Prapaskah: Interupsi Allah dan Memikul Salib

Going Deeper, God's Words, 10 February 2021
Selamat ikut masuk dan tenggelam dalam penghayatan misteri Paskah.

Apakah IGNITE People sekalian pernah diinterupsi? Ketika sedang menyampaikan beberapa pokok pemikiran dalam sebuah rapat, saya pernah mengalami yang namanya interupsi. Sedang asik-asik berbicara, saya diinterupsi oleh salah satu anggota rapat kemudian suara saya disanggah dan semua pokok pikiran saya ditolak. Saya yang belum selesai menyampaikan keinginan saya, topik sudah terlanjur berganti. Sebagai manusia sudah pasti saya kesal berada dalam keadaan seperti itu. 

Saat ini, kita tiba di dalam minggu-minggu Prapaskah. Selama 6 Minggu (kurang lebih 40 hari) gereja mengajak kita untuk mempersiapkan diri dengan berpuasa, berdoa san berderma. Selama minggu-minggu Prapaskah juga kita diajak merenungi bersama peristiwa-peristiwa Yesus dalam pelayananNya di dunia serta diajak bersama masuk dan berjalan bersamaNya juga di dalam penderitaanNya yang berujung pada salib yang menjulang di Bukit Golgota serta bersamaNya bangkit dari kekelaman. 

Di dalam masa Prapaskah ini, ada salah satu bagian Alkitab yang menegur saya, dan menjadi trigger tulisan saya kali ini. Satu bagian ini terambil dari Markus 8 : 31-35. Teman-teman bisa membacanya sendiri di Alkitab masing-masing. Sebuah bacaan yang cukup keras menurut saya  dimana Yesus dengan tegas menghardik Simon Petrus dengan berkata: 

”Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Markus 8:33b). 

Alih-alih ingin menegur Yesus agar terlihat melindungi awalnya,  namun Petrus salah langkah.  Di luar dugaan ternyata ia malah mendapat perlakuan yang cukup kasar dari gurunya sendiri. Kita semua pasti tahu siapa Petrus; ia murid yang sangat vokal & ambisius di antara para rasul Yesus. Petrus sering kali digambarkan sebagai sosok yang keras karena latar belakang pekerjaannya sebelum mengikut Yesus. 

Keberaniannya memang patut diacungi dua jempol, namun kali itu Petrus begitu gegabah. Dalam bacaan ini, Yesus benar-benar keras menghardik Petrus. Ketika mendengar Yesus yang memberitakan diriNya pada khalayak ramai bahwa sejatinya Ia akan ditangkap dan diadili serta harus dihukum mati,  Petrus merasa ada yang salah. Dalam imajinasinya, Yesus itu hadir bagi segenap bangsa Israel untuk melawan pemerintahan Romawi dan membebaskan umat dari penindasan. Yesus digambarkan olehnya sangat kuat dan berkuasa. Petrus merasa insecure bila Yesus benar-benar harus menderita, karena dalam pemikiran Petrus, Yesus hadir sebagai pahlawan yang gagah berani membela bangsa Israel. Jadi dengan bangganya Petrus membiarkan egonya keluar lalu menarik Yesus dan menegurNya.

Hal yang dilakukan Petrus adalah sebuah tindakan yang cukup 'heroik' menurut saya. Namun ternyata sungguhlah di luar dugaan,  Yesus menghardik Petrus - lebih tepatnya, menghardik Iblis yang merajai pikiran sempit Petrus kala itu. Yesus tahu bahwa Petrus memikirkan pikirannya sendiri dalam kacamata perspektif manusia yang sangat terbatas dan sempit serta melupakan rencana Allah yang begitu besar lewat Yesus Kristus. Tidak bisa saya bayangkan bagaimana kondisi mental ia saat diinterupsi oleh gurunya dan panutannya sendiri. Bila saya menjadi Petrus, mungkin saya akan "baper" dan overthinking.

Berkaca dari Petrus, saya kembali berefleksi. Bukankah terkadang kita seperti itu? Terkadang kita tidak memikirkan apa yang dipikirkan Allah. Kita memang masih manusia biasa, namun terkadang kita mencoba mempersempit pemikiran kita terhadap Allah dalam hidup kita. Tak jarang kita menempatkan Allah pada ruang sempit pemikiran kita belaka. Allah yang tidak terbatas, bekerja dengan caraNya yang begitu luas, namun manusia terkadang melogika-kan cara kerja Allah yang begitu luas tersebut. Kerap kali kita pun memaksa cara kerja kita, pemikiran kita, kemauan kitalah yang harusnya terjadi. 

Kita tidak pernah memberikan kesempatan bagi siapapun untuk menginterupsi ke"aku"an kita. Sampai akhirnya, saat keadaan memperlihatkan fakta bahwa kita gagal, semua yang kita inginkan tidak terjadi dan doa yang kita panjatkan pada Tuhan tidak terjadi, kemudian kita marah. Kita marah pada keadaan. Menyalahkan diri sendiri, menyalahkan keadaan bahkan kita menyalahkan Tuhan. Kita lupa kita manusia yang memiliki segala keterbatasan. Namun kita merasa kuat dan gagah kita bisa membuat kita bertahan. Sama seperti Petrus, Allah seringkali menginterupsi segala hal dalam diri kita.  Perlu kita ingat sekali lagi bahwa Allah begitu tidak terbatas (Omnipotent). Allah dapat melakukan apapun sesuai dengan apa yang Ia anggap baik, termasuk menginterupsi pemikiran kita, rencana kita, dll. Namun kita hanyalah manusia yang rapuh dan penuh dengan keterbatasan. Betapa egoisnya bila kerap kita hidup dalam ilusi kekuatan kita sendiri namun lupa percaya pada cara kerjaNya yang begitu luas dan mendalam. Kita kerap tak mengijinkanNya mengambil alih hidup kita. Kita terlalu insecure bila menyerahkan hidup kita pada pemeliharanNya.


Setelah Yesus menginterupsi Petrus, Yesus memberikan pesan pada setiap kita:

 ”Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.(Markus 8:34b). 

Dalam masa Prapaskah ini kita diundang untuk menyangkal diri dan memikul salib. Menyangkal diri berarti dipanggil untuk meninggalkan  segala ke"aku"an pada diri kita. Bukan aku lagi melainkan DIA yang menjadi pusat kehidupan kita. Mengikut DIA pun berarti kita diundang untuk percaya penuh pada jalanNya serta tuntunanNya terhadap diri kita. Dibawa kemana pun, dibawa ke dalam situasi seperti apapun kita tetap percaya dan mengikutiNya dengan setia. Segala keinginan, kehendak dan pemikiran kita pribadi kita serahkan penuh kepadaNya. Kita berharap, berserah serta melekat penuh hanya kepadaNya sehingga kita dapat masuk ke dalam rencanaNya yang begitu indah bagi setiap kita.

Menulis memanglah sangat gampang sekali dilakukan. Saya sendiri pun masih berjuang sampai detik ini. Ketika kerap kali Allah menginterupsi segala hal dalam diri saya tentu terkadang saya masih tidak siap. Perlu waktu yang lama terkadang untuk bisa menerima segalanya itu.  Tapi satu yang pasti, ketika Ia akhirnya mengambil alih kehidupan saya,  saya membuka hati untuk dijamah dan disentuh olehNya, da berserah penuh kepadaNya adalah kunci.  Percaya bahwa akhirnya Ia sendirilah yang akan membawa saya dan menuntun saya pada rencana indahNya. Saat ini hidup saya pun merasa sedang diinterupsi olehNya. Semua rencana-rencana saya, keinginan saya tidak terjadi. Marah? Kecewa? Wah sudah pasti di awal saya merasakan hal demikian. Tidak apa apa menurut saya, manusiawi. Namun segeralah menyadari bahwa segala hal ini bertujuan untuk kebaikan. Ia setia dan takkan meninggalkan. Dibawa ke dalam gelap, dibawa ke dalam badai, dibawa dalam kesunyian, dibawa ke dalam kesepian yang mendekam, memang tidak enak. Tapi percayalah Ia masih menggenggam erat tangan kita pada segala keadaan. DIA perduli pada kita dan tak akan meninggalkan kita. Karena kita ada di dalamNya dan DIA ada di dalam masing-masing kita. Mari, mengarahkan mata kita, hati kita kepadaNya sehingga kita merasakan genggaman tanganNya yang begitu erat bagi kita. Sebuah lagu dari Pelengkap Kidung Jemaat No 285 liriknya berbunyi demikian : 


Pegang selalu janji Tuhan,

jangan lepaskan,

walau siang atau malam;

enyahlah takut atau bimbang:

Tuhanlah pemilik hidupmu, hidupmu.


Walau mengalami interupsi yang begitu keras dalam hidup kita, Tuhan tetap pemilik hidup kita. Allah tetap setia bagi setiap kita. Tugas kita sekarang, maukah kita menyangkal diri kita dan memikul beban salib kita masing-masing?


Selamat berdoa dan berpuasa. Selamat ikut masuk dan tenggelam dalam penghayatan misteri Paskah.


Soli Deo Gloria

LATEST POST

 

"Lou, are we going under?""You're asking the wrong question, Jacob.""Wh...
by Victor Hasiholan | 18 Apr 2021

         Seperti tanah liat yang dibentuk menjadi gerabah yang indah, seper...
by Emmanuela Angela | 18 Apr 2021

Tahukah Anda, salah satu muslihat licik dari Iblis adalah membuat orang-orang percaya bahwa ia (Ibli...
by Victor Hasiholan | 18 Apr 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER