Tiga Warna, Tiga Rasa: Tiga Macam Bentuk Refleksi Kemerdekaan Indonesia tahun 2020

Best Regards, Live Through This, 16 August 2020
Bagian Kedua: Sebuah cerita hubungan LDR yang belum merdeka


Memberikan Kemerdekaan Kepada Liyan

Aku memiliki seorang teman. Teman baik yang selalu menjadi tempatku berbagi. Satu ketika, ia bercerita tentang seorang kawannya. Menurutnya, ia baik, ramah, sopan, dan juga menawan. Aku pun mulai berpikir, dia pasti sedang menceritakan teman perempuannya.Memang temanku ini adalah seorang laki-laki yang pintar, dan menarik. Aku tidak kaget kalau ia menyukai seorang wanita yang juga cantik, dan pintar. Namun aku sontak terkaget, saat dia mengatakan, "Aku suka pada teman laki-lakiku". Aku pun kaget. Tetapi hanya berhenti pada kaget, dan tidak mau menghakiminya. Bagiku, perasaan seseorang siapa yang tahu? Aku merasa tidak memiliki hak untuk menghakiminya, karena aku sendiri bukanlah manusia yang sempurna.  Pikirku, "Punya hak apa aku menilai benar-salah urusan orang lain? Sudah sempurnakah aku?"




Dia pun melanjutkan ceritanya. Saat ini keduanya ada di dua kota yang berbeda. Dia menunjukkan foto terbarunya, saat mengunjungi sang kekasih satu bulan yang lalu. Hingga titik ini, aku tidak merasa ada yang salah dengan hubungan mereka. Menurut penilaianku, hubungan mereka masih sehat, sebagaimana pasangan straight berpacaran. Tidak ada sama sekali pemikiranku untuk menghakimi, atau bahkan menyalahkan hubungan mereka berdua. Tetiba, ia menangis. Ia katakan, "Aku tahu, nggak mudah menjalani hubungan ini. Semua orang menolakku, dan mengatakan aku salah. Bahkan ada yang dengan tegas menyuruhku untuk bertobat! Padahal, emangnya salah Kas, kalau aku mencintai?" Sambil melihatnya menangis, aku pun berpikir, wajar jika ia menangis. Tertolak dan ter-stigma negatif oleh masyarakat yang "maha benar". Aku mulai dapat merasakan perasaan tertekan yang menghantuinya. 


Orang seperti temanku, jumlahnya bukan lagi banyak, malah sudah banyak banget. Temanku kini sudah menjadi almarhum; ia meregang nyawanya, karena tidak kuat dengan hinaan, cacian, dan (setahu aku juga) kekerasan fisik. 


Kadang aku juga berpikir, cukup layakkah kita menganggap kaum minoritas seksual sebagai liyan, dan secara paksa merebut 'kemerdekaan' mereka? Jika kemudian, ada yang membela diri, dengan mengatakan, “Memandang mereka negatif dan melarang kehadiran mereka di Indonesia, juga adalah kemerdekaanku ‘kan?”, saya justru kembali membalik pertanyaan tersebut, “Bukankah dengan memberikan stigma negatif seperti itu, justru kita sedang menjadi perebut hak dasar orang lain?”




Pada masa kemerdekaan seperti ini, bagi aku pribadi, sungguh memalukan, jika aku justru dengan tega, dan katanya “atas nama kebenaran” merebut kemerdekaan orang lain, yang aku kira juga tidak menjadi benalu yang mengganggu hidup kita. Justru di masa menyambut kemerdekaan ini, aku mau mengajak teman-teman semua untuk melihat kemerdekaan, bukan hanya untuk diri kita pribadi saja, tetapi juga melihat kemerdekaan orang lain, dan belajar untuk menghargai kemerdekaan itu. Bukankah dengan memberikan rasa aman bagi kaum minoritas seksual itu, secara tidak langsung, kita juga telah menunjukkan, seberapa dewasa kita dalam memandang perbedaan? Atau setidaknya, kita memberikan kelegaan, bagi mereka yang terjajah oleh stigma negatif masyarakat “normal”. Selamat memberikan kemerdekaan, bagi mereka yang dikucilkan, di-stigma negatif, dibuang, dan bahkan disiksa secara fisik serta psikisnya. 

LATEST POST

 

Kalimat itu terus terbesit dalam benak saya malam  itu di dalam kesendirian saya di kamar kos s...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 15 May 2021

Tidak ada seseorang yang sempurna untuk dicintai.Kamu akan menemukan orang-orang yang tidak sempurna...
by Monica Petra | 15 May 2021

Tujuh tahun yang lalu, ketika salah seorang sahabat terdekat saya meninggal dunia karena pesawat yan...
by Primaridiana Pradiptasari | 15 May 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER