Choosen To Be Free

Best Regards, Live Through This, 14 May 2019
Aku istimewa bukan karena katamu Aku istimewa buka kar’na kau puji Bukan kar’na kuat dan hebatku Aku istimewa, kata Yesus Kuberharga, Alkitab mengatakan Aku istimewa, kata Yesus Ku dibeli bukan dengan emas perak Tapi darah Yesus

Lagu yang disenandungkan sebagai pujian penutup Pendalaman Alkitab (PA) Pemuda Klasis Jakarta 2 ini terus bergema di dalam kepala, dan memang sangat tepat serta meneguhkan sharing pengalaman Reza Nangin (Cameo Project), Shahnaz Soeharto (Presenter berita Indonesia Morning Show), dan Meira Anastasia (Penulis buku “Imperfect”) sore itu.

PA yang biasa diadakan oleh GKI Kebayoran Baru hari itu memang berkonsep sedikit berbeda. Selain karena ini adalah bagian dari acara Klasis Jakarta 2, kehadiran tiga orang influencer menjadi cerita yang menarik untuk didengar. Mereka sebagai influencer dengan image yang baik (bukan berarti tanpa cerita jatuh bangun) membagi kisah perjalanan hidup sebelum mereka ada di kondisi sekarang. Tentulah di dalamnya muncul banyak cerita proses pembentukan Tuhan, yang juga masih berjalan hingga saat ini.

Cerita pertama dari Reza cukup dramatis, tapi dibawakan dengan guyonan yang menggelak tawa. Lahir dari keluarga Kristen bukan berarti dibesarkan dalam lingkungan kekristenan yang memperkenalkan dia dengan Yesus yang memberi hidup. Masa lalu yang kelam, pergumulan finansial di negeri orang, membawa dia berada di lingkungan pelayanan ketika tinggal di Singapura. Dalam sebuah kebaktian, dengan ragu ia mau didoakan oleh seorang pendeta. Keraguan muncul karena ia takut pendeta tersebut menyinggung hidupnya yang “kurang” sesuai dengan Firman Tuhan. Rasa takut memang muncul karena kita sadar akan kesalahan yang telah dibuat.

Foto: Dokumentasi acara

Menariknya, Pendeta tersebut tidak menyinggung “kehidupan suram” yang ia miliki, tapi justru menyatakan sebuah doa berkat, bahwa ia kudus, berharga dan akan dipakai seperti Yeremia. Untuk pertama kalinya, Reza mendengar ada orang yang mengatakan bahwa ia berharga. Setelah didoakan, ia bertobat dan berproses meninggalkan cara hidupnya yang lama.

Meira membuka ceritanya dengan sebuah pertanyaan, “Siapa yang saat ini sedang menjalani mimpinya? Yang merasa belum menjalaninya, tidak apa-apa. Tuhan punya waktu-Nya sendiri.” Dari kata pembuka ceritanya, Meira menganggap bahwa mungkin bagi banyak orang, ia seperti agak terlambat menjalani mimpinya saat ini. Mimpi yang sedang dikerjakan saat ini justru dimulai bukan dari sebuah angan yang optimis, tapi dari kepribadiannya yang terlalu sensitif dan berpikir negatif. Ia khawatir akan banyak hal termasuk pandangan orang tentang dirinya. Menyadari ada sesuatu yang salah, ia pergi ke psikolog untuk curhat dan berkonsultasi. Setelah berkonsultasi, ia menemukan sesuatu yang dapat ia lakukan sesuai dengan kepribadian yang Tuhan telah ciptakan, yaitu di dunia seni sebagai penulis.

Foto: Dokumentasi acara

Berbeda dengan Reza dan Meira, Shahnaz mengaku sebagai orang yang ambisius. Ia menuliskan dengan rapi, apa yang menjadi keinginannya dan tidak mau dianggap rendah oleh orang lain. Banting setir menjadi seorang jurnalis dari seorang model dan presenter, lebih karena ingin membuktikan bahwa ia adalah seorang perempuan yang cerdas dan tidak hanya bermodalkan kecantikan fisik. Sikap ambisius yang tidak disertai rasa puas membuat ia menjadi tuhan atas Tuhan dalam doa-doanya. Sekitar dua tahun lalu, akhirnya ia disadarkan bahwa Tuhan memberikan apa yang ia inginkan, tapi karena kurangnya rasa syukur, ia selalu merasa ada yang kurang dan cepat membandingkan dirinya dengan rekan-rekan kerja. Rasa syukur membuat ia merasa cukup untuk mendapatkan apa yang telah Tuhan percayakan.

Foto: Dokumentasi acara

Sebuah peneguhan

Tiga influencer yang berbagi kisah petang hari itu mungkin berangkat dari jenis pengalaman dan pergumulan yang identik sama, namun ada satu pesan sentral yang serupa. Setiap orang telah diciptakan sesuai dengan rancangan-Nya untuk mengerjakan pekerjaan-Nya yang baik. Tidak pernah ada yang salah dengan kepribadian, kemampuan, pengalaman, dan keinginan jika melihat dari sudut pandang Dia yang menciptakan.

Bahkan, dalam apa yang dianggap sebagai kelemahan dan kekurangan dipakai oleh Dia untuk memperlihatkan kasih dan penyertaan-Nya. Seringkali kita menjadi lelah karena membandingkan dan “terlalu” mendengarkan orang lain menjadi apa yang dianggap ideal. Hal itu membuat kita menjadi tidak bebas menjalani hidup. Menjalani hidup yang bebas adalah mengikuti kehendak-Nya sesuai dengan tanggung jawab dan segala hidup yang Ia berikan. Nikmati dan taat untuk setiap proses yang Dia berikan karena hasil terbaik akan diberikan.

Foto: Dokumentasi Acara

LATEST POST

 

“Swing low, sweet chariotComing for to carry me homeSwing low, sweet chariotComing for to carr...
by Christan Reksa | 18 May 2019

Belakangan ini sering terjadi perdebatan, bahkan perpecahan dari kedua kubu politik dimana para pend...
by Priska Aprilia | 18 May 2019

“Untuk beli bibit.. ““Untuk beli obat, Neng...”“Kemarin harga jatuh. P...
by Surya Hadi | 18 May 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER