihat orang lain sebagai manusia yang memiliki hak asasi dan kebutuhannya untuk hidup. YESUS mengubah cara berpikir umat, di mana kekuasaan bukanlah suatu target atau tujuan yang perlu dicapai, tetapi kesetaraan itulah yang perlu dituju. Dikatakan, “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” dan “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan”. Di sinilah letak konsep kesetaraan itu.

Pesan yang ingin YESUS katakan di sini adalah melayani. Perikop ini menggambarkan bahwa melayani ini berlawanan dengan mencari kekuasaan. Jika kritik YESUS terhadap kelompok elit agama Yahudi yang mencari kekuasaan, digambarkan dengan tindakan mempersulit kehidupan orang lain, mencari keuntungan atas beban hidup orang lain, gila hormat dan tidak mempedulikan hak asasi manusia lainnya, maka melayani dapat ditunjukkan dengan tindakan mempermudah kehidupan orang lain, tidak mencari keuntungan dari beban orang lain, tidak gila hormat dan mempertimbangkan hak asasi manusia lainnya. 

Seringkali ketika kita berbicara melayani, yang ada di pikiran adalah tentang mempermudah hidup orang lain, misalkan membantu mereka yang kesusahan dan menyediakan kebutuhan mereka. Siapa aja sih sebenarnya mereka yang kesusahan tersebut? Kita hanya dapat mengetahui kesusahan orang lain ketika kita mengenal mereka, bukan? Bagaimana mungkin bisa dikatakan melayani, jika kita memberi bantuan pangan, di saat mereka membutuhkan bantuan keuangan? Atau ketika kita memberi bantuan keuangan, di saat mereka membutuhkan penerimaan sosial (seperti pada kelompok-kelompok masyarakat yang mengalami diskriminasi sosial)? Di sinilah pentingnya pengenalan. Jangan sampai, tindakan kita melayani hanya untuk memuaskan diri, namun kebutuhan mereka tidak tercukupi, atau bahkan, mereka yang kita layani, menjadi terbebani.

LATEST POST

 

Belakangan ini saya sering mendengar lagu dari Kaleb - It’s Only Me yang menceritakan tentang...
by Yessica Anggi | 19 Sep 2021

Di berbagai media online, kita bisa menemukan pembahasan tentang mencari jodoh atau bahasa kerennya...
by Yukiko Suhendra | 19 Sep 2021

"Wah, ganteng banget!”“Lagunya bagus banget!”"Dia narinya keren, energik...
by Chelsia Devina | 19 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER