Spirit Doll: Trend atau Berhala?

Going Deeper, God's Words, 15 January 2022
"Apa itu penyembahan berhala? Penyembahan berhala ialah mereka-reka atau mempunyai sesuatu yang oleh manusia dijadikan tempat kepercayaan sebagai ganti Allah yang Esa dan benar, yang menyatakan diri-Nya dalam Firman-Nya, atau di samping Dia." - Katekismus Heildelberg, Pertanyaan ke-95

Hai, Ignite people! Di awal tahun ini, kita diperhadapkan dengan sebuah fenomena di kalangan para artis. Salah satunya adalah munculnya boneka roh atau biasa disebut "Spirit Doll". Menurut mereka, "Spirit Doll" ini sebenarnya bertujuan untuk menjadi hiburan semata. Bahkan ada yang menganggapnya sebagai anaknya sendiri tetapi dalam berwujud "boneka".

Nah, menurut Alkitab, boleh nggak, sih, kita bermain atau bahkan mengoleksi "Spirit Doll" ini? Dan bagaimana kita menyikapi fenomena ini di dalamnya?


Asal Usul "Spirit Doll"

Berdasarkan sebuah artikel dalam Kompas.com, diketahui bahwa asal usul "Spirit Doll" ini berasal dari Asia Tenggara, tepatnya di Thailand. Spirit Doll ini dikenal dengan nama populernya Luk Thep (Bahasa Indonesia: Malaikat Anak). Dikatakan bahwa boneka ini dipergunakan sebagai pembawa keberuntungan dan kemakmuran di dalamnya. Dalam boneka-boneka tersebut dimasukkan roh-roh yang baik untuk membawa keberuntungan dan kemakmuran bagi si pemilik boneka tersebut. Mereka setiap harinya harus diperlakukan sebagaimana mereka yang punya ini seperti memiliki anak kandung sendiri. Mereka diberi pakaian, makanan, minuman, dan sebagainya untuk mempercantik boneka tersebut. Bahkan, kalau kita melihat tayangan di Youtube, kita akan melihat fenomena bahwa boneka-boneka ini "mengisap" sari-sari makanan dan minuman yang disajikan. Walaupun secara fisik makanan dan minuman tidak mengalami perubahan, tetapi dipercaya bahwa rasa dari makanan dan minuman yang dimakan dan diminum itu akan menjadi hambar. Ada juga versi lain yang mengatakan bahwa "Spirit Doll" ini tercipta berdasarkan legenda dari Thailand bahwa "Spirit Doll" ini merupakan sebuah janin yang telah mati dalam kandungan dan kemudian dipindahkan ke dalam boneka berbentuk manusia.


Spirit Doll ala Thailand Luk Thep



Faktor Lain Dari Spirit Doll

Masih dari artikel Kompas.com, kemunculan fenomena "Spirit Doll" ini juga terdorong oleh faktor tingkat kesuburan yang terjadi di Thailand, karena para perempuan di sana mengalami tingkat kesuburan yang rendah, sehingga ke mana-mana mereka harus membawa boneka ini. Namun ada juga faktor ekonomi di dalamnya juga, yaitu disaat Thailand mengalami perkembangan ekonomi yang buruk di tahun 2016, dan untuk itu mereka yang terkena dampak ini pada akhirnya memiliki "pegangan" yang membawa keberuntungan di saat-saat itu.

"Spirit Doll" ini juga populer di kalangan orang-orang Vietnam. Mereka menyebut boneka ini dengan nama Kuman Thong. Cara mereka memperlakukan boneka ini juga sama seperti yang ada di Thailand, yaitu memberi makan dan minum sebagaimana layaknya seorang anak.


Spirit doll ala Vietnam Kuman Thong



Apa Kata Alkitab?

Kita harus menyadari bahwa sebagai manusia, kita adalah spiritual being. Artinya, kita adalah makhluk yang membutuhkan relasi secara spiritual. Kita menyadari bahwa ada kuasa yang lebih besar daripada kita, sehingga ada dorongan untuk bergantung pada kuasa tersebut. Pertanyaannya adalah siapakah yang menjadi tempat sandaran kita saat ini? Lalu, apa hubungannya dengan spirit doll? Mari kita berkaca dari kisah-kisah di Alkitab!


Yakub dan keluarganya


Pada zaman Perjanjian Lama, tepatnya sebelum ada Sepuluh Firman, Yakub—untuk pertama kalinya—memerintahkan semua anggota keluarga dan seisi rumahnya untuk menanggalkan barang-barang berharga, patung-patung berhala, dan anting-anting serta yang lainnya. Tujuannya yaitu agar mereka semua boleh layak untuk beribadah kepada Tuhan di Betel.


Lalu berkatalah Yakub kepada seisi rumahnya dan kepada semua orang yang bersama-sama dengan dia: "Jauhkanlah dewa-dewa asing yang ada di tengah-tengah kamu, tahirkanlah dirimu dan tukarlah pakaianmu. Marilah kita bersiap dan pergi ke Betel; aku akan membuat mezbah di situ bagi Allah, yang telah menjawab aku pada masa kesesakanku dan yang telah menyertai aku di jalan yang kutempuh." Mereka menyerahkan kepada Yakub segala dewa asing yang dipunyai mereka dan anting-anting yang ada pada telinga mereka, lalu Yakub menanamnya di bawah pohon besar yang dekat Sikhem.

Kejadian 35 : 2 - 4


Kira-kira hampir 500 tahun kemudian, saat bangsa Israel telah keluar dari tanah Mesir dan sampai di kaki Gunung Sinai, Tuhan sendiri meneguhkan tindakan Yakub dalam Sepuluh Firman, terutama di perintah yang kedua:


"Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya."

Keluaran 20 : 4 - 5a

Dalam perjalanan bangsa Israel, mereka justru melawan perintah Allah yang kedua ini dengan cara membuat patung anak lembu emas. Seperti yang kita tahu bahwa mereka menyembahnya dan mencium akan patung anak lembu emas ini. Sampai saat Musa dan Yosua datang, mereka masih saja tetap menyembahnya. Akhirnya, Musa murka dan menghancurkan loh-loh batu di tangannya, dan kemudian menghancurkan patung tersebut dan menggilingnya menjadi serbuk-serbuk yang ditabur di sungai yang harus diminum oleh bangsa itu. Akibatnya, banyak orang yang saling bunuh-membunuh akan hal ini, sesuai dengan perintah yang dititahkan Musa untuk saling membunuh (lihat Keluaran 32).


Penyembahan Anak Lembu Emas


Namun, apakah ini menjadi titik balik bagi orang Israel? Tidak. Seperti yang kita tahu bahwa di zaman hakim-hakim dan raja-raja Israel, bangsa ini senantiasa mengikuti allah-allah bangsa-bangsa lain. Bahkan mereka juga hidup berdampingan dengan orang-orang penyembah berhala. Mereka senantiasa beribadah kepada patung-patung, kepada benda-benda alam, menyembah roh-roh dan malaikat-malaikat, juga para dewa bangsa-bangsa lain. Sampai akhirnya bangsa Israel tertawan oleh bangsa-bangsa asing. Sebab mereka tidak taat setia kepada Allah dan tidak mengikuti perintah-perintah-Nya, maka Allah menyerahkan mereka untuk ditawan oleh bangsa Babel dan Asyur. 


Perintah Tuhan jelas-jelas meminta kepada orang Israel agar mereka menjauhkan diri dari segala berhala-berhala asing di saat mereka telah menduduki Tanah Perjanjian. Namun kenyataannya mereka enggan bahkan tidak mau menghilangkan jejak-jejak penyembahan berhala. Dan justru hidup berdampingan dengan bangsa-bangsa lain yang tidak menyembah Allah. Hal seperti inilah yang menyakiti hati Tuhan. Dan tidak heran bahwa Tuhan menyatakan bahwa mereka adalah bangsa yang tegar tengkuk.


Lagi firman TUHAN kepada Musa: "Telah Kulihat bangsa ini dan sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk. Oleh sebab itu biarkanlah Aku, supaya murka-Ku bangkit terhadap mereka dan Aku akan membinasakan mereka."

Keluaran 32:9-10b

Dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus sendiri tidak menjelaskan perihal tentang penyembahan berhala. Namun Ia meminta agar kita senantiasa menyadari apa yang menjadi pegangan hidup kita. Dimana hati kita melekat, di situlah terpancar siapa yang kita sembah dan agungkan. Apakah itu Tuhan kita atau bukan.


"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada."

Matius 6:19-21 


Yesus Mengajar

​​​

Alkitab jelas mengatakan bahwa kita seharusnya tidak menjadikan sesuatu yang kita punya sebagai "allah" kita sehari-hari. Namun kenyataannya, justru kita masih berpegang pada apa yang menjadi "allah" kita masing-masing. Bahkan fenomena spirit doll ini juga salah satu bentuknya.


Apa Sikap Kita?

Tuhan sangat jelas menyatakan bahwa apapun yang diluar dari diri-Nya sendiri semuanya adalah bentuk penyembahan berhala. Sebagai orang Kristen kita harus bisa menyikapi fenomena ini dengan baik dan bijak. Seperti apakah itu?

  1. Pertama, jangan menjadikan segala kepemilikan kita adalah sesuatu yang sangat berharga dibanding Tuhan kita. Semua yang kita punya harus kita kuasai dengan baik. Jangan sampai semuanya itu mengalihkan kita dari Tuhan, yang menciptakan dan menghidupkan kita. Jangan sekali-kali menggantikan posisi Tuhan dalam diri kita.
  2. Kedua, segala sesuatu yang kita sebut trendi dan mengikuti perkembangan zaman, pada akhirnya semuanya itu akan berganti. Jadi dengan kata lain, tren-tren yang terjadi sekarang ini pada akhirnya akan hilang begitu saja dan bahkan sudah tidak ada lagi. Maka dari itu. kita harus sadar kalau semuanya itu akan berlalu begitu saja.
  3. Ketiga, tidak masalah jika kita mengoleksi barang-barang tertentu, tetapi kita harus tahu apa alasan kita mengoleksi barang-barang tersebut. Apakah semua ini hanya sekedar kesenangan semata atau memang semua yang kita koleksikan ini juga ada manfaatnya bagi kita bahkan menjadi berkat bagi orang lain. Kalau kita tahu kenapa alasan kita mengoleksi barang-barang tersebut, maka pikiran kita sudah mulai terbentuk untuk melihat bahwa ada nilai kegunaan dari setiap barang yang kita koleksi.
  4. Keempat, pergunakan segala kepunyaan kita untuk hormat dan kemuliaan nama Tuhan. Kita boleh mengoleksi apa saja (tentunya yang membawa dampak yang positif bagi kita). Namun, semuanya itu kita pakai semata-mata untuk kemuliaan nama Tuhan. Sebab kita menyadari, bahwa apa yang menjadi koleksi barang-barang kita, semuanya itu boleh menjadi berkat bagi orang lain dan bukan untuk diri sendiri saja. 


Kesimpulannya adalah sebagai orang Kristen kita boleh mengoleksi barang apapun (yang bisa membawa dampak positif bagi kita). Namun haruslah diingat dan dipahami bahwa kita harus bertanya pada diri kita sendiri, apakah barang yang kita koleksi ini membawa berkat bagi kita dan orang lain atau tidak. Jangan sampai karena kita mengikuti tren, kita malah terjerumus jauh dari Tuhan yang adalah fokus hidup dan karya kita.


Kiranya Tuhan senantiasa memberikan hikmat dan kebijaksanaan bagi kita dalam menyikapi fenomena-fenomena seperti ini.

LATEST POST

 

Mazmur 42:2-3“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan E...
by Valentine Ibrahim | 23 May 2022

Sebuah kalimat yang melekat, buat saya, terhadap pendeta Budi Santoso Marsudi, adalah ketika Jumat A...
by Victor Hasiholan | 23 May 2022

Fenomena anak indigo tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Apalagi akhir-akhir ini, banyak content...
by Monica Petra | 23 May 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER