Dadi Wong Ki Mbok Sing Solutip

Best Regards, Live Through This, 25 August 2020
Gibahin orang yang berlaku salah, agar yang lain tidak terkena dampak, mungkin “SOLUTIP” dari perspektif Bu Tejo.

Sebagian Ignite People membaca judul renungan ini, tentu teringat satu film pendek dari tahun 2018 yang baru saja viral, berjudul “Tilik”. Dan bagi yang belum, dipersilakan meluangkan waktu 30 menit untuk menonton film pendek karya Ravacana Film yang memenangkan penghargaan Piala Maya 2018.



Secara garis besar, kita dipertontonkan ibu-ibu desa yang ingin menjenguk Bu Lurah menaiki truk menuju rumah sakit di kota. Perdebatan terjadi antara Bu Tejo, sang penggemar ghibah dan juga Yu Ning, sang pemikir positif, disertai Gotrex dan ibu-ibu lainnya yang menjadi peramai suasana. Karena saya hanya hanya seorang pengamat film amatir, mungkin saya hanya mengajak Ignite People memaknai satu pesan dari Bu Tejo, yaitu “Dadi Wong Ki Sing Solutip Ngono Lho Yo,” atau diartikan jadi orang ya yang solutif.


“Solutip” dan Konteks dalam Narasi Film

Kita bisa melihat frase yang kerap dijadikan meme dan sticker WA tersebut dalam tiga konteks narasi. Dalam konteks narasi pendek, frase tersebut disampaikan Bu Tejo, ketika ibu-ibu sudah sampai Rumah Sakit, ternyata Bu Lurah belum dapat dikunjungi, dan Bu Tejo pun menyampaikan “SOLUSI” yaitu lebih baik sekalian mampir ke Pasar Beringharjo daripada jauh-jauh langsung pulang. Pada konteks narasi yang pendek, memang solutif sekali ujaran Bu Tejo, berbelanja menjadi hiburan, baik bagi perempuan dan laki-laki (termasuk saya yang mulai menikmati jalan-jalan ke ACE Hardware).

Dalam konteks narasi sedang, problematika dari para ibu-ibu adalah perjalanan dari desa mereka menuju Rumah Sakit di kota. Yup, moda transportasi yang mereka pakai. Karena cukup prihatin dengan kondisi Bu Lurah, tokoh Yu Ning segera memakai jasa Gotrex, yang membuat perjalanan tidak nyaman dan sebenarnya melanggar aturan pemakaian truk dalam lalu lintas. Di tengah perjalanan, Bu Tejo pun menyampaikan “SOLUSI” bahwa seharusnya Yu Ning memberitahukan kabar tersebut kepadanya, agar Bu Tejo bisa mencarikan moda transportasi bus dari rekanan suaminya, yang sekelas pengusaha. Menurut saya, solusi tersebut kurang efektif disampaikan, karena mereka sudah dalam pertengahan perjalanan. 

Hal yang terpenting, yang mungkin relevan dengan kehidupan kita, adalah memahami “Dadi Wong Ki Mbok Sing Solutip” dalam konteks narasi yang luas. Sejak awal perjalanan, hingga tiba di rumah Sakit, Bu Tejo membicarakan salah satu warganya, Dian, yang diduga kerap menjadi wanita simpanan, merebut suami orang, dsb. Bu Tejo melihat berbagai informasi yang diketahui tentang Dian, baik melalui facebook maupun kesaksian orang lain, sebagai sebuah masalah. Maka, gibah adalah “SOLUSI” agar ibu-ibu menjaga keharmonisan keluarganya.


Melihat Informasi dan Realita yang Terbatas

Sebagian dari kita mungkin berpikir ideal, bahwa gibah adalah hal yang salah dan yang benar adalah sikap dari Yu Ning, agar ibu-ibu tidak melontarkan fitnah. Sangat disayangkan, sang pembuat cerita menyatakan informasi yang disebarkan oleh Bu Tejo memang terjadi, bahwa Dian adalah sugar baby dari mantan suami Bu Lurah (jayalah plot twist). Hal inilah yang membuat sebagian kritikus film (bukan saya) menyatakan film ini kurang bermoral, salah satunya seolah film ini melegalkan tindakan gibah dan berpikir positif adalah hal yang salah.

Saya sendiri, dulu (dan sekarang pun masih sesekali), suka gibah. Menyenangkan memang melihat keburukan dan keburikan orang lain. Namun karena suatu hal (bukan karena negara api menyerang), saya juga pernah menjadi sosok seperti Yu Ning, berpikir lebih positif melihat informasi. Dan kenyataannya, berpikir positif, belum tentu benar juga, sosok yang saya anggap baik, ternyata tidak sepenuhnya seperti ekspektasi saya (dan berujung patah hati, ea).

Jika kita memiliki “God’s Eye” tentu kita lebih mudah merespons suatu informasi dan realita. Namun, dengan segala keterbatasan sudut pandang manusia, informasi yang kadang ditambahkan bumbu penyedap serta kompleksitas kehidupan manusia, saya justru cenderung memilih menangguhkan (tidak mudah mengabsolutkan) suatu informasi sebagai kebenaran yang benar-benar benar (bingung ‘kan loe, gw juga). Lantas apakah orang Kresten hanya sekadar diam, melihat informasi tentang keburukan orang yang ia kenal?


“Solutip”-nya Orang Kresten

Di komunitas Kresten, termasuk gereja, pun tidak lepas dari hobi gibah, baik lewat tatap muka langsung, ataupun gibah online. Kalau dalam film “Tilik”, Yu Ning mengucapkan kata “Tabayyun”, yang berasal dari kata tabayyana, yatabayyanu, tabayyunan ( تَبیُانًا یتبیّنُوْا تَبیَانَا ) yang berarti perintah untuk memvalidasi sebuah berita atau informasi yang datang, sebelum menyimpulkan.



 


Dalam kepercayaan kita pun, Tuhan juga menyampaikan Firman-Nya melalui perantaraan Musa, bagaimana seharusnya peradilan bagi bangsa Israel harus dilaksanakan. 

Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran. (Imamat 19:15)

Mungkin kita tidak menjabat sebagai hakim tetapi apa yang kita ucapkan, lewat suara dan jari-jemari yang menghasilkan teks, juga bisa mengadili orang lain. Maka dari itu, kita perlu bijak melihat informasi, terlebih melakukan check and recheck dari berbagai sumber.

Dan bagaimana “SOLUSI” yang tepat, jika memang informasi yang kita dapatkan itu benar, orang yang kita kenal ternyata melakukan kesalahan?

"Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.” (Matius 18:15-17)

Yesus berpesan dalam kitab Matius, bahwa kita perlu untuk bergerak secara solutif juga. Berbeda dengan Bu Tejo, Yesus ingin agar kita menegur baik-baik orang yang kita ketahui berlaku buruk, ajaklah berkomunikasi secara langsung, bukan sekadar berbicara di belakang. Sangat mungkin orang tersebut memiliki permasalahan yang perlu ditolong bersama-sama. Ajaklah orang tersebut untuk bertemu, dalam suasana pertemanan, untuk bertanya tentang apa yang telah dia lakukan, cari tahu alasan dari perbuatannya. Dan jika dibutuhkan, berikan saran yang konstruktif


Lebih “Solutip” Bu Tejo atau Kita?

Tidak selalu orang dalam komunitas Kresten itu baik dan benar. Sangat mungkin orang yang kita kenal di gereja ternyata berlaku salah, para aktivis ketahuan berbuat cemar, bahkan tulisan saya dan beberapa penulis Ignite GKI pun pernah membuat kontroversial (Ingat: Dionisius Prasetyo Didi Kempot dan Keke Bukan Boneka).



Gibahin orang yang berlaku salah, agar yang lain tidak terkena dampak, mungkin “SOLUTIP” dari perspektif Bu Tejo. Namun ketika kita menghidupi kasih Kristus, jadilah pribadi yang solutif membangun kehidupan bersama dalam kasih persaudaraan.

LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER