Melihat Pemilu Sebagai Ruang untuk Belajar Memberi Diri Bagi Bangsa,dan Memberi Kasih Bagi Sesama

Going Deeper, God's Words, 12 April 2019
Katanya ini pesta rakyat, tetapi kenapa hati jadi penat?

Setelah beberapa minggu ini berlalu, Indonesia akan segera kembali merayakan pesta demokrasi—yang membutuhkan peran seluruh rakyatnya. Dengan kondisi seperti ini, mustahil rasanya untuk tidak terpapar oleh nuansa dan kabar-kabar terbaru mengenai Pemilu. Tidak jarang pula kita akan menerima berita yang kurang manis didengar, misalnya black campaign maupun hoax tentang para peserta Pemilu.

Sayangnya, pengaruh berita yang membeludak (dan tidak selalu membangun) seakan-akan mengubah antusiasme akan Pemilu menjadi kepenatan. Pekan-pekan yang seharusnya diisi dengan kebebasan berdemokrasi justru berganti dengan saling sindir-mencibir dan saling menyakiti. Tanpa disadari, kita—orang-orang yang diajari hidup dengan penuh cinta kasih—terseret dalam barisan yang terpancing untuk menggerutu, marah, dan berprasangka buruk pada sekelompok pihak yang bertentangan. Ironi klasik, bukan?

Katanya ini pesta rakyat, tetapi mengapa justru hati yang menjadi penat? Jika demikian, ada baiknya kita mundur sejenak dari tengah hiruk-pikuk dan keterlibatan kita pada Pemilu ini dan berefleksi, “Tuhan, apa yang Dikau rindukan agar kami, sebagai tubuh-Mu, kerjakan dalam perhelatan akbar tiap lustrum di bangsa ini?”



Photo by ZSun Fu on Unsplash

Dalam proses menarik diri itu, saya mencari alasan Pemilu harus hadir dan dirayakan. Saya menemukan daftar berisi asas dan tujuan Pemilu yang ditutup dengan, “…menjamin kesinambungan pembangunan nasional” . Saat mencoba memahami tujuan ini, ada satu bagian Alkitab yang tiba-tiba muncul di benak saya dan menjadi inspirasi tulisan ini.

Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.

(Yeremia 29:7)

Tidak dapat dipungkiri, ayat ini sering menjadi ayat jitu umat Kristiani dalam menanggapi isu yang menyangkut politik dan pemerintahan negara. Ya, ini adalah seruan nabi Yeremia kepada bangsa Israel dalam tahun awal masa pembuangan mereka ke Babel

Ada banyak cara untuk mengusahakan kesejahteraan kota, bukan? Namun akhir-akhir ini, saya memahami bahwa mengambil bagian dalam Pemilu adalah salah satu langkah paling sederhana dimana kita bisa mengusahakan kesejahteraan kota kita. Lebih dari itu, melalui ayat ini Tuhan seolah menjawab kondisi kita—orang Kristen di Indonesia pada masa ini. Dia terlebih dahulu menguatkan kita dari kesulitan terhadap situasi negara ini melalui salah satu bagian perkataan-Nya di atas:

“… kota ke mana kamu Aku buang…”

Sekilas, kutipan di atas menggambarkan betapa tidak nyamannya kota itu. Ketika seseorang dibuang, tentunya itu adalah pengalaman yang menyakitkan. Bayangkan: berada di tempat yang asing dan berlawanan dengan kondisi sebelumnya! Kalau dalam kondisi tersebut kita merasakan kepahitan yang mendalam, apa jadinya bangsa Israel kala itu? Diperintahkan untuk bekerja, berusaha, memakmurkan daerah yang tidak memberi kenyamanan bagi mereka? “Helloooo~ ogah gue!”


Photo by Ben White on Unsplash

Tidak hanya itu, Yeremia juga menyampaikan seruannya kepada orang-orang yang rumah ibadahnya dihancurkan dan seluruh tanah nenek moyangnya direbut. Di dalamnya, Yeremia berkata bahwa Allah memerintahkan mereka untuk mengusahakan kesejahteraan kota mereka yang baru, bahkan membawa bangsa yang menghancurkan daerah asalnya ke dalam doa-doa mereka. “Lah, gimana caranya?” Pastilah bangsa Israel tidak habis pikir betapa “gilanya” Tuhan saat memerintahkan demikian. Tapi, Dia melanjutkan,

“… karena kesejahteraan mereka adalah kesejahteraanmu…”

Jika kumpulan kata pada ayat di atas diibaratkan sebagai operasi matematika, maka kita dapat menganggap bahwa kata “kesejahteraan mereka” dan “kesejahteraanmu” memiliki level yang setara. Mari kita mencermati ayat di atas seperti ini:

[kesejahteraan mereka] = [kesejahteraanmu]

Kalau sudah begini, kita dapat menyederhanakan kedua kumpulan kata tersebut menjadi:

[kesejahteraan mereka] = [kesejahteraanmu]

[mereka] = [mu]

Ternyata oh ternyata, Firman Tuhan ini berbicara lebih dalam dari hanya “mengusahakan kesejahteraan kota supaya nantinya bangsa Israel sejahtera”. Tuhan mengajak umat-Nya melihat bahwa orang Babel pun sama dengan mereka. Artinya, mau tidak mau, mereka harus hidup beriringan dengan bangsa yang tidak mengenal Allah demi kesejahteraan mereka bersama. Melalui hal inilah kuasa Allah Israel disaksikan oleh orang-orang yang tidak mengenal-Nya.


Photo by Arnaud Jaegers on Unsplash

Allah, yang adalah kasih, tidak dapat melawan kodrat-Nya. Buktinya, Yeremia 29:7 menjadi sebuah penghargaan bagi orang Israel; Allah menyatakan bahwa kehadiran bangsa yang terpilih (bahkan dalam pembuangan) itu tetap menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk membawa kesejahteraan bagi orang-orang lain. Indah sekali, ya…

… tapi bukankah kita juga dipanggil demikian?

Mungkin tidak semua dari kita terpanggil untuk berperan aktif dalam Pemilu sebagai calon legislatif, anggota partai politik, atau aktivis dari berbagai gerakan. Namun, mengusahakan kesejahteraan kota (bahkan negara) juga dapat dimulai dari apa yang mampu kita kerjakan melalui partisipasi kita pada Pemilu kali ini—apapun peran kita. Bukan untuk wujud eksistensi diri, tapi sebagai bentuk ketaatan kita terhadap perintah Tuhan. Lagipula, bukankah Tuhan berfirman, “lakukanlah segala sesuatu dengan sepenuh hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23)?

Marilah kita mengikuti rangkaian Pemilu ini bukan karena kewajiban semata, atau agar calon yang kita idamkan menang. Kita bisa memulainya dari hal sederhana, antara lain:

1. peka terhadap informasi Pemilu;

2. memastikan data pemilih;

3. mengajak teman-teman (yang mungkin belum peduli) untuk menggunakan hak pilihnya;

4. mengawal proses pemilihan; dan

5. bijak dalam menghadapi kondisi masyarakat yang terbagi menjadi beberapa kubu selama pra hingga pasca Pemilu.


Photo by Arnaud Jaegers on Unsplash

Ingatlah, teman:setiap pertemuan yang menghasilkan perbedaan pendapat, perbedaan cara, bahkan perselisihan, merupakan anugerah dari Tuhan atas keanekaragamanan ciptaan-Nya. Begitu pula dengan pertemuan yang dipenuhi kata-kata yang menjatuhkan, berita yang tidak jujur, dan ujaran kebencian—selalu ada pengampunan dan kemurahan dari Tuhan Yesus bagi mereka yang bertobat dari dosa mereka.

Meski beberapa orang yang berbeda mungkin telah menyakiti kita, sesungguhnya mereka tidaklah lebih berdosa dibandingkan kita. Jika kita dilayakkan menerima kasih Allah, mengapa mereka tidak? Bisa saja negara kita tidak kekurangan kandidat yang berkualitas, sudut pandangan yang seragam, atau argumen yang cerdas; tapi mungkin negara kita kekurangan kasih (Agape) yang:

tetap sabar saat disakiti dan dicemooh.,

murah hati saat tidak dihargai,

tidak cemburu saat diperlakukan berbeda,

tidak melakukan yang tidak sopan saat menerima hal yang demikian,

tidak mencari keuntungan diri sendiri saat semua orang melakukannya, dan

tidak menjadi pemarah saat ada banyak alasan untuk marah.

Siapapun pemimpin yang duduk di jajaran pemerintah nanti, kita harus tetap ingat dan percaya bahwa Tuhan punya kasih yang besar bagi negara ini. Jika kita mengasihi Allah, maka kita juga harus mengasihi negara ini—serta setiap orang di dalamnya. Apapun afiliasi dan sikap politik sesama kita, mari kita belajar untuk mengasihi mereka dengan tulus; bahkan ketika secara logika hal itu menyakitkan.

We must grow in love and to do this we must go on loving and loving and giving and giving until it hurts—the way Jesus did.

(Mother Theresa)


Penulis : Mary Thalia
LATEST POST

 

Apa sih perasaannya kala itu?Saya sendiri bahkan tidak tahu apa yang saya rasakan. Saya tidak bahagi...
by Sobat Anonim | 15 Jul 2019

Purwokerto, 9 Juli 2019Shalom,Damai Sejahtera bagi kamu,Halo Nat, lama kita ngga berjumpa. Gima...
by Agustina Endarwanti | 15 Jul 2019

Water covers 70% of our planet and it is easy to think that it will always be plentiful and will not...
by Arum Sekar Ratrie | 15 Jul 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER