High Quality Individual: Bagaimana Menjadi Pribadi yang Bernilai

Best Regards, Live Through This, 27 December 2020
High quality doesn’t come cheap.

Banyak dari kita tentunya kalau disuruh memilih, mau punya pasangan atau mau single, akan menjawab ingin punya pasangan. Iya sih, punya pasangan itu menyenangkan, ada yang memperhatikan, ada yang mendampingi kalau mau makan, nonton, hang out. Ada tangan yang bisa digenggam ketika berjalan (Hehe…), bagi para cewek jadi punya “protektor”, kita berasa jadi princess. Memang sebuah angan yang indah, namun seringkali kita mempertanyakan, kapan kita punya pasangan sesuai yang kita inginkan, yang rupawan, perhatian, mungkin punya status yang baik, berprestasi, figur yang membuat teman-teman kita iri dan berdecak kagum. (Sampai sini apakah kalian terpikir siapa gerangan orangnya ?)


Sudah sudah…bangun dari mimpinya… Sebelum bersanding dengan orang dengan kualitas seperti itu, mari kita lihat kualitas diri kita sendiri. Mari kita bahas dari beberapa aspek.


Alkitab bilang manusia melihat rupa, tapi Allah melihat hati. It’s totally true, hal pertama yang dilihat manusia adalah rupa, fisik, penampilan. Saya nggak mau bilang penampilan adalah segalanya, tapi pasti ada sekian persen penilaian lawan jenis terhadap kita terkait penampilan kita. Penampilan bukan melulu soal wajah, warna kulit, atau trend fashion. Berpenampilan rapi dengan baju yang sesuai dengan situasi dan kondisi adalah pilihan yang baik. Rapi bukan selalu artinya formal atau kaku. Mengenakan kaos yang disetrika rapi tentu lebih enak dilihat, ketimbang kemeja yang banyak bekas lipatan. Kombinasi warna baju dengan celana atau sepatu juga ada baiknya kita perhatikan. Warna-warna tertentu perlu padu padan yang lebih kompleks, jadi kalau kita bukan tipe yang suka menghabiskan budget untuk fashion, pilihlah pakaian dan sepatu dengan warna yang lebih mudah dipadukan dengan banyak warna, seperti hitam, putih, biru tua atau coklat.


Penampilan tidak selamanya berhubungan langsung dengan harga atau brand tertentu. Memang betul beberapa brand dengan harga yang lumayan menawarkan produk yang nyaman dan terlihat keren. Kita bisa menabung untuk membeli satu produk yang cukup mahal, tapi awet dan nyaman; ketimbang membeli barang yang tidak terlalu kuat dan tidak terlalu kita suka, hanya karena murah, tapi setahun kemudian rusak atau kita malas memakainya lagi. Misalnya kita mau beli sepatu seharga 1,2 juta rupiah, kita bisa menyisihkan 100 ribu rupiah sebulan selama 12 bulan untuk membelinya. Jika kita pakai sepatu tersebut selama lima tahun, maka “ongkos pakainya” hanya 20 ribu rupiah sebulan. Bayangkan jika nilai tersebut kita bagi dengan hari, maka sehari tidak sampai seribu rupiah. 


Pastikan kita juga merawat barang ‘mahal’ yang kita punya, supaya tahan lama. Untuk pakaian, ikuti instruksi perawatan (mencuci, menyetrika) yang biasanya ada pada label di bagian samping. Untuk sepatu, ikuti perawatan yang bisa kita cari tahu dari internet, misalnya perawatan sneakers tentu akan berbeda dengan sepatu kulit. 


Selain penampilan “dari luar” kita juga perlu perhatikan penampilan dan kebersihan tubuh kita sendiri. Jangan sepelekan urusan mandi, menggosok gigi, memotong kuku dan rambut. Bau tidak sedap pasti akan membuat lawan jenis kita ilfeel dan menurunkan penilaian dia terhadap kita.


Berikutnya mari kita juga perhatikan bagaimana kita bersikap. Tepat waktu merupakan hal paling mudah untuk diukur, juga yang paling mudah dilanggar. Alasan traffic, padatnya jadwal, adanya rintangan dan lain-lain mudah sekali kita jadikan tameng saat kita terlambat. Ya, jika kita terlambat sekali karena memang ada halangan itu pasti dimaklumi, namun jika sudah sampai menjadi cap atas diri kita, maka kita perlu memperbaiki tata kelola waktu kita. Waktu adalah hal yang paling mudah untuk dikelola, karena tidak ada kondisi apapun yang membuat seseorang memiliki lebih atau kurang dari 24 jam sehari. Waktu tempuh juga dapat diprediksi melalui aplikasi peta di smartphone kita, biasakan sediakan tambahan 20-30% dari waktu tempuh tersebut, untuk mengantisipasi ada kecelakaan di jalan, jalanan ditutup, atau nyasar. 


Seorang yang menyenangkan juga adalah pribadi yang sopan, tau kondisi dan situasi, tidak memikirkan diri sendiri dan bisa berempati. Roma 12 : 15 berkata: 

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis.” 

Hal ini mau menggambarkan orang yang bisa berempati adalah cerminan orang yang hidup dalam kasih.


Selanjutnya, cara kita memperlakukan orang lain, khususnya yang dianggap lebih "inferior" daripada kita, misalnya waiter di cafe atau restoran, petugas parkiran, penjaja makanan keliling, koster gereja, petugas keamanan. Bagaimana kita berbicara kepada mereka, bagaimana kita berterima kasih kepada mereka, bagaimana respon kita jika mereka melakukan kesalahan. Termasuk dalam hal ini, bagaimana kita memperlakukan hewan liar atau tanaman. Itu semua bisa menjadi cerminan sifat dasar kita. 


Keuangan bisa juga menjadi aspek kita menilai diri sendiri dan orang lain. Bukan mengenai berapa banyak yang bisa kita hasilkan setiap bulan, atau berapa banyak yang bisa kita sisihkan dari uang jajan kita. Terlebih bukan seberapa banyak yang kita habiskan untuk memuaskan keinginan kita. Tapi bagaimana kita mengelola keuangan, apakah kita menyisihkan sebagian untuk menabung, berapa yang kita persembahkan ke gereja atau menyumbang ke orang atau yayasan yang membutuhkan. Bagi yang sudah memiliki penghasilan, apakah kita menyisihkan penghasilan kita untuk orang tua kita ? Seberapapun orang tua kita tidak memerlukan uang, inisiatif kita untuk memberi kepada mereka tentu akan sangat dihargai. Mungkin bentuknya tidak selalu dalam bentuk uang, bisa juga kita menyumbang bayar iuran keamanan dan kebersihan, atau bayar internet rumah, atau sekedar membayar makan jika pergi bersama. Sekecil apapun, orang tua kita akan bangga, dan juga sebagai latihan jika suatu saat nanti kita tinggal terpisah dari orang tua, kita terbiasa bertanggung jawab atas sesuatu.


Bicara mengenai tanggung jawab, individu yang berkualitas adalah yang bertanggung jawab atas pilihan dan keputusannya. Saat kita memutuskan menjadi pelajar, tanggung jawab kita adalah belajar, bertanggung jawablah dengan tidak masa bodo dengan pendidikan yang kita tempuh, betapapun sulit dan beratnya. Saat memutuskan untuk bekerja, bertanggung jawablah dengan waktu kerja, pekerjaan yang diberikan, jangan hitung-hitungan dengan atasan atau malas bekerja. Pekerjaan adalah anugerah, kesempatan, alat Tuhan memberikan penghidupan pada kita. Saat mengambil tanggung jawab pelayanan, komitmenlah dengan pelayanan yang Tuhan percayakan. Mungkin terlihat kecil, misalnya petugas persembahan, atau penyambutan, atau pelayanan lain yang tidak “terlihat” di depan, setialah dan sepenuh hatilah dalam hal itu. Tuhan yang melihat hati kita, kinerja kita, sedang mempersiapkan kita untuk hal yang lebih besar.


Nah, apakah kita menilai diri kita sebagai individu yang berkualitas tinggi? Ingat high quality doesn’t come cheap, kualitas yang tinggi tidak akan mudah di dapat. Ada harga yang harus dibayar, senantiasa libatkan Tuhan untuk kita melatih diri menjadi pribadi yang lebih baik. Seperti lagu “Makin serupa Yesus Tuhanku”, kiranya goal kita bisa makin mirip karakter Yesus, sedikit demi sedikit, semakin mencerminkan Tuhan, orang yang melihat kita bisa melihat Kristus dalam seorang pemuda/pemudi Kristen.

LATEST POST

 

Mazmur 42:2-3“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan E...
by Valentine Ibrahim | 23 May 2022

Sebuah kalimat yang melekat, buat saya, terhadap pendeta Budi Santoso Marsudi, adalah ketika Jumat A...
by Victor Hasiholan | 23 May 2022

Fenomena anak indigo tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Apalagi akhir-akhir ini, banyak content...
by Monica Petra | 23 May 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER