Memaksimalkan Potensi Remaja Dalam Pelayanan

Best Regards, Live Through This, 10 September 2020
Bagaimana jika ketidak terlibatan remaja dalam pembangunan tubuh Kristus adalah karena gereja telah gagal untuk memanggil mereka keluar dari kehidupan mereka yang biasa-biasa saja untuk mengambil bagian ke dalam Amanat Agung Allah?

Melayani remaja bisa dibilang merupakan hal yang paling menantang di zaman ini. Aku merupakan seorang pekerja di yayasan Kristen yang melayani siswa dan mahasiswa. Memuridkan siswa SMP dan SMA lalu melibatkan mereka sebagai pengurus dalam persekutuan siswa se-kota selama 3 tahun belakangan ini, memberikanku banyak pengalaman yang berarti.

Aku tidak bisa menilai sejauh mana perubahan yang aku buat dalam hidup mereka, namun aku bisa melihat perubahan dalam diriku sendiri ketika melayani mereka. Ya, aku merasa ketika melayani merekalah aku diproses menjadi semakin serupa dengan Kristus. Aku melihat betapa besarnya potensi yang remaja miliki jika mereka ditolong untuk memaksimalkan potensi mereka.

Audrey - Persekutuan Pelajar Kristen Banyuwangi Selatan

Gereja perlu melihat adanya potensi ini. Memangnya, apa yang bisa dilakukan seorang anak berusia 12-18 tahun bagi pembangunan tubuh Kristus? Bukankah seharusnya mereka belajar saja dengan sungguh-sungguh di rumah saat ini dan tidak perlu memikirkan pelayanan? Menurutku, itu bukanlah pemikiran yang tepat. Grant Skeldon dalam bukunya "Generasi Penuh Hasrat" menyatakan “Kaum milenial menolak gereja karena alasan yang cukup sederhana: gereja meminta terlalu sedikit dari mereka.” Meski buku ini berbicara tentang kaum milenial, namun hal ini juga dapat berlaku bagi generasi Z pada masa sekarang.

Bagaimana jika ketidak terlibatan remaja dalam pembangunan tubuh Kristus adalah karena gereja telah gagal untuk memanggil mereka keluar dari kehidupan mereka yang biasa-biasa saja untuk mengambil bagian ke dalam Amanat Agung Allah? Cara supaya kita bisa melakukan hal itu adalah dengan memuridkan mereka. Berjalan bersama mereka untuk bertumbuh dalam kebenaran firman dan melakukannya, adalah cara yang ditunjukkan oleh Alkitab. Aku akan membagikan 7 hal praktis yang bisa kita lakukan untuk dapat memaksimalkan potensi remaja dalam pelayanan:

1. Tunjukkan kepada mereka

Remaja membutuhkan teladan yang menunjukkan bagaimana menjadi pengikut Kristus di masa kini. Bukan berarti kita harus selalu tampak sempurna di hadapan mereka, bahkan penting untuk sesekali menunjukkan kerentanan kita. Craig Groeschel pernah mengatakan “Pemimpin yang tidak menunjukkan kerentanan adalah pemimpin yang tidak nyata.” Percayalah bahwa generasi muda enggan untuk mengikuti seorang pemimpin yang tidak mau berbagi kelemahan atau pergumulan hidup mereka. Menjadi teladan juga berbicara tentang menjadi teladan sebagai sepenuhnya manusia, yang memiliki kerentanan dan memperjuangkan ketaatan.

Bahkan Yesus pernah menunjukkan kerentanan-Nya dan terbuka akan hal itu terhadap murid-murid-Nya. “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.” (Matius 26:38) Yesus yang adalah Tuhan menunjukkan kesedihannya di hadapan para murid. Kita setuju bahwa Yesus adalah teladan yang sejati. Maka mengapa kita yang mengaku sebagai orang dewasa merasa gengsi untuk menunjukkan kelemahan kita kepada remaja?   

Photo by Priscilla Du Preez  on Unsplash

2. Dengarkan mereka

Didengarkan adalah sikap yang tidak akan pernah ditolak oleh siapa pun. Sebagai orang dewasa (tahun ini aku berusia 27 tahun), mendengarkan cerita seorang remaja membutuhkan banyak kesabaran. Mungkin kita menganggap bahwa apa yang mereka ceritakan adalah hal-hal yang remeh, tetapi itu adalah hal yang penting bagi mereka. Untuk memenangkan hati mereka, kita perlu menganggap penting apa yang mereka anggap penting terlebih dahulu.

Bukankah ini juga yang Yesus lakukan? Dia kerap kali ingin mendengarkan orang lain: “Apa yang engkau kehendaki Aku perbuat bagimu?” (Lukas 18:41) atau “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” (Markus 9:33). Meski Yesus tahu apa yang terjadi atau apa yang mereka pikirkan, Yesus tetap memilih untuk mendengarkan.

Imanuel - Persekutuan Pelajar Kristen Banyuwangi Selatan

3. Percayakan sesuatu kepada mereka

Memangnya apa yang bisa remaja lakukan? Ada banyak hal yang bisa remaja lakukan dan itu sulit jika dilakukan oleh orang dewasa, salah satunya adalah menjangkau remaja lainnya! Remaja masa kini suka sekali bersekutu dalam arti melakukan kegiatan bersama. Mereka bermain game online bersama, pergi ke mall bersama, bahkan membuat video Tiktok bersama-sama.

Remaja juga sangat mudah untuk mempelajari teknologi. Aku memiliki pengalaman memberi tugas kepada adik-adik remaja binaanku untuk membuat suatu konten video di social media mereka masing-masing, dengan demikian aku bisa tahu siapa di antara mereka yang memiliki potensi untuk mengedit video dengan baik. Di kesempatan lainnya, aku meminta dia untuk membuat video undangan ibadah persekutuan siswa kami. Demikian pula dengan membuat design, memain alat musik, memimpin pujian, bahkan meberitakan Injil. Doronglah mereka untuk melakukan itu. Latihlah mereka melakukannya. Percayalah kepada mereka meski hasilnya menurut kita tidak sempurna.

4. Izinkan mereka melakukan kesalahan

Jadilah tempat yang aman bagi mereka untuk membuat kesalahan. Ketika seorang remaja mengambil bagian dalam pelayanan mungkin ada banyak hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita. Mungkin suara yang sumbang, iringan musik dengan tempo yang berantakan, kualitas gambar yang low resolution, dan banyak hal lainnya. Hal-hal itu akan dengan mudah dan cepat dikerjakan oleh sekumpulan orang dewasa. Namun, dalam melayani remaja kita perlu bersabar dalam proses pengolahan bakat dan talenta mereka. Pada usia inilah mereka mencari tahu apa bakat mereka, dalam proses menemukannya pasti ada kegagalan-kegagalan. Maka kita perlu terus mendampingi.

Yesus bersabar terhadap para murid-Nya. Dia memakai Petrus menjadi seorang pemimpin gereja mula-mula meski pun Petrus pernah menyangkal Dia. Yesus sabar terhadap Tomas yang kurang percaya dan butuh bukti. Yesus juga mau memakai Saulus yang merupakan pembunuh jemaat untuk menjadi rasul. Tuhan tidak berhenti menjukkan kasih karunia-Nya kepada para murid. Saat ini, kita juga perlu menunjukkan kasih karunia itu kepada para remaja yang melakukan kegagalan dalam melayani.

Dokumentasi Perayaan Natal PSKB 2019

5. Berikan apresiasi

Apresiasi dapat memiliki berbagai macam bentuk. Apresiasi yang sering aku berikan berupa kata-kata peneguhan. “Keren sekali apa yang kalian kerjakan, kakak bangga dengan tim ini!”, begitu misalnya. Tentu saja kita perlu tulus menyampaikannya karena percayalah bahwa remaja dapat merasakan mana perkataan yang tulus dan yang tidak. Apresiasi membuat remaja menjadi semangat dalam mengerjakan misi selanjutnya dalam pelayanan. Hal ini juga menolong mereka percaya bahwa mereka mampu melakukannya.  

6. Jadilah teman: cari tahu apa yang mereka sukai

Memiliki hobi yang sama akan mempermudah kita untuk membangun relasi dengan remaja. Misalnya grup olahraga yang sama, game online yang sama, genre film yang sama dapat mempersatukan hati kita dengan remaja. Tidak ada yang jauh lebih menyenangkan dari rekan pelayanan yang juga merupakan sahabat baik kita. Sahabat melakukan hobi yang sama.

Kalau pun sebagai orang dewasa yang memiliki jarak usia yang cukup jauh dengan remaja, kita mungkin kesulitan untuk menemukan kesamaan, namun setidaknya kita bisa menunjukkan ketertarikan dengan ingin tahu apa yang mereka sukai. Ketika kita menunjukkan rasa ingin tahu, mereka akan menganggap kita ada adalah bagian dari mereka.

7. Beri jeda

Inilah yang biasanya paling sulit untuk aku lakukan. Sebagai orang dewasa aku tidak akan pernah tahu bagaimana beban menjadi seorang siswa di zaman ini, bagaimana tugas sekolah atau konflik sosial yang remaja alami. Alih-alih berpura-pura mengetahuinya, aku akan memberi jeda waktu bagi remaja yang aku layani untuk mereka memiliki waktu dengan diri mereka sendiri dan Tuhan.

Ada masa di mana kita tidak bisa menolong mereka dengan nasihat atau bantuan apa pun, tetapi percayalah kepada Allah yang sanggup bekerja di jeda waktu ketika kita sama sekali tidak berkomunikasi dengan mereka. Hanya izinkan mereka untuk tahu bahwa kita mengasihi mereka dan akan selalu ada kapan pun mereka membutuhkan. Memberi jeda membutuhkan kesabaran dan kesadaran bahwa bukan kita yang merupakan pemilik remaja, tetapi Tuhanlah yang memiliki mereka.

Penulis bersama pengurus Persekutuan Siswa Kristen Banyuwangi

Demikian 7 hal yang menolongku untuk melakukan pemuridan terhadap remaja dan memaksimalkan potensi mereka untuk melayani. Aku bukanlah pakar dalam hal ini, hanya berusaha merangkum apa yang selama ini aku kerjakan dalam pelayananku terhadap remaja. Semoga sedikit membantu setiap orang yang terbeban untuk melayani generasi muda masa kini. Tuhan Yesus memberkati!

LATEST POST

 

            Beberapa waktu lalu, saya dan keluarga di Malang mend...
by Yawan Yafet Wirawan | 20 Oct 2020

"Aku yakin kamu pasti senang kalau orang lain menganggap kamu ‘incredible’!"(...
by Timothy Aditya Sutantyo | 20 Oct 2020

Mungkin aku hanyalah seorang mahasiswa biasa dan masih jauh sekali untuk membicarakan pernikahan. Te...
by Yeheskiel Dewabrata | 19 Oct 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER