Besi Menajamkan Besi: Bimbingan Jiwa ke Jiwa Dalam Perjanjian Lama

Going Deeper, God's Words, 12 April 2021
"Sitou Timou Tumo Tou" - Sam Ratulangi

Hai Ignite People! Setiap dari kita pasti ingin menjadi pembimbing bagi orang lain bukan? Ya, saya yakin bahwa kita semua bisa menjadi pembimbing bagi orang lain. Bagi yang sudah menjadi pembimbing, apakah ada pengaruh dari pribadi orang yang kita pimpin? Pasti setiap dari kita akan menjawabnya dengan berbeda-beda. Ada yang berhasil, ada juga yang tidak berhasil. 

Namun, apakah setelah kita membimbing orang lain dan melihat bahwa yang kita bimbing itu tidak berhasil mencapai apa yang menjadi harapan kita, apakah kita justru meninggalkannya? 

Bagi kita yang dibimbing, apakah teladan dan pengajaran dari para pembimbing kita membawa dampak yang besar untuk pribadi kita sampai sekarang ini? Atau tidak membawa dampak yang berarti bagi kita?

Kali ini kita akan membahas tentang bimbingan dari jiwa ke jiwa. Kita akan melihat apa dampak dari bimbingan kita kepada orang lain dengan melihat para tokoh Alkitab dalam Perjanjian Lama. Kita akan mengetahui, apakah mereka yang dibimbing pada akhirnya berhasil atau tidak dan bagaimana teladan para pembimbing mereka yang dibimbing ini.


Abraham dan Lot

Abraham memberikan kita salah satu teladan paling awal tentang bimbingan dari jiwa ke jiwa dalam Perjanjian Lama. Ia bersama Lot, yang mengikutinya keluar dari kota kelahirannya, yaitu kota Ur, ke negeri baru yang dijanjikan Tuhan.

Sejak semula, Abraham adalah seorang pembimbing dengan teladan. Lot melihat saat Abraham bertemu, mendengarkan, dan berbicara dengan Tuhan. Ia melihat bagaimana Abraham membangun mezbah bagi Tuhan yang telah menampakkan diri kepadanya. Lot memperhatikan bagaimana Abraham begitu tergantung kepada Tuhan, yang kepada-Nya ia datang menaruh kepercayaan juga.

Ketika Tuhan memberi keduanya kekayaan, tiba saatnya di mana negeri itu tidak dapat  menampung kumpulan ternak dan tenda-tenda mereka, sehingga mereka harus berpisah. Dengan ramah, Abraham mempersilahkan Lot untuk memilih terlebih dahulu di mana ia ingin tinggal, dan Abraham tinggal di tempat lainnya (Kejadian 13:1-18).

Perhatikan bagaimana Abraham menjaga keponakannya. Ia datang menyelamatkan Lot ketika Lot sedang dilanda krisis, dan Abraham berdoa syafaat dengan sungguh-sungguh demi Lot dan keluarganya ketika krisis lainnya muncul (Kejadian 14:14-16).

Pelajaran apakah yang dapat kita ambil dari sini? Pertama-tama, jangan meremehkan kekuatan teladan pribadi. Dengan teladan kita, kita adalah pembimbing bagi banyak orang, khususnya mereka yang paling dekat bersama kita.

Kedua, kita harus merelakan mereka yang kita bimbing untuk mengambil jalannya sendiri. Kita menghabiskan banyak waktu bersama mereka, dan kita harus melepaskan mereka ke dalam pemeliharaan Tuhan ke depannya. Kadang kala, mereka mungkin membuat pilihan yang kurang bijaksana, bahkan tragis. Pada saat yang sama, kita takkan pernah sepenuhnya melepaskan mereka. Kita tetap siaga untuk menyampaikan kebenaran dalam kehidupan mereka dan mengerjakan segala sesuatunya yang kita bisa untuk membantu mereka hidup dekat dengan Tuhan dan menghasilkan buah di dalam-Nya.



Musa dan Yosua


Musa adalah orang pilihan Tuhan pada masa penting dalam sejarah umat Israel. Tuhan memakainya untuk memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir dan pada akhirnya tiba di perbatasan tanah perjanjian.

Musa memilih dua belas orang, yang mewakili dua belas suku Israel, untuk mengintai tanah tersebut. Di antara mereka adalah Yosua, anak Nun, dari suku Efraim (Bilangan 13:16). Ia bersama-sama dengan salah satu anggota lain dari kelompok dua belas tersebut, yaitu Kaleb, membawa laporan baik yang meyakinkan orang Israel bahwa dengan pertolongan Tuhan mereka dapat menduduki tanah perjanjian.

Hubungan Musa dan Yosua baik di dalam kitab Keluaran dan Bilangan menunjukkan betapa pentingnya bimbingan dari jiwa ke jiwa tersebut (Keluaran 24: 13; 32:17; 33:11; dan Bilangan 11:25-29; 13:1-14:10).

Selama empat puluh tahun pengembaraan bangsa Israel di padang gurun Sinai, Allah memakai Musa dan menjadikannya sebagai seseorang yang “SSD”, yaitu “Setia, Siap sedia, dan Dapat diajar.” Dengan demikian, melalui bimbingan dari jiwa ke jiwa, Musa membangkitkan pemimpin Israel berikutnya. Yosua pada akhirnya membawa umat Allah masuk ke dalam tanah perjanjian.

Apa yang dapat kita pelajari dari hubungan jiwa ke jiwa antara Musa dan Yosua ini? Dengan doa, pertimbangkan untuk mendampingi seseorang yang lebih muda dari kita di tempat di mana kita berada. Seperti Tuhan menunjukkan kepada Musa seseorang yang tetap dekat dengan Tuhan dan dirinya, maka Tuhan akan menunjukkan kepada kita seseorang “SSD” yang serupa. Siapa mereka? Mungkin ada di antara anggota keluarga kita, teman-teman kita, atau teman-teman persekutuan kita yang bisa menjadi pemimpin masa depan tersebut.



Rut dan Naomi

Sama seperti Tuhan memakai Musa untuk membangkitkan Yosua sebagai pemimpin umat Israel menuju tanah perjanjian, demikian pula dengan Naomi yang dipakai Tuhan untuk mendampingi Rut, menantunya, di waktu yang paling rapuh dan rentan dalam hidupnya.

Kita bisa membaca empat pasal dari kitab Rut. Kisah tersebut terjadi di zaman para hakim setelah bangsa Israel menetap di tanah perjanjian sebelum mereka menobatkan raja pertama mereka. Pada saat itu kelaparan melanda atas negeri itu. Sehingga membuat suami Naomi, yaitu Elimelekh, beserta isteri dengan dua anaknya laki-laki mengungsi dari kota Betlehem ke Moab.

Tak lama setelah pindah, tragedi menghantam kehidupan Naomi. Pertama-tama suaminya meninggal. Kemudian peristiwa berganti menjadi bahagia karena kedua putera Naomi telah mengambil dua orang perempuan Moab untuk dijadikan isteri bagi mereka. Lalu kedua anaknya pada akhirnya juga meninggal. Salah satu isteri dari kedua anaknya, yaitu Orpa, pada akhirnya pergi meninggalkan Naomi. Sedangkan Rut, justru ingin tetap hidup bersama dengan Naomi dan ikut bersamanya kembali ke Betlehem.

Rut, seorang asing di tanah Yehuda, tanah kelahiran suaminya itu, tinggal bersama Naomi, yang menjadi seorang pembimbing baginya. Bila kita memperhatikan mereka, keduanya memliki perbedaan. Yang satu tua, satu lagi masih muda. Dan mereka memiliki perbedaan juga dalam suku, budaya, dan latar belakang agama.

Namun, dengan melihat kisah Rut ini, kita dapat menemukan suatu hubungan ketergantungan yang sehat. Kita juga menyaksikan suatu hubungan perjanjian dengan Naomi, yang merupakan komitmen tulus dari Rut:


“Bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, aku pun mati di sana. Dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya Tuhan menghukum aku bahkan lebih dari pada itu. Jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!” (Rut 1 : 16 dan 17).


Saat kisahnya terus berganti, Naomi berjalan di sisi Rut, ketika ia memasuki suatu hubungan yang bertumbuh dengan seorang pria bernama Boas. Bimbingan dari Naomi mengarahkan Rut pada pernikahannya dengan Boas. Dan pada akhirnya menjadi nenek buyut dari Raja Daud, sekaligus nenek moyang dari Juruselamat kita, yaitu Tuhan Yesus Kristus.

Kisah mereka mengingatkan kita bahwa hubungan jiwa ke jiwa itu saling menguntungkan, yaitu saling membagikan kisah perjalanan hidup masing-masing. Ketika kita melihat kisah seperti ini, mungkin saja hal tersebut terjadi terutama dalam keluarga kita sendiri. Keluarga dihadirkan oleh Allah untuk tidak hanya menjadi keluarga, tetapi juga sebagai pendamping dalam segala sesuatu agar ke depannya kita dapat menjadi  pribadi yang lebih baik.



Daud dan Yonatan 

Persahabatan antara Daud dan Yonatan memberikan gambaran lain tentang seperti apa bimbingan dari jiwa ke jiwa ini.

Raja Saul adalah raja pertama bangsa Israel, dan Yonatan adalah puteranya. Meskipun awalnya Raja Saul adalah orang yang rendah hati, namun perlahan-lahan ia mulai meninggalkan Tuhan dan berusaha ingin menjadikan Yonatan anaknya untuk menjadi raja atas Israel.

Namun itu bukanlah kehendak Allah. Justru Allah meminta nabi Samuel untuk mengurapi anak gembala muda (Daud) sebagai pengganti dari Raja Saul. Seperti yang kita tahu Daud adalah seseorang yang berkenan kepada Allah. Dan akibatnya, Raja Saul akhirnya sangat membenci Daud dan berusaha untuk membunuh dia. Raja Saul terus-menerus memburu Daud agar bisa dibunuh dan anaknya bisa menjadi raja.

Dalam kekacauan seperti itu, sesuatu yang mengherankan terjadi: Daud dan Yonathan bersahabat erat satu sama lain, bahkan dikatakan bahwa:

“Jiwa Yonatan menyatu dengan jiwa Daud, dan Yonatan mengasihi Daud seperti mengasihi dirinya sendiri” (1 Samuel 18:1). 

Tidak ada persaingan antar keduanya yang berarti. Keduanya memutuskan untuk saling mendukung satu sama lain apapun itu risikonya. Dari cerita persahabatan Daud dan Yonatan ini, kita melihat akan pentingnya seseorang yang benar-benar senantiasa mendukung kita. Seperti yang ditulis Raja Salomo: Lebih baik berdua daripada seorang diri (Pengkhotbah 4:9-12) dan bersama Allah di dalam hubungan jiwa ke jiwa tersebut,”Tali tiga lembar tak mudah diputuskan” (Pengkhotbah 4:12).



Mordekhai dan Ester


Mordekhai tiba di Susan, Persia, selama masa pembuangan umat Israel. Ia mulai membimbing sepupunya yang yatim piatu, yaitu Ester yang dianggap sebagai seorang anak perempuan baginya. Dalam prosesnya, kita melihat bagaimana Ester adalah orang yang tepat untuk menjadi penghubung antara umat Israel dan musuh-musuh mereka termasuk Haman.

Dalam sepuluh pasal kitab Ester, kita melihat bagaimana wanita muda biasa sepertinya bisa bangkit untuk menjadi seorang ratu. Karena usianya yang muda dan juga belum berpengalaman, bahkan juga karena ia adalah salah satu tahanan yang berbangsa Israel, maka ia memerlukan bimbingan dari seorang yang tua yang sudah berpengalaman.

Sepupu Ester (yaitu Mordekhai) senantiasa membimbingnya sepanjang waktu. Ketika suatu peristiwa jahat muncul untuk memusnahkan semua orang Yahudi di sana, maka Mordekhai tetap membimbing Ester dalam mengambil keputusan untuk selalu mengandalkan Tuhan dan menjadi perantara untuk umat Israel. Bimbingan Mordekhai tidak hanya mengubah kehidupan Ester, tetapi juga mengubah bangsanya sendiri  yaitu bangsa Israel.

Nah, dari kisah-kisah ini kita mendapat  pembelajaran bahwa sebagai pembimbing kita harus bisa menunjukkan tidak hanya pengalaman kita tetapi juga senantiasa kerendahan hati, mau bekerja sama, dan bisa menjadi teladan bagi mereka yang kita bimbing. Janganlah kita kecewa apabila yang kita bimbing salah dalam memutuskan segala sesuatu. Walaupun kita telah melepaskan mereka, tapi kita tidak bisa melepaskan sepenuhnya. Dengan kata lain, mereka tetap harus dibimbing agar mereka tidak lagi salah mengambil keputusan dalam hal apapun.


****

Untuk yang masih dibimbing, janganlah ragu untuk belajar dari para pembimbing kita. Contohlah senantiasa teladan mereka yang baik serta apa yang mereka katakan. Dan jadilah menjadi pemimpin hari depan di manapun kalian berada. Tetap Setia, Siap sedia, dan Dapat diajar. Percayalah, apa yang mereka ajarkan dan teladankan itu baik adanya bagi masa depan kita.


Selamat menjadi pembimbing dan selamat menjadi yang dibimbing.

 Tuhan Yesus memberkati.





LATEST POST

 

SAAT GEREJA “DILARANG” MENGURUSI POLITIKKetika menemukan berita Persekutuan Gereja-Gerej...
by Christan Reksa | 13 Jun 2021

            Di dalam buku nyanyian Kidung Jemaat pada nomor 26 terdapa...
by Christyana Elizabeth Huwae | 13 Jun 2021

Ada orang yang habiskan seumur hidupnyahanya untuk berbuat baik.Lalu khilaf satu kali dan berbuat ke...
by Primaridiana Pradiptasari | 13 Jun 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER