Roller-Coaster Ride with GOD

Best Regards, Live Through This, 04 September 2022
Pernahkan terbayang bahwa saat kita menangis, Tuhan juga ikut menangis sama kita? Dia peduli pada rasa sakit kita atas hal-hal menyakitkan yang mau enggak mau harus kita lewati.

Dulu, setiap kali main ke taman hiburan dimana banyak wahana menakutkannya, yang selalu pertama kali muncul di kepala adalah kekaguman akan si perancang wahana tersebut. Iya, kalau dipikir bagaimana cara mereka yakin bahwa wahana yang nampak membahayakan nyawa ini, bisa tetap berjalan dengan aman, malah justru mengesankan sampai pengen terus-terusan diulang? Si perancang pasti membuat perhitungan yang begitu tepat dan akurat, karena dia tau betul apa yang dia rancang bukan untuk mendatangkan bahaya tetapi untuk suatu pengalaman yang tidak terlupakan.

Sama seperti bagaimana aku menggambarkan perjalanan dua tahun belakangan ini. Rasanya seperti sedang menaiki roller-coaster. Naik tajam ke atas, turun curam ke bawah, berputar hingga kepala rasanya sudah hampir menyentuh tanah semuanya berjalan begitu cepat sampai bernapaspun rasanya sesak. Namun, layaknya sebuah wahana, selalu ada tempat perhentian di mana kita sudah bisa kembali tenang membuka mata lalu bercerita.

Bagian yang paling menakutkan bagiku di roller-coaster adalah saat keretanya naik secara perlahan, kemudian berhenti beberapa detik, mulai condong ke bawah, lalu terjun dengan kecepatan penuh. Padahal rasanya kita sudah menyiapkan diri untuk terjun, tetapi selalu saja ada perasaan kaget yang luar biasa saat keretanya akhirnya benar-benar menuju ke titik terendah. Artinya kita tidak pernah benar -benar siap menuju ke bawah.  


Photo by DENYS AMARO on Unsplash  

Satu kisah yang bisa aku tempatkan sebagai titik terendah dalam perjalananku adalah saat Mama meninggal setelah 20 hari di ICU. Titik terendah itu bukan hanya karena Mama pergi setelah berjuang di ICU berhari-hari, tetapi karena saat itu aku juga baru saja di-PHK. Bagiku, momen itulah yang namanya lembah kekelaman.

Aku masih ingat, saat berdoa sambil menangis gemetar, betul-betul karena ketakutan akan masa depan. Di titik itu rasanya gelap sekali, jangankan mau berharap mendapat pekerjaan baru, besok saja rasanya binggung mau berbuat apa? Semuanya terjadi begitu cepat, rasanya semuanya diambil dalam sekejap. Namun, kondisi itu menyadarkanku bahwa ternyata tidak ada yang aku miliki yang benar-benar kekal menjadi milikku.

Pekerjaan sekejap hilang, Mama yang kurawat selama 8 tahun selama sakitnya juga tak mampu aku jaga selamanya.

Walaupun demikian, bahkan saat air mataku belum mengering, aku dapat pekerjaan... tetapi bukan di tempat yang ideal untuk karierku. Well, bisa kembali produktif saja aku sudah sangat bersyukur, tetapi ternyata belum selesai: empat bulan kemudian aku mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik dan lebih ideal untuku. Bagiku ini sudah lebih dari cukup.

“Sudah, Tuhan. Aku tidak perlu apa pun lagi. Aku sudah punya pekerjaan yang baik, aku sudah cukup dengan ini" pikirku saat itu. Namun, kejutan Tuhan belum juga selesai. Tuhan masih kirimkan lagi satu jiwa yang indah—untuk kusebut sebagai kekasih.

Aku menganggap momen ini seperti kereta roller-coaster yang sudah kembali naik, kecepatannya berkurang, penumpang dibiarkan sejenak bernapas lega dan menikmati pemandangan sekitar. Aku lalu memandang sekelilingku sekarang dan menyadari betul semuanya adalah pemberian Tuhan.

Tulisan ini adalah bentuk ucapan syukur yang sudah tidak terbendung lagi. Sekarang, apa pun yang aku lihat mengingatkanku akan kebaikan Tuhan. Saat melihat pekerjaan yang menumpuk, aku bersyukur karena setahun kemarin aku takut sekali akan pengangguran selamanya. 


Photo by Elizabeth Tsung on Unsplash  


Mungkin saat ini ada di antara Ignite People yang sedang merasakan kegagalan, kehilangan banyak hal dalam kehidupan, atau merasa enggak punya apa-apa untuk dibanggakan. Berdasarkan pengalamanku ini, aku mau bilang...


“Tuhan enggak butuh itu untuk menjalankan rencana-Nya”.

Tuhan sungguh-sungguh punya rencana yang detail atas hidup kita masing-masing. Sama seperti si perancang wahana, Dia sudah perhitungkan semuanya dengan sangat baik. Mungkin keliatannya kayak Tuhan enggak sedang mengerjakan apa-apa di hidup kita, tetapi pernahkah kita berpikir kalau Dia sedang mengerjakan sesuatu untuk kita di tempat lain? Kita merasa belum ada perubahan apa-apa yang terjadi sama kita, tetapi mungkin Tuhan sedang bekerja di tempat lain. Misalnya, Tuhan sedang merancang tempat bekerja yang baru buat kita, atau saat ini mungkin Tuhan juga lagi mempersiapkan seseorang untuk bisa jadi jodoh kamu—Tuhan sedang persiapkan dia dan Tuhan sedang persiapkan kamu juga. Mungkin si perancang wahana bisa berhenti bekerja saat karyanya sudah berhasil digunakan. Namun, Tuhan enggak sedang berhenti atau akan berhenti bekerja dalam kehidupan kita, walau kita enggak bisa liat dan nggak bisa ngerasain, Dia tetap bekerja.


“Jangan cepat-cepat kecewa sama Tuhan.”

Ini adalah mantra yang aku juga selalu ucapkan untuk mengingatkan diriku sendiri. Memang enggak mudah saat semuanya terjadi, apalagi kalau pas lagi jatuh ketiban tangga disertai rumah bocor dan banyak kecoa, binggung apa dulu yang mau dilakuin karena semua masalah datengnya keroyokan. Namun, tetaplah tenang, lakukan satu-satu yang bisa kita kerjakan. Walau hidup ini enggak pernah ada SOP (Standar Operasional Prosedur) yang pas, kita punya Tuhan yang enggak pernah tinggal diam dalam hidup kita.


Photo by Steven Van Loy on Unsplash  


Aku rasa Tuhan juga maunya enggak kasih hal yang sulit kok buat kita, segitunya Dia mencintai kita, pasti maunya juga enggak kasih hal yang membuat kita sedih. Tapi kadang banyak hal dalam kehidupan yang enggak bisa kita hindarkan. Waktu mama meninggal, aku merasa ada suara Tuhan yang begitu lembut berkata, “Maaf ya, Tri, yang ini Aku tidak bisa luputkan karena ada pengalaman baru bersama-Ku yang ingin Aku hadirkan untukmu.”

Pernahkan terbayang bahwa saat kita menangis, Tuhan juga ikut menangis sama kita? Tuhan paham sakitnya. Hanya karena kita harus melewati lembah kekelaman itu, bukan berarti Tuhan lalu tinggal diam, karena bukan itu tujuannya. Itu hanya sebuah perlintasan yang mau enggak mau kita harus lewatin untuk sampe ke rencana indah yang Tuhan sudah siapkan. Bagian dari perjalanan yang tidak bisa kita hindari, tapi dia bersama kita disana, di jalan yang terjal itu, di lembah kekelaman itu, tangan kita di pegang erat-erat. Saat kita enggak bisa liat jalan di depan, kita bisa percayakan bahwa Tuhan yang akan menggandeng kita selangkah demi selangkah melewati setiap persoalan dalam hidup kita.

Ignite People, ini bukan basa-basi busuk dari orang yang baru saja dapat hal baik dari Tuhan. ini sebuah pengalaman iman yang membuat aku menyadari dengan sungguh, bahwa kelak di depan sana jika akan ada lagi lembah-lembah kekelaman yang lain, aku enggak mau takut lagi. Tuhan yang sudah buktikan, seperti penyertaan-Nya kemarin, Tuhan yang sama yang juga akan menggandeng tangan ini melewatinya lagi. Jika kita ibaratkan hidup ini sebagai sebuah perjalanan roller-coaster, kita bisa tenang karena tau bahwa Tuhan kita yang merancang sendiri wahana ini dengan memperhitungkan tingkat kecuraman serta lika-liku yang pasti mampu kita lewati dan terlebih kita bisa tenang karena kita tahu Tuhan duduk bersama kita sepanjang perjalanan ini, mengenggam kencang tangan kita, lebih kencang dari kita menggenggam tangan-Nya. Dia ingin agar kita menemukan ketenangan dan rasa aman yang sejati hanya di dalam-Nya.

Seperti mazmur yang mungkin terlalu sering kita dengar, mari baca kembali perlahan sambil merenungkan bagaimana keadaan Daud saat menuliskan mazmur ini. Bagi Daud yang merupakan seorang gembala, yang hanya tau memberikan yang terbaik bagi domba-dombanya, seperti itulah baginya Tuhan akan selalu menyertainya seumur hidupnya.


MAZMUR 23:1-6

Tuhan, Gembalaku yang Baik

Mazmur Daud.

Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.

2 Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau,

Ia membimbing aku ke air yang tenang;

Ia menyegarkan jiwaku.

Ia menuntun aku di jalan yang benar

oleh karena nama-Nya.

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman,

aku tidak takut bahaya,

sebab Engkau besertaku;

gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

Engkau menyediakan hidangan bagiku,

di hadapan lawanku;

Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak;

pialaku penuh melimpah.

Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku,

seumur hidupku;

dan aku akan diam dalam rumah Tuhan

sepanjang masa.

LATEST POST

 

Artikel ini merujuk pada Roma 3:9-12.Akhir-akhir ini, perselingkuhan seolah-olah menjadi “tren...
by Sandra Priskila | 28 Nov 2022

“MANTRAAAA.... AJI!!”Masih ingat dengan tokusatsu fenomenal era 90-an ini? Sebuah tayang...
by Alviedo Yuda | 28 Nov 2022

... namun, apakah dosa hanya sekadar perbuatan jahat saja? bagaimana proses manusia bisa jatuh dalam...
by Samuel Semeion | 25 Nov 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER