Kipas Belel

Best Regards, Fiction, 30 September 2021
Mawas diri itu wajib. Namun, harus diimbangi dengan kasih dan syukur.

Beberapa detik usai aku membuka mata, tanganku ikut bergerak mengipasi wajah.

Sumuk sekali!

Lantas aku mengubah posisi tidurku. Menghadap ke sisi satunya, dan mendapati kipas angin yang kunyalakan sebelum aku tidur, masih berada di tempatnya. Suaranya nyaris seperti mesin genset, tetapi putarannya bak kincir kertas mainan anak-anak.

Sungguh tidak berguna!

Alih-alih tersenyum, aku justru menampilkan mimik kecut sebagai wujud kekecewaan.

Dulu, si Belel ini performanya ciamik. Putaran level satu saja sudah membuat rambutku beterbangan. Di level tiga, jelas anginnya setingkat di bawah hembusan puting beliung.

Kalau sekarang? Bah! Tidak perlu ditanya … melihatnya pun cukup memberi alasan untukku menjulurkan lidah. Entah mengapa, si Belel ini selalu berhasil membuatku meracau. Mencibir. Mengutuk. Bukan hanya di bibir, melainkan juga di hati.  

Kini aku duduk. Menghadap si Belel yang masih terseok-seok menggerakkan udara di sekitarnya, lantas kulemparkan saja jepit rambut—yang terbuat dari besi berpilin seukuran tusuk gigi—pas ke arah baling-balingnya. Paling tidak, itu membuatku puas.

Plang …

Dalam sekejap, jepit rambut itu terpental. Jatuh dekat dengan ujung kakiku dalam kondisi prima. Catnya tidak terkelupas, bahkan tidak bengkok. Sedangkan si Belel, tampaknya semakin terengah-engah menjalankan tugasnya.

Dih, mana yang kebangetan coba?

Mungkin sudah selayaknya si Belel ini kusingkirkan. Kubuang jauh-jauh karena aku sudah tidak memerlukannya lagi. Aku tidak lagi sudi melihatnya. Aku punya uang. Aku sanggup membeli yang baru. Yang jauh lebih baik. Aku butuh kenyamanan. Aku ingin … ah, tentu saja aku ingin hidupku tidak direpotkan oleh benda sialan macam itu!

***

Sesekali kau mengelap keringatmu. Sambil terus tertunduk, kau mati-matian menguraikan ratusan helai rambut yang tersangkut di as kipas angin tersebut. Bahkan, beberapa helai sudah masuk ke bagian mesinnya. Tidak hanya itu, debu yang menempel pun sudah terpampat. Nyaris menyatu dengan baling-baling dan komponen lainnya.

Ya Tuhan!

Saat itu, kau hanya bisa mengusap wajahmu yang kuyu. Kau ingin menyerah. Sedikit lagi. Sudah hampir. Hanya saja ….

Tidak ada yang dapat kau lakukan selain meneruskan hasta karyamu. Memaksa jari-jarimu agar tidak berhenti menarik satu demi satu helaian rambut panjang nan kusut itu, oleh karena satu alasan.

Ya. Bagimu, kau wajib membersihkannya. Bahkan, kau akan sangat bersyukur bila kipas angin ini bisa berputar kencang seperti angin puting beliung. Dan, tentu saja dengan begitu keputusanmu untuk meminjam kipas angin ini tidaklah sia-sia.

Huft! Berbekal rasa syukur itu, kau tidak lagi menghiraukan tubuhmu yang sudah menjerit-jerit kelelahan. Kau menghalau semua perasaan malas dan kantukmu. Hingga akhirnya, gumpalan rambut bercampur debu itu telah berpindah ke lantai kamarmu. Semuanya. Tanpa ada sisa!

Buru-buru kau mengulur kabel, menyambungkannya dengan aliran listrik. Dan … hore!

Hembusan angin yang pertama kali meyentuh kulitmu, membuatmu melonjak kegirangan. Dan lebih girang lagi ketika putaran baling-baling di level tiga sanggup membuat tirai kamarmu menari-nari. Pikirmu, inilah waktu untukmu dapat menikmatinya. Merasakan hembusan angin, sambil sayup-sayup menurunkan kelopak mata.

Sayangnya, momen seperti ini segera akan berlalu dalam hitungan menit.

Tanpa membuka mata, kau pergunakan waktu yang tersisa untuk mengingat kejadian subuh tadi. Saat-saat di mana kau bertekad merebahkan punggungmu, tetapi gagal. Itu tidak benar-benar dapat kau lakukan lantaran tidak ada sedetik pun hembusan angin yang menerobos jendela kamarmu. Yang ada, justru sekawanan nyamuk yang tak henti-hentinya mengincar darahmu sejak petang.

Itu sebabnya, kau memberanikan diri mengetuk pintu kamar indekos temanmu yang letaknya di ujung paviliun. Memohon untuk meminjam kipas angin padanya, guna memperbaiki sirkulasi kamarmu sekaligus mengusir nyamuk. Dengan begitu, paling tidak kau bisa memejamkan mata dengan tenang.

“Oo, begitu?” jawaban temanmu itu seolah memberikan harapan. “Tapi kau harus membelinya, bukan meminjamnya.”

Entah bagaimana, pernyataan itu meremas perasaanmu. Kau tahu betul jika kau tidak punya cukup uang untuk membelinya. Dan saat itu, kau belum memahami alasan temanmu meminta kau membelinya—walaupun pada akhirnya kau dapat menebak alasannya. Dalam hal ini, kau hanya terdiam. Meratapi kenyataan yang seolah-olah belum berpihak kepadamu.

“Maaf, tapi aku hanya ingin meminjamnya beberapa jam.” Tidak ingin menyerah begitu saja, kau sedikit melontarkan penjelasan lebih sekaligus memohon dengan sangat. “Please.

Dalam hati, kau tidak suka melihat temanmu memutar bola matanya. Seolah-olah kau adalah jongos. Namun, kau menyadari bahwa kau membutuhkannya. Kau menahan jiwamu untuk berontak apalagi sampai meninju temanmu itu.

“Kalau begitu, sebelum jam sembilan pagi, kau harus mengembalikannya. Lima jam cukup, kan?”

Bagai bilur yang dikukur, sontak tawaran itu membuat hatimu lega. Kejengkelanmu pun mereda. “Cukup.”

Kini, angin yang kau rasakan seakan benar-benar telah mengeringkan bilurmu. Hatimu pun semakin memanjatkan syukur. Sejenak kau menyelipkan tanganmu di antara pipi dan kasur, kemudian tersenyum. Sekalipun lima jam nyatanya hanya dapat dinikmati selama lima menit, setidaknya, kau masih bisa memejamkan mata. Masih bisa tersenyum. Dan kau menyebut semua ini adalah anugerah.

***

“Ini sudah jam sembilan lebih, dan si Belel belum kembali?” sambil menggigit-gigit kuku telunjuk, kakiku tidak berhenti mondar-mandir di kamar dengan gelisah. Pikiranku dipenuhi berbagai pertimbangan.

Menjentikkan jari, akhirnya kuputuskan untuk menjemput si Belel. Harus!

Dan …

Dan …

Betapa terkejutnya diriku mendapati temanku ini sengaja membuka pintu kamarnya. Aku melongok ke dalam, dan ternyata dia masih tersangkut di alam mimpi. Sambil mendengkur pula! Yang lebih mengagetkan lagi, si Belel ini ternyata tidak lagi sekarat. Kok bisa?

Ah, aku tidak mau ambil pusing untuk mencari kebenarannya. Yang pasti, si Belel ini jelas-jelas berkhianat padaku. Semalam ia terengah-engah, sekarang semringah. Itu sebabnya, keputusanku untuk meloakkannya sesegera mungkin sudah bulat. Aku tidak akan menyesalinya. Dan satu lagi, temanku ini juga tidak tahu diuntung. Sudah bagus dipinjami, menepati janji saja lalai!

Seraya menggelengkan kepala, buru-buru aku menekan tombol “off” di badan si Belel. Kucabut aliran listriknya, lalu kuambil kepunyaanku itu.

LATEST POST

 

Hidup ini seperti merangkai puzzle, karena kita akan merangkai kepingan demi kepingannya agar menja...
by Yessica Anggi | 05 Dec 2021

Hallo, gengs! Hmm, filsafat... Filsafat mungkin terdengar menarik sekaligus “mengerikan”...
by Rain Bow Hutabarat | 05 Dec 2021

Bayangkan sebuah dunia di mana kita tak dapat melihat.Sebuah dunia di mana kebutaan merupakan suatu...
by Primaridiana Pradiptasari | 28 Nov 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER