Aku Lelah. Sampai Kapan Harus Menunggu?

Going Deeper, God's Words, 23 December 2020
"Whatever it takes Or how my heart breaks I will be right here waiting for you"

Siapakah yang senang dan bahkan bergembira saat menunggu?

Cobalah tanyakan itu pada para penumpang kereta pagi yang berdesak-desakan di stasiun sambil bercucuran keringat menunggu kesempatan bisa masuk ke gerbong kereta. Atau mintalah pendapat pada para fresh graduates yang berbulan-bulan tidak kunjung mendapat kerja sampai mati rasa ditolak dan ditolak lagi. Coba tanyakan pula pada para lajang yang menginjak usia 30-an belum kunjung menemukan pasangan hidupnya meskipun sudah melakukan segala tips pakar asmara maupun rohani. Atau, mintalah jawabannya dari para pasangan yang bertahun-tahun menantikan karunia buah hati sambil berdoa dan berkonsultasi kemana-mana. Dan bertanyalah pada diri kita yang saat ini bertanya-tanya sampai kapan pandemi ini berlangsung dan kapankah akan berakhir? Ya, sampai kapan harus menunggu?

Unsplash by Macau Photo Agency

Siapakah yang akan menjawab bahwa menunggu adalah suatu kebahagiaan? Bukankah kita semua sangat tidak suka menunggu? Jika masih sebentar, kita mungkin masih sabar dan biasa-biasa saja. Tapi jika tak kunjung usai penantian kita, bukankah kita mudah sekali menjadi lelah, gusar, kesal, marah, bahkan sampai tawar hati?

Bangsa Israel pun menunggu. Menunggu tidak hanya satu dua tahun, tetapi ribuan tahun. Mereka menunggu hadirnya Mesias, Sang Penyelamat yang dijanjikan. Banyak nabi telah menubuatkan, tetapi Mesias tidak kunjung datang. Bangsa Israel bahkan tetap menunggu ketika suara nabi sempat tak terdengar selama ratusan tahun. Mungkin, generasi-generasi selanjutnya hanya mendengarkan pengajaran dari para orang tua dan guru agama mereka.

Maria adalah seorang perempuan muda dari Nazaret yang sedang mempersiapkan diri membangun rumah tangga bersama Yusuf, tunangannya. Ia pun seringkali mendengar pengajaran bahwa Mesias akan datang menyelamatkan bangsanya. Namun, ia pun tidak tahu kapan Mesias akan datang. Maria lebih tahu kapan tanggal pernikahannya dibandingkan kapan kedatangan Mesias.

Maria dan Yusuf. Source: FreeBibleImages

Apakah saat itu Maria juga menanti-nantikan kedatangan Mesias? Dan jika ia memang menanti, apa yang ia lakukan dalam penantian itu?

Mari kita membaca bagian isi pujian Maria kepada Allah setelah ia mendapat kabar dari malaikat bahwa ia akan mengandung Juruselamat. 

"Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya,

seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya." (Lukas 1:54-55) 

Dari kata-katanya, kita mengetahui bahwa Maria adalah seorang perempuan yang paham betul tentang janji Allah mengenai Mesias. Ia sangat bersukacita ketika penantian akan Mesias kini mulai terjawab. Dari sini kita tahu bahwa Maria pun juga menanti-nantikan Mesias dan ia mengisi penantiannya dengan memahami betul firman Allah. 

Pemahaman Maria akan janji Allah itu tidak berhenti sampai di level kognitif. Namun, melebihi sekedar pemahaman, Maria mempercayainya dan bahkan menghidupinya. Dari manakah kita tahu? Kita tahu itu dari perkataan Maria ketika malaikat menjumpainya dan memberitakan bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus. Saat itu Maria menjawab, 

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu" (Lukas 1:38)

Maria memberikan teladan pada kita bahwa dalam masa penantian, Maria hidup bergaul dengan Allah. Ia menanti Mesias dengan senantiasa berjaga-jaga sehingga ketika tiba-tiba ia mendapat kabar dari malaikat, Maria dapat dengan rendah hati menyerahkan dirinya. Ia tidak berusaha nego, berdalih, atau berdebat dengan malaikat ketika diberikan tugas yang tidak mudah itu. Padahal, sangat mungkin Maria sudah menyiapkan berbagai rencana masa depan yang indah bersama Yusuf. Namun, Maria menempatkan itu semua lebih rendah dibandingkan kehendak Tuhan atas dirinya.

Maria menerima kabar dari Malaikat. Source: FreeBibleImages

Matius 25:13 juga mengingatkan kita, 

"Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."

Konteks ayat tersebut adalah cerita tentang gadis-gadis yang bijaksana dan bodoh dalam menantikan kedatangan sang mempelai pria yang tidak terduga waktunya. Kita diingatkan untuk selalu menanti dengan setia dan iman yang teguh sehingga mampu menyongsong kehadiran Kristus kapanpun Ia datang untuk kedua kalinya. 

Ya, mungkin saat ini kita sedang dalam penantian. Ada yang menanti pengumuman beasiswa, seleksi lamaran kerja, menanti jodoh, anak, kesembuhan orang yang kita kasihi, dan penantian lainnya. Seringkali dalam masa-masa penantian ini, kita pun merasa lelah, goyah, marah, dan mungkin sampai tawar hati. Namun, mari kita ingat kembali teladan Maria, yaitu menanti dengan senantiasa bergaul dengan Allah. Karena di atas segala penantian kita terhadap apapun saat ini, ada penantian yang lebih agung, yaitu penantian akan kedatangan Yesus Kristus yang kedua kalinya. Karena itu, jangan biarkan pergumulan-pergumulan kita menggoyahkan iman percaya kita kepada Kristus. Sebaliknya, kita harus tetap waspada dan berjaga-jaga agar  tetap setia dan teguh hingga Kristus datang kembali walaupun saat ini ada berbagai doa dan harapan kita yang masih belum terjawab.

Selamat menanti! Tuhan menguatkan dan menemani.


LATEST POST

 

Buat kalian pecinta YouTube, adakah dari kalian yang merasakan hal yang berbeda di awal tahun ini? K...
by Lay Lukas Christian | 22 Jan 2021

Just imagine, or remember, if you have this kind of story of life! One day, you met your “supp...
by Timothy Aditya Sutantyo | 22 Jan 2021

Berada dalam suatu persekutuan inklusif yang membangun iman percayaku kepada Allah Tritunggal dan da...
by Jerell Michael Cussoy | 21 Jan 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER