WHYYYYY?

Best Regards, Live Through This, 22 August 2021
I prefer dangerous freedom than peaceful slavery - Thomas Jefferson, 1787

Media sosial itu aneh, ya, terutama mungkin untuk penduduk Indonesia yang kini dicap sebagai pengguna internet terburuk di dunia (Microsoft, 2021). Cukup berbanding terbalik dengan penanaman nilai sopan santun, ramah tamah, dan cinta damai yang diajarkan leluhur kita secara turun-temurun, ya? Uniknya lagi, kita cukup kagok dengan perkembangan teknologi ini, sehingga muncul banyak penyalahgunaan bukan karena kesengajaan, tetapi karena kurangnya pengetahuan dan kebijaksanaan untuk menggunakannya. Misalnya saja dengan membiarkan anak-anak di bawah umur bermain games/media sosial yang di dalamnya bisa muncul macam-macam konten liar, lalu orang tua yang masih senang berbagi info yang belum jelas kebenaran faktanya, hingga anak muda yang dengan mudahnya terpikat dalam perangkap pinjaman online. Saking anehnya, hal-hal yang terjadi di sekeliling kita, sampai kita pun bertanya-tanya, "KENAPA???" atau bahasa Coki-Muslim, "WHYYY?"

Di hari-hari perayaan kemerdekaan kita yang ke-76 tahun ini, mungkin kita juga perlu merefleksikan tentang kemerdekaan untuk mengakses informasi tanpa batas, yang sebenarnya justru malah berdampak negatif terhadap kemajuan kita. Ketika kita punya kebebasan untuk menjadi "pencipta" (creator), tidak mengherankan jika banyak "Influencer" yang hanya mengumbar kebencian, fitnah, dan kebohongan yang justru disukai dan dihormati banyak orang. Makin banyak orang yang diberikan kebebasan untuk berkarya, berpendapat, dan berbicara, tetapi sayang, tak semua orang memiliki kebijaksanaan untuk berbicara serta kecakapan untuk memilah dan memilih apa yang baik untuknya.

Mengutip kata-kata Raditya Dika, ketika dia masih kecil, kebanyakan orang hanya bercita-cita menjadi arsitek, dokter, atau pengacara (atau profesi lain yang sering dituliskan dalam buku kenang-kenangan seperti tiga profesi tersebut). Namun, di masa sekarang, kebebasan yang tanpa batas membuat anak-anak bisa bercita-cita, "Mau jadi Youtuber kayak Reza Arap" (mari berdoa agar orang tua mereka tidak perlu mencari tahu lebih jauh tentang Reza Arap Oktovian demi kesehatan mental mereka). Bagi kita yang lahir di era ini, mungkin kita bisa dengan enteng menjawab, "Yah, biar aja anak kita memilih apa yang baik buat dirinya," tapi bagi orang tua kita yang lahir melewati era krisis moneter 1998 dan krisis ekonomi 2008, pasti mereka akan bertanya-tanya "WHYYYY?"


Photo by Dewang Gupta on Unsplash  


Kebebasan itu lucu, ya? Di saat kita merasa memiliki kekuatan untuk menentukan masa depan, di saat itu juga kita dibebani pikiran dan tanggung jawab untuk mengelolanya agar setidaknya kita tidak mati dalam menikmati kemerdekaan itu. Ingatkah dengan peristiwa dibebaskannya bangsa Israel ke tanah perjanjian dari perbudakan Mesir? Dalam Keluaran 15, mereka bernyanyi dan bersukacita karena telah lepas dari belenggu siksa. Mereka akhirnya paham rasanya merdeka, tetapi belum berganti pasal, mereka sudah bertanya, "Apakah yang akan kami minum?" (ayat 24). 

Mereka bersungut-sungut, dan mengeluh hingga akhirnya pertanyaan, "WHYYYYY," tercetus! 

"Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?" (Keluaran 17:3)

Jadi, kondisi mana yang lebih baik menurut kalian? Menurut saya, sih, SAMA AJA!


Photo by Bianca Ackermann on Unsplash  


Teman-teman, kisah perjalanan bangsa Israel menuju Kanaan dalam 40 tahun adalah simbol perjalanan hidup kita secara umum. Kebebasan tidak serta-merta membuat hidup kita menjadi lebih baik. Bahkan seringnya malah hanya semakin menyusahkan saja. Kadang-kadang kita merasa bahwa kita ada di jalan yang benar, tetapi ada kalanya kita justru lebih suka memilih jalan yang mudah, dan akhirnya malah membuat kita semakin lebih jauh dari tujuan awalnya, terutama di masa sulit seperti ini.

Dengan begitu banyak tragedi, pengkhianatan, bahkan pembunuhan di dalam 40 tahun perjalanan itu, di saat orang Israel tengah belajar membina dan memahami kemerdekaannya, Tuhan tetap mencintai mereka dengan kasih yang sama. Tak lebih, tak kurang. Tuhan tetap menjadi Tuhan. Ia tidak pernah lelah menurunkan tiang awan dan tiang api, untuk mereka. Tuhan bahkan menjaga pakaian dan kasut mereka, yang berguna menjaga tubuh mereka dari terik matahari dan kerasnya jalanan berpasir selama bertahun-tahun (Ulangan 29:5). Untunglah Tuhan tidak pernah mempertanyakan diri-NYA sendiri atau bertanya, "WHYYYYYY?"

Di satu sisi, kebebasan bisa membawa kita dalam kondisi yang bahkan lebih buruk daripada diperbudak, karena itulah wajar jika kita akan membuat keputusan yang salah dan bodoh, apalagi ketika kita dalam kondisi penuh putus asa. Kita perlu mengingat bahwa kebebasan merupakan pemberian dan bagian dari proses pendewasaan jiwa kita serta hubungan kita dengan Tuhan. Semoga teman-teman tetap bisa mengingat bahwa Tuhan adalah Tuhan yang takkan berubah cinta-Nya, selalu menemani kita, bahkan di saat kita tidak menginginkan Dia di dekat kita.




LATEST POST

 

Hidup ini seperti merangkai puzzle, karena kita akan merangkai kepingan demi kepingannya agar menja...
by Yessica Anggi | 05 Dec 2021

Hallo, gengs! Hmm, filsafat... Filsafat mungkin terdengar menarik sekaligus “mengerikan”...
by Rain Bow Hutabarat | 05 Dec 2021

Bayangkan sebuah dunia di mana kita tak dapat melihat.Sebuah dunia di mana kebutaan merupakan suatu...
by Primaridiana Pradiptasari | 28 Nov 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER