Komunitas: Kebersamaan dan Perpisahan

Best Regards, Live Through This, 24 March 2020
Pilihlah komunitas yang baik yang bisa membuat anda bertumbuh. Sayangi orang-orang yang ada di dalamnya, hargai setiap kebersamaan yang ada, dan biarlah setiap orang bisa sama-sama bertumbuh dalam iman yang benar melalui komunitasnya masing-masing.

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bersama dengan manusia lain. Suka atau tidak, introvert maupun ekstrovert, setiap manusia pasti akan membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Bedanya, bagi orang yang ekstrovert akan sangat senang untuk bergaul dan bertemu dengan orang banyak. Namun bukan berarti orang introvert tidak membutuhkan orang lain, hanya mungkin jumlahnya tidak sebanyak bagi orang ekstrovert. Bahkan bagi orang yang menyebut dirinya bisa hidup seorang diri pun, tidak bisa mengelak bahwa akan ada orang-orang lain di sekitarnya  mungkin saja suatu saat dibutuhkan.

Ironisnya ada beberapa orang yang memilih untuk hidup sendiri dan menjauhi orang-orang lain, misalnya dengan tinggal di dalam gua atau di tengan-tengah hutan. Dari sini kita mungkin akan langsung ingat dan merujuk kepada cerita Tarzan. Tokoh Tarzan adalah tokoh fiksi tentang seorang manusia yang sejak bayi tinggal dan besar di hutan. Sayangnya tokoh tersebut hanyalah tokoh fiksi atau karangan belaka. Namun ada pula tokoh nyata yang seperti itu yaitu Emma Orbach. 

https://www.greenme.it/ 

Ia sungguh-sungguh memilih hidup menyendiri di hutan dan meninggalkan semua alat tekonologi yang memudahkan untuk berkomunikasi. Menariknya, dari salah satu surat kabar yang saya baca terkait dengan Emma Orbach yang berusia 58 tahun ini1, ia tetap mengizinkan keluarganya untuk datang menemui dia. Ini menunjukkan bahwa dia tidak bisa mengelak bahwa ada orang lain dalam kehidupannya yang dia butuhkan.

Fakta bahwa manusia adalah makhluk sosial membawa manusia itu kepada kelompok yang dinamakan komunitas. Komunitas dapat diartikan sebagai sekumpulan orang yang tinggal dalam tempat yang sama atau memiliki karakteristik yang sama. Sederhananya, komunitas ini bisa terbentuk karena memiliki hobi yang sama. Misalnya komunitas dalam bermain game online, atau komunitas karena menyukai klub sepakbola yang sama. Komunitas juga dapat terbentuk karena daerah tempat tinggal yang sama. Biasanya akan punya nama sesuai kawasan tempat tinggal tersebut.

Fakta lainnya orang akan cenderung memilih tempat atau komunitas bagi diri mereka. Memang biasanya, orang akan memilih komunitas yang bisa memberi dampak baik atau menguntungkan mereka. Namun dalam perjalanannya, biasanya setiap orang akan memberi dampak satu sama lain untuk pertumbuhan komunitas itu sendiri. 

Dalam konteks kekristenan, persekutuan dengan sesama orang percaya juga dapat dikatakan sebagai sebuah komunitas. Memang biasanya akan ada sub kelompok yang lebih kecil lagi dalam sebuah persekutuan. Namun paling tidak tetap punya definisi yang sama yaitu berisi sekumpulan orang-orang percaya. Komunitas ini bermanfaat dalam menumbukan iman setiap orang di dalamnya. Dalam hal ini pun, mereka akan memilih komunitasnya dan biasa bergantung pada kesamaan kepribadian atau hal lainnya.

Komunitas bagi orang percaya merupakan suatu hal yang penting. Sebagaimana telah disebutkan, bahwa komunitas ini akan berpengaruh terhadap pertumbuhan iman kita. Paling tidak Rasul Paulus juga pernah menuliskan bahwa “pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik.” (I Korintus 15:33). Pesan yang ingin disampaikan adalah dengan siapa kita bergaul atau berkomunitas akan menentukan kebiasaan kita. Tentunya orang percaya atau orang Kristen juga perlu memilih pergaulan atau komunitas yang baik.

Setiap orang percaya dalam komunitasnya semakin hari akan semakin dekat dan mengenal satu sama lain. Setiap orang akan semakin mengenal kepribadian, kelebihan dan kekurangan satu sama lain. Mengetahui kelebihan orang lain tentu akan menyenangkan. Di sisi lain, mengetahui kekurangan orang lain menjadikan pembelajaran untuk tetap menerima satu sama lain dengan apa adanya. Dengan semakin mengenal kita juga akan membuat suatu komunitas semakin akrab, hangat, dan saling menyayangi. Bahkan bukan tidak mungkin bagi sebuah komunitas akhirnya menggunakan terminologi keluarga untuk menggambarkan kelompok mereka. Menggunakan kata keluarga tentu menggambarkan kebersamaan yang sangat erat.

Photo by Daan Stevens on Unsplash

Namun kenyataannya tidak ada yang bersifat kekal dalam dunia ini, bahkan termasuk komunitas. Kebersamaan yang sudah terjalin sekian lama juga akan memiliki akhir pada waktu yang mungkin tidak diharapkan. Akhirnya perpisahan menjadi tak terelakan. Saya percaya, perpisahan ini bukanlah hal yang diharapkan oleh semua orang. Suasana dalam sebuah perpisahan biasanya akan menjadi emosional dan cenderung menyedihkan. Bagaimana tidak, komunitas yang berisi orang-orang yang dapat membuat kita nyaman, komunitas yang menjadi tempat kita mencurahkan isi hati kita, komunitas tempat kita bisa pulang setelah melewati banyak hal melelahkan, semua itu harus dilupakan.

Mungkin ada sebagian orang yang jadi malas untuk memiliki komunitas karena menganggap bahwa komunitas itu juga tidak kekal dan bersifat sementara. Mungkin juga sebagian orang akan berkata untuk tidak terlalu bergantung pada sebuah komunitas yang bersifat sementara. Lebih ekstrem, mungkin orang melakukannya karena mengganggap orang lain hanya dapat mengecewakan. Terlepas dari banyaknya pendapat yang telah disebutkan, saya tentu tetap menganjurkan kepada semua orang untuk memilih memiliki komunitas yang baik dan sehat.

Memang perpisahan dalam sebuah komunitas tidak dapat dihindari. Suka atau tidak, suatu saat kita akan berpisah dengan komunitas yang telah membuat kita nyaman. Namun bukan berarti membuat kita pasrah dan terus-menerus larut dalam kesedihan. Bagi saya, tidak akan ada orang yang siap untuk sebuah perpisahan. Tidak apa jika kita bersedih saat menghadapi sebuah perpisahan. Tidak apa juga untuk menangis kala menghantar kepergian orang terkasih dalam sebuah komunitas. Tidak apa juga untuk menyatakan kerinduan saat sudah tidak bersama lagi. Semua itu wajar dan memang harus demikian. Namun, kehidupan kita harus tetap berlanjut.

Bagi kita yang masih bersama dengan komunitas tempat di mana kita bisa pulang setelah perjalanan panjang nan melelahkan, hargailah itu dan sayangilah orang-orang di dalamnya. Tidak perlu terlalu memikirkan masalah perpisahan. Nikmati momen dan kebersamaan yang ada. Salah seorang teman pernah berkata pada saya, “Kamu akan kehilangan kebahagiaan hari ini jika terlalu memikirkan tentang masalah esok hari.” Bukankah ini juga senada dengan ajaran Yesus tentang kesulitan sehari cukuplah untuk sehari?

Sebagai penutup, komunitas merupakan bagian penting yang akan membentuk kita menjadi seperti apa. Pilihlah komunitas yang baik yang bisa membuat anda bertumbuh. Sayangi orang-orang di dalamnya, hargai setiap kebersamaan yang ada, dan biarlah setiap orang bisa sama-sama bertumbuh dalam iman yang benar melalui komunitasnya masing-masing. Hingga sampai di kala perpisahan, kita bisa dengan kepala terangkat mengantar orang-orang dalam komunitas yang kita sayangi, karena komunitas kita juga adalah keluarga kita. 


Foto diambil dalam momen perpisahan sementara antara penulis dengan komunitas terkasihnya.

Daftar Pustaka 

1. https://bali.tribunnews.com/2019/05/01/kisah-emma-orbach-memilih-hidup-menyendiri-di-hutan-tanpa-teknologi


LATEST POST

 

Musa dan Yohanes merupakan penulis kitab pertama dan terakhir dalam Alkitab. Maka akan sangat menari...
by Jeffry Immanuel | 24 May 2024

Ethan Winters dan Mia baru saja memulai hidup barunya yang tentram dan damai bersama Rosemary, bayi...
by Olyvia Hulda | 23 May 2024

Respons terhadap Progresive ChristianityIstilah progresive Christianity terdengar belakangan ini. Ha...
by Immanuel Elson | 19 May 2024

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER