ARIEF GO: Ketika Mati Itu Nggak Jauh-Jauh Amat

Best Regards, Live Through This, 06 February 2021
Kali ini, tim admin kedatangan guest writer yang ingin turut membagikan kesaksiannya sebagai survivor Covid-19.

Saya diijinkan Tuhan untuk merasakan rasanya dekat sekali dengan kematian fisik, hingga sempat saya berpikir apakah saya akan pulang ke tanah air di dalam guci abu kremasi yang bertuliskan nama saya? Bagaimana dengan kehidupan keluarga saya, tanpa saya? Pikiran-pikiran itu sempat muncul di saat-saat kritis yang mengisi malam-malam gelap di rumah sakit, di tengah kesendirian tanpa keluarga yang mendampingi saya, seraya menahan rasa sakit yang luar biasa akibat gejala-gejala Covid-19. 

***

Saya mendarat di Amerika Serikat bersama istri dan Mami Daisy tanggal 19 Desember 2020 untuk merayakan Natal, Ultah Mami ke-79, Tahun Baru dan Anniversary kami yang ke-27 bersama anak-anak. Lagipula, sudah setahun kami tidak berjumpa mereka. 

Setibanya di Los Angeles, kami melakukan test swab bersama dengan anak-anak dan hasilnya semua negatif. Tapi, entah bagaimana saya dan anak-anak ternyata terpapar juga dengan virus ini dan padahal kami sudah mengikuti protokol kesehatan.


Awalnya anak saya, Jonathan, merasa badan capek semua, lalu minta pijat. Sebagai bapak yang baik, saya pijit anak saya dong. Ternyata, mungkin itu penyebab saya tertular dengan virus yang sangat luas penyebarannya di Amerika Serikat ini. Bayangkan saja, orang yang terjangkit Covid-19 di California saja, lebih banyak dari angka pasien yang terjangkit  di seluruh Indonesia. Padahal di Amerika Serikat, semua tampak patuh prosedur dan aturan. Semua pakai masker dan jaga jarak.

Saya pernah berkata pada kawan-kawan, kita hanya bisa berdoa saja kepada Tuhan untuk dihindarkan dari Covid ini. Tidak ada upaya yang pasti bisa menjamin kita terhindar. Semua hanya atas perkenanan Tuhan semata. Ada yang diam terus di rumah dan terpapar, ada yang keluyuran ke mana-mana, malah selalu negatif.  Ada yang masih belia, meninggal karena Covid-19, tapi banyak juga usiawan yang sembuh dari virus ini. 

Dan benar akhirnya anak saya dinyatakan positif Covid-19, dilanjutkan dengan  saya yang mulai merasakan gejala serupa, dilanjutkan anak pertama kami juga mulai mengalami gejala. Akhirnya kami melakukan tes PCR dan hasilnya saya dan anak-anak positif Covid-19. Puji Tuhan kalau istri dan mami saya yang berusia 79 tahun dinyatakan negatif. 

Kami kemudian melakukan isolasi mandiri di 2 apartemen  Anak saya, Jonathan sendirian mengurung diri di apartemennya, sedangkan kami semua melakukan isolasi di apartemen anak saya yang pertama, Kevin dengan arrangement saya dan Kevin tinggal di ruang tamu yang disekat sebagai lokasi isolasi para pasien Covid-19 dan mami dikurung juga di kamar sendiri untuk menghindarkan dari tertular.


Saya mengalami gejala yang paling parah dari kami bertiga. Anak-anak saya karena masih usianya 20an, mereka cepat sekali pulih dan normal kembali. Gejala yang saya alami sangat berat dan menyakitkan. Seluruh badan saya sakit luar biasa hingga ke tulang rasanya. Tylenol dan Ibuprofen menjadi santapan snack setiap 6 jam untuk meredam demam dan rasa sakit. Satu botol lebih masing-masing obat ini sudah saya konsumsi.

Belum lagi nafas saya yang sempat patah-patah dan pendek-pendek sehingga saturasi O2 sempat turun ke level 85. Tidak jarang saya harus terduduk di tengah malam hingga pagi sampai tertidur di posisi duduk untuk membuat saya lebih bisa bernafas, karena dengan posisi telentang paru-paru saya akan lebih susah menerima oksigen. 

Ditambah lagi secara mental, saya merasakan kesedihan yang luar biasa. Di bulan Januari 2021 saja ada 6 teman dekat saya yang terpapar di Indonesia dan dalam beberapa hari kemudian dipanggil pulang ke rumah Bapa. Ini membuat hati saya sedih sekaligus takut, dan pada akhirnya menekan immune system saya menjadi turun. Kondisi saya semakin parah. 

Silvy, istri saya, terus-terusan harus menggunakan masker dan jaga jarak untuk membantu merawat kami berdua yang sedang sakit, mulai dari menyiapkan makan, vitamin dan obat, mencuci pakaian dan mensterilkannya, juga melayani dan memastikan agar Mami Daisy tidak tertular. Sungguh Puji Tuhan, dia diberikan kesehatan yang luar biasa sehingga tetap sehat dan tidak tertular hingga saat ini.

***

Rasa sakit yang tidak tertahankan membuat saya mengikuti usulan anak untuk memeriksakan ke klinik kesehatan (urgent care) di kampus sekolah anak saya di UC San Diego. Awalnya iseng saja ke sana karena mau minta obat, karena badan masih sakit semua. Tapi mendadak saya di foto thorax dan dokternya menyarankan saya segeramasuk ke UGD (Emergency Unit) untuk diperiksa lanjutan dengan alasan hasil foto paru-paru saya terlihat putih!

Begitu sampai di Emergency Unit, saya dipisahkan kontak dengan  keluarga tanpa kabar hingga batas waktu yang tidak diketahui.  Saya langsung dimasukkan kamar terpisah untuk diinfus dan dipasangi kabel-kabel monitor jantung dan saturasi oksigen. Ada kira-kira 4-5 dokter yang menemui saya untuk mengecek data-data dan kondisi saya, beberapa sampel darah saya juga diambil.

Saya mulai takut, ketika diminta membuat pernyataan bahwa saya menyetujui tindakan kejut jantung apabila saya mengalami heart failure atau gagal jantung.

"This is to bring you back, Sir...." kata dokternya. 

Wah, saya mulai berpikir apakah sedekat itu saya saat ini dengan kematian?

Akhirnya saya menunggu tanpa kabar hingga pk 01.30 pagi saat saya dinyatakan bahwa saya harus segera diangkut ke rumah sakit khusus Covid-19 di UCSD Thornton Hospital di San Diego sampai batas waktu  yang belum bisa ditentukan. 

PANIKLAH!!!! Sementara keluarga saya di apartemen juga sampai menangis-nangis sambil doa mendengar keputusan ini. Ternyata belakangan dijelaskan bahwa keputusan  itu adalah hasil rapat tim dokter yang melihat reaksi tubuh saya yang muncul setelah saya diberikan suntikan booster paru-paru agar bisa lebih mengembang dan memudahkan saya untuk bernafas. Obat ini memberikan reaksi pada kadar gula dalam darah saya yang meningkat luar biasa tidak terkendalikan sehingga membuat jantung saya bekerja 150% di atas batas atas normal. Hal ini membuat saya dalam kondisi sangat rawan terserang stroke bahkan gagal jantung dan meninggal. 

Akhirnya keesokan harinya saya dilakukan puasa total selama 1 hari lebih. Hanya boleh konsumsi air.  Ini untuk melihat kadar gula yang diproduksi di dalam tubuh saya TANPA tambahan asupan gula dari makanan. Setiap jam saya harus diambil sampel darahnya selama 24 jam untuk bisa memantau kadar gula setiap jam. Jari-jari saya sampai habis lubang semua karena ditusuk setiap jam. 

Saya masih mengingat pukul 3 dini hari saat kadar gula saya turun jauh lebih rendah dari biasanya ditambah tanpa asupan makanan seharian membuat saya dalam kondisi kritis. Saya terbangun dengan kondisi badan yang terasa "melayang" di atas tempat tidur.  Kaki saya tidak bisa merasakan adanya kain sprei atau selimut yang menutupi badan saya.  Tapi saya sadar sesadarnya di kondisi ini, bahkan saya sempat berpikir apakah ini rasanya dekat sekali dengan kematian fisik. Sempat saya bertanya dalam doa, "Is this it, God?"

Saya pun akhirnya berhasil menekan tombol bel untuk memanggil Nurse In Charge malam itu untuk memberitahukan kondisi saya. 

Rupanya gula darah saya turun ke level yang sangat rendah sehingga saya dalam kondisi kritis. Saya tidak tahu tindakan apa yang lalu dilakukan karena saya tersadarkan beberapa jam kemudian dengan kadar gula yang jauh sudah normal dan badan saya lebih segar. 

Paginya saya kembali bersyukur bahwa saya masih diberi kesempatan hidup oleh Tuhan. 

Saya akhirnya diijinkan untuk isolasi mandiri di rumah. Betapa senangnya saya bisa kembali melihat matahari dan dijemput oleh istri dan anak tercinta. Akhirnya tanggal 29 Jan 2021 hasil PCR swab saya negatif Covid-19. 

Pengalaman dan pembelajaran ini benar-benar diijinkan Tuhan untuk saya alami agar saya disadarkan bahwa hidup kita sepenuhnya ada di tangan Tuhan. Janganlah kita kendor dalam mengucap syukur atas segala yang kita terima dalam hidup kita. Termasuk setiap tarikan nafas yang kita nikmati adalah berkat yang luar biasa. 

Saya pernah merasakan bagaimana sulitnya bernafas. Di bangsal rumah sakit, saya juga menyaksikan bagaimana pasien-pasien yang "belajar" bernafas dengan menggunakan alat-alat yang mengerikan bentuk dan suaranya. Hanya untuk memasukkan oksigen ke paru-paru mereka. 

“Pada saat saya semakin sadar bahwa kematian fisik itu nggak jauh-jauh amat, saya semakin disadarkan bahwa saya selama ini belum cukup banyak bersyukur atas anugerah Tuhan bagi saya selama ini," demikian sharing saya kepada Pdt. Andri Purnawan melalui WA di saat kondisi kritis.

Sekarang saya, istri dan Mami sudah kembali ke tanah air. Kami sudah menjalani 3 kali tes PCR dan semuanya dinyatakan negatif Covid-19. Semoga cerita panjang saya bisa berguna buat IGNITE People. 


*oleh Arief Goenadibrata, anggota jemaat GKI Darmo Satelit, Surabaya













LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER