Misi Tiada Batas

Best Regards, Live Through This, 12 September 2020
Dalam hidup di dunia, siapa pun kita, ada "tantangan" yang Tuhan berikan. Apa itu? Saya akan mencoba menjelaskan tantangan itu untuk kalian.

Ignite People, setahun sekali, gereja kita pasti memperingati 'Bulan Misi' bukan?


Tapi, tahukah kita sesungguhnya apa itu pelayanan misi?


Banyak orang berpikir bahwa pelayanan misi hanya dapat dilakukan oleh seorang misionaris dan dilakukan ke tempat-tempat yang jauh. Jika kita masih menggunakan pemikiran tersebut, pasti banyak dari kita berpikir bahwa kita bukanlah seorang misionaris, dan, secara otomatis kita juga berpikir, bahwa kita tidak akan dapat melakukan pelayanan misi.


Sumber: http://beacononline.co.uk/mission-partners/




Benarkah demikian? Aku pun awalnya berpikir demikian. Walaupun sudah kurang lebih tiga tahun aku bergereja secara rutin, aku masih saja berpikir kalau pelayanan misi menjadi suatu pelayanan yang rumit. Pelayanan yang satu ini tampaknya memerlukan banyak hal yang harus dipersiapkan, dan harus memiliki dasar pemahaman Alkitab yang kuat (seperti memiliki gelar teologi di belakang namanya). Berangkat dari pemahamanku tersebut, aku memahami pelayanan misi sebagai sesuatu yang rumit, karena memerlukan perjuangan besar untuk mengabarkan Injil ke seluruh pelosok negeri agar banyak orang menjadi percaya kepada Yesus, dan itu berarti harus memenuhi ruang lingkup yang luas.


Hingga pada akhirnya, kini di bulan September, sebagian dari kita tengah berada pada bulan misi, dan akhirnya aku memahami bahwa sesungguhnya pelayanan misi merupakan panggilan bagi setiap orang Kristen. Di mana seperti kita bermain tongkat estafet, kita akan "mengoper tongkat" tersebut kepada seorang lain lagi. Bermisi pun demikian. Setiap orang yang percaya kepada Kristus, dipanggil untuk meneruskan misi dan karya Kristus di tengah-tengah dunia, namun tidak harus dalam lingkup yang luas. Bukan sebagai beban tugas, tetapi bermisi juga menjadi sebuah panggilan manusia berdosa yang telah  ditebus dengan kasih dan darah-Nya yang mahal. Kita hanya memerlukan komitmen untuk melanjutkan misi dan karya-Nya tersebut, sebab akan selalu ada tantangan dan godaan yang kita hadapi.


Pada dasarnya, sebagai manusia mungkin kita berharap bahwa dengan bermisi akan banyak orang menjadi percaya kepada-Nya. Akan tetapi, hal itu tidak semudah kita membalikkan telapak tangan, sebab setiap orang memiliki karakter dan pemahaman yang berbeda. Oleh karena itu, jangan sampai pelayanan misi kita justru menjadi batu sandungan bagi orang lain, melainkan dimana pelayanan misi kita itu berada, justru dapat mencerminkan kebaikan dan kasih-Nya. Tentu saja semua pelayanan misi kita membutuhkan pimpinan dan hikmat Tuhan.

Jika demikian, mungkin kita pun berpikir: "Lantas, pelayanan misi seperti apa yang dapat kita lakukan?" Berbicara tentang macam pelayanan misi yang dapat kita lakukan, tentu tiap orang memiliki panggilan yang berbeda satu sama lain. Ada yang panggilannya memang sebagai misionaris, dan mungkin ada pula yang justru bermisi di lingkungan kerjanya. Semua didasari atas panggilan-Nya terhadap kita. Maka, yang harus kita tekankan pada diri kita adalah, semua pelayanan misi yang sudah, akan, atau sedang kita lakukan adalah sesuai dengan kehendak Tuhan.

Oleh karena itu, dalam menggumulkan apa yang menjadi panggilan misi kita, perlu bagi kita untuk mengenal Tuhan secara dekat. Sebab, dalam panggilan misi kita, hanya Tuhan yang akan memberkati pelayanan tersebut. Kita takkan dapat bermisi untuk kemuliaan-Nya, jika kita tidak mengenal Tuhan.


Sumber: https://kumpulankhotbahalkitabiah.blogspot.com/2015/05/pentingnya-doa-bagi-orang-kristen.html


Dalam keterbatasan fisik, aku pun bingung dan minder, serta bertanya pada diriku, “Apakah dengan keterbatasanku, aku masih dapat bermisi?”. Aku pun terus bergumul: “Apa yang menjadi tujuan Tuhan dalam hidupku?”, terlebih ketika aku belum sepenuhnya mengenal Tuhan, dan membuatku sering menggerutu. Namun, bukankah semua itu tidak akan membuahkan hasil? Bukankah banyak orang di luar sana juga mengalami dengan kondisi yang sama atau bahkan justru lebih parah daripada yang kita alami?

Merefleksikan hal tersebut, membuatku tertegun. Hingga seiring berjalannya waktu, aku pun mulai menyadari bahwa mungkin dengan keterbatasan fisikku, Tuhan ingin nama-Nya dipermuliakan lewat setiap hal yang aku kerjakan. Entah itu melalui kesaksian ataupun pelayananku, meskipun aku juga menyadari bahwa belum semua yang aku lakukan sempurna, namun semua yang aku lakukan harus dengan tujuan: "kemuliaan nama-Nya". Lalu, pikirku,


"Sulit memang...

Tapi haruskah aku marah pada Tuhan?


Bukankah seharusnya Tuhan yang kecewa

jika aku tidak memenuhi panggilan-Nya?"


Seperti saat kita bekerja dan atasan memberikan kita tugas, di mana semua tugas-tugas yang diberikan kita pasti kita akan dituntut untuk mengerjakannya agar atasan tidak marah dan kecewa terhadap kita, Tuhan pun pasti kecewa, jika kita tidak mau memenuhi panggilan-Nya untuk bermisi. Sebab, jika kita renungkan, pada awalnya Tuhan pun bermisi. Dia turun ke dunia untuk menebus dosa-dosa kita, bahkan hingga rela dihina, disiksa, diludahi, dan kemudian disalibkan, hingga akhirnya bangkit.

Aku pun merasa bersyukur, karena meskipun sebelumnya aku tak memahami apa makna misi yang sesungguhnya, ternyata Tuhan pernah membukakan jalan untukku bermisi, yakni ketika aku dapat melayani di suatu panti asuhan bersama teman-teman sekolah, dengan teman-teman gereja, maupun yang diadakan bersama Komisi Dewasa Muda di gerejaku. Di waktu-waktu itu, kami merasakan sukacita, sebab kami dapat berbagi kasih Tuhan, yang telah terlebih dahulu dianugerahkan-Nya pada kami.



“Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.”

1 Korintus 9 : 16

Paulus pun menyadari bahwa sesungguhnya dia memiliki tugas untuk memberitakan Injil. Paulus menyadari bahwa ini menjadi suatu keharusan. Bukan agar dirinya dikenal dan dimegahkan, namun agar banyak orang mengenal dan memuliakan Tuhan. Bahkan, dia mengatakan kalau celakalah dia jika tidak memberitakan Injil. Maka, ayat ini juga yang menjadi perenungan bagiku untuk mau memenuhi panggilan-Nya.

Teknologi sudah berkembang pesat, sehingga seharusnya tidak menjadikan kita ragu untuk bermisi. Bagaimana tidak, dengan perkembangan teknologi dan internet, kita dapat menjangkau orang, dengan wilayah yang nyaris tak terbatas, bahkan hingga ke pelosok negeri sekalipun. Terlebih, di masa pandemi seperti saat ini, ibadah dan persekutuan pun jadi dilakukan secara online.

Jadi, sebenarnya bermisi dapat dilakukan kapan pun dan dimana pun dengan beragam cara. Bahkan, bermisi juga dapat dilakukan di tengah-tengah keluarga ataupun dengan kelompok kecil kita, sehingga seharusnya tidak ada yang dapat menghalangi kita untuk bermisi.


Lalu, bagaimana dengan kita? Apakah kita masih ragu untuk bermisi?

LATEST POST

 

            Beberapa waktu lalu, saya dan keluarga di Malang mend...
by Yawan Yafet Wirawan | 20 Oct 2020

"Aku yakin kamu pasti senang kalau orang lain menganggap kamu ‘incredible’!"(...
by Timothy Aditya Sutantyo | 20 Oct 2020

Mungkin aku hanyalah seorang mahasiswa biasa dan masih jauh sekali untuk membicarakan pernikahan. Te...
by Yeheskiel Dewabrata | 19 Oct 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER