Melacur

Best Regards, Fiction, 06 September 2020
Sambil menorehkan foundation, bedak dan aneka peralatan make up agar nampak cantik, pikiranku melayang-layang.

“Hai Fio sayang, hari ini kamu open ya?”

Satu dari sekian chat masuk melalui aplikasi, yang banyak di antaranya adalah para pria yang telah menikah, bahkan memiliki anak, dan sedang mencari “hiburan.” Kalian tak perlu tahu namaku sebenarnya, cukup panggil Fio, sama seperti mereka mengenalku melalui dunia gelap.


Mungkin sebagian dari kalian bisa menduga bagaimana aku memenuhi kebutuhanku. Tapi, tak sepenuhnya berasal dari uang “kotor” kok. Aku juga bekerja dengan layak dari pagi hingga sore hari, walaupun apa yang kudapat belum bisa menutupi biaya hidup aku dan anakku. Bahkan, aku juga berharap lepas dari pekerjaan hina ini.

“Kenapa tidak berhenti saja?” Mungkin itu pertanyaan di kepalamu.

Hidup tidak semudah itu kawan, khususnya bagi aku dan beberapa perempuan sepertiku. Setidaknya, aku mencoba tidak iri terhadap kalian, yang mungkin masih bisa makan tiga kali sehari dengan gizi yang layak, bahkan menyisakannya hanya karena tidak sesuai selera. Aku berusaha tidak membenci kalian, yang dapat menghabiskan malam hanya sekadar berkumpul, bermain kartu, dan menggenggam minuman berwarna-warni yang mungkin seharga gaji harianku di kota ini. Mungkin, nasibku saja yang tidak seberuntung kalian.

Sembari menyisir rambut yang mulai panjang sebahu di depan cermin kamar, aku mencoba menenangkan hatiku. Tamu yang akan datang adalah seorang manajer dari perusahaan besar, sama seperti mantan suamiku. Sudah beberapa kali kami bertemu dan ia menceritakan keluhannya mengenai pasangan dan anak gadisnya yang sulit menuruti kehendaknya, sehingga ia mencari kebahagiaan yang lain. Pengecut memang, tapi aku masih membutuhkan uangnya.

Terkadang aku masih belum bisa memaafkan pria yang terlalu bersikap otoriter. Susah tentunya melupakan apa yang dilakukan oleh ayah dan Mas Dio, mantan suamiku, sehingga kondisiku menjadi sulit seperti ini.

***

“Yah, aku kenapa sih aku ga boleh lanjut belajar ke kota? Aku kepingin jadi wanita yang sukses, pinter kaya mbak Nana, atau mau bisa lancar omong depan kamera, kaya presenter.”

“Sudah diomongin berkali-kali. Kamu itu cewek, tahu apa tentang sukses?” Ia membentakku.

“Tapi yah…”

Dengan nada yang makin meninggi “Diam! Kamu akan ke kota, setelah minggu depan ayah nikahkan kamu dengan mas Dio.”

“Mas Dio? Aku kan juga baru ketemu tadi, gimana mungkin nikah?”

“Bapaknya Dio sudah bantu usaha ayah, apalagi keluarga priayi. Jadi kamu harus dinikahkan dengan anaknya.”

“Ga bisa gitu dong Yah, aku masih muda dan ga bisa seenaknya gitu.”

“Sudah dibilang diam!” Bentakan itu disertai dengan tamparan kepada anak gadisnya yang masih berusia 17 tahun.

“Nurut kata ayah. Dio itu sudah kerja di kota, sudah jadi manajer. Pasti hidupnya sukses, lebih dari bapaknya. Kamu, sama kaya ibumu, cuma perlu urus dapur, sumur dan kasur.”

Aku pun menahan tangisku yang sudah mengalir deras. Dengan memegang pipi yang terasa sakit, aku pergi dari hadapannya, karena aku pun takut jika terkena tamparannya lagi dan lagi.

****

Sambil menorehkan foundation, bedak dan aneka peralatan make up agar nampak cantik, pikiranku melayang-layang. Seandainya aku tak menuruti Ayah saat itu, mungkin nasibku berbeda. Seandainya aku memilih kabur dari rumah, mungkin aku tidak melakoni profesi yang dihina-hina oleh banyak perempuan lainnya, karena suaminya menghabiskan banyak malam bersamaku. Sayang, pengandaian tersebut tidak mampu membuatku memutar waktu.


Setengah hati aku menikah dengan mas Dio. Kami pindah ke kota, yang jauh dari orang tuaku. Setahun pernikahanku memang luar biasa. Kadang dia pulang membawakan pakaian bagus, membawaku ke tempat yang mewah, tanpa kuminta. Kadang aku ingin sesekali mengenal lingkunganku, entah itu tetangga, ataupun persekutuan di gereja. Namun dengan manisnya, ia meyakinkanku bahwa hanya dialah satu-satunya yang kubutuhkan hingga aku bergantung padanya saja. Perlahan, aku pun belajar untuk mencinta, walaupun dia juga yang akhirnya membuatku membencinya.

***

“Mas, kamu di mana? Aku telepon dari kemarin nomornya mati. Kamu dinas dadakan lagi ke luar kota kah?”

“Duh berisik banget sih kamu, pagi-pagi nelepon mulu, bawel lagi,” balasnya dengan suara setengah sadar.

Sambil memegang handphone, aku bersabar menjawab, “Lha, kan aku istrimu Mas, wajar toh nanyain. Lagian anakmu ya nyariin.”

“Udah diem. Uang bulanan kurang kah? Boros pasti kamu. Kamu pake buat apa, ke club malam, pesta gitu kaya orang sok kaya?” Nadanya mulai meninggi.

“Ya ampun Mas, enggak gitu Mas. Cuma ya minta tolong buat berkabar sesekali.”

“Kamu ngapain nyuruh-nyuruh aku?!” Jawabnya marah.

Samar-samar terdengar suara perempuan lainnya, “Siapa sih sayang, kok pagi-pagi udah galak? Sini.”

Aku pun heran, “Siapa itu Mas? Kamu sama siapa?”

“Berisik kamu. Udah, jangan telepon dulu, mas sibuk.”

Seraya aku menangis, dan mengakhiri percakapan, “Ya udah, selamat hari Minggu, ingat untuk ibadah ya Mas.”

***

Hari minggu itu menjadi hari kelabu bagiku. Mengetahuinya bermain api dengan wanita lain, ia tidak meminta maaf, malah justru mengusir kami dari rumah dan melayangkan gugatan cerai. Mencoba mengadu perbuatannya kepada orang tuaku, ayahku justru memakiku, “Bodoh. Kamu pasti ga melayani suamimu dengan baik. Kamu itu harusnya tau balas budi, bapaknya sudah bantu kita. Kalau cerai gini, gimana nasib Ayah di kampung?” 


Layaknya buah simalakama, keputusan untuk bercerai berdampak buruk juga bagi aku dan keluargaku di kampung. Status janda muda membuatku dipandang negatif oleh lingkungan, termasuk gereja. Keluargaku pun semakin susah hidupnya karena pengaruh dari bapaknya mas Dio. Berbekal ijazah SMA, aku pun mencoba peruntungan di kota ini. Sulit memang menghidupi anakku seperti dulu, terlebih di usianya yang semakin bertambah.

Suara handphoneku berbunyi menghentikan lamunanku, “Fio, Mas sudah di depan kamar.” “Ya Mas, tunggu sebentar ya.”


Hatiku remuk ketika harus berbuat dosa ini. Aku ingin sebenarnya berhenti. Aku berusaha dan aku berdoa, agar kelak anakku dapat menjadi pria yang baik, bertanggung jawab, dan penuh kasih kepada keluarganya kelak. 

Sembari bergegas, aku berujar kepada-Nya, “Maaf Tuhan, aku terpaksa melacur.”

 

RELATED TOPIC

LATEST POST

 

"Ayo, kita naik gunung bersama!" Demikian beberapa teman mengajakku, dan aku menyetujuinya...
by Olyvia Hulda | 05 Dec 2020

Satu lagi karya ajaib buatan tangan Tim Dapur Visinema yang diberkati dengan kreativitas tanpa batas...
by Grifith Mercia | 05 Dec 2020

Note: Silahkan membaca Part 1 dan Part 2 terlebih dahulu.Kini kita telah memasuki bagian akhir dari...
by Alviedo Yuda | 05 Dec 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER