Cara Didi Kempot Menghadirkan Tuhan dalam Ambyar

Best Regards, Live Through This, 06 May 2020
Lanjutkanlah artikel ini dengan menuliskan nilai Kristiani yang mungkin akan kamu hidupi dari Pakde Didi…

Ambyar… Itulah kata yang bisa menggambarkan perasaan saya pada Selasa, 5 Mei kemarin. Sekali lagi, Indonesia harus berduka karena pulangnya legenda musik campursari, Didi Kempot,  Godfather of the Broken Hearts. 

Seketika hati ini mengingat bulan-bulan yang sudah dan sedang berlalu di tahun 2020, pada bulan Januari ibukota Jakarta dilanda banjir berkali-kali. Bulan selanjutnya artis multi-genre Ashraf Sinclair meninggal. Bulan berganti, Maret pun COVID-19 yang awalnya dikira hanyalah masalah di negeri ujung, ternyata merebak di Indonesia. Menjelang pertengahan tahun, dua legenda musisi Indonesia secara bergiliran pulang ke rumah Bapa, yaitu Glenn Fredly dan Didi Prasetyo, atau yang bisa kita panggil Pakde Didi.

Seperti kata pepatah, “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama,” begitupun dengan Pakde Didi. Tentunya terdapat nilai-nilai yang dapat dimaknai dari kisah hidup beliau, yang sekiranya menginspirasi banyak Sobat Ambyar dan Ignite People.


Berdampak dan Berbeda di Masa Muda

Banyak hal yang dapat kita cari dalam search engine, dengan mengetik “Didi Kempot”. Salah satu hal yang dapat temukan adalah asal-muasal dari nama Kempot, yang bermakna “Kelompok Penyanyi Trotoar”. Walaupun Pakde Didi lahir dari keluarga seniman, karirnya sebagai musisi dimulai dari tempat yang disepelekan oleh banyak orang, yaitu pinggir jalanan kota Surakarta saat ia berusia 18 tahun. 

Konsisten dengan musik campursari, Pakde Didi pun mengadu nasib ke ibu kota. Apakah langsung sukses? Jalan menuju kesuksesan nampaknya cukup panjang. Namun melalui tembang berjudul "Cidro" dari album pertamanya yang dulunya kurang terkenal di Indonesia, justru membuat Pakde Didi memiliki banyak penggemar di mancanegara, hingga bisa bernyanyi di Suriname dan Belanda pada tahun 1993, saat ia berumur 27 tahun.

Seperti pesan Rasul Paulus kepada Timotius dan anak muda lainnya,

Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. (1 Timotius 4:12)

Saya pun merasa bahwa usia muda seperti kita pun juga bisa berdampak, layaknya yang dicontohkan juga oleh sosok Pakde Didi. Kita perlu menjadi diri kita yang otentik, berkarya dan berusaha terus-menerus walaupun harus melewati proses jatuh-bangun.

Sang Pendobrak Maskulinitas Pria

Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu
Matius 11:28

Pakde Didi telah melakukan apa yang didambakan orang-orang Kristen yaitu menjadi gambaran Yesus di dunia. Hal ini dapat dilihat dari musiknya, di mana Sang Godfather of the Broken Hearts mampu membingkai kesedihan seperti dalam lagu Tanjung Mas Ninggal Janji:

Kowe Janji Lungo Ra Ono Sewulan

Nanging Saiki

Wes Luwih Ing Janji

Nyatane Kowe Ora Bali-bali

Ning Pelabuhan Tanjung Mas Kene

Biyen Aku Ngeterke Kowe

Ning Pelabuhan Semarang Kene

Aku Tansah Ngenteni Kowe


Saya yakin banyak orang merasakan lawatan Tuhan lewat Pakde Didi dan karyanya. Pakde Didi itu seperti representasi  akan ayat di Matius 11, seperti seorang ayah yang memahami kita, Tuhan mau kita terbebas dari beban kita, baik fisik maupun mental. Maskulinitas tradisional mengajarkan pria untuk kurang berekspresi demi terlihat fokus dan obyektif. Pakde Didi mendobrak hal itu. Ia hadir sebagai gentleman yang mengundang kita jujur pada diri sendiri, mengakui sakit hati dan merelakan. Pakde Didi mempresentasikan bahwa lelaki juga bisa menangis, dan itu hal yang wajar. Justru dengan mengekspresikan rasa sakit dan sedih, kita dapat menemukan kebebasan darinya. Lewat Pakde Didi, aku belajar menjadi pribadi yang utuh.

Lebih dahsyatnya lagi? Ia dapat memberi makna sedalam itu pada lebih banyak orang. Walaupun Pakde Didi berbeda kepercayaan dengan saya, namun dari Pakde Didi saya bisa melihat Tuhan hadir dalam perbedaan. Kesedihan dan kekecewaan merupakan bagian dari hidup. Hanya karena kita tidak nyaman merasakannya bukan berarti hal tersebut tidak berharga. Sebaliknya, kesedihan yang diletakkan dalam konteks membuat kita mendapatkan pelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Meski kita berbeda kepercayaan, tindakan Pakde Didi menjadi sarana Tuhan mengizinkan kita bersedih untuk terbebas.

Saatnya Melanjutkan Hidup...

Selain mengajarkan kita menjadi Sobat Ambyar, tetapi tak bisa dipungkiri bahwa Pakde Didi terus menguatkan para sadboys dan sadgirls dalam menjalani kehidupan. 

Opo wae sing dadi masalahmu,

kuwat ora kuwat kowe kudu kuwat.

Tapi misale kowe uwis ora kuwat tenan,

yo kudu kuwat.


Penggalan lirik ini seolah menggambarkan, bahwa sejatinya setiap diri manusia adalah seseorang yang tangguh, yang sering didera oleh suasana yang sedih, galau, kecewa, dll. Di balik itu semua, tersirat makna bahwa walaupun mengalami kegagalan yang membuat jatuh begitu cukup keras, kita semua perlu berusaha agar dapat bertahan dan kuat menjalani hidup. Pakde Didi bagai seorang paman yang menghibur ponakannya (yang ambyar) bahwa sejatinya kita adalah seorang manusia yang tangguh dalam menghadapi cobaan dalam dunia ini. 

Nabi Yesaya juga mengingatkan bangsa Israel dan kita saat ini:

Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau,

janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu;

Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; 

Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.

(Yesaya 41:10)

Tuhan juga terus menyemangati kita dan turut bersama dengan kita dalam melangkah setiap rintangan yang ada di depan. Hal ini secara tak langsung juga Pakde Didi ingatkan, bahwa sejati kita kuat dalam menghadapi cobaan. Yang  kita harus lakukan, ialah tetap berpegang pada penyertaan Tuhan dalam hidup kita sehingga kita dapat menembus rintangan yang ada dan kita menjadi sosok yang tangguh, serta tahan banting dalam menghadapi itu semua.


Apakah kita akan terus “ambyar”? Ataukah kita berusaha melanjutkan langkah kaki kita bersama Tuhan dengan memegang nilai-nilai luhur yang dibagikan oleh Pakde Didi? Lanjutkanlah artikel ini dengan menuliskan nilai Kristiani yang mungkin akan kamu hidupi dari Pakde Didi…


*Artikel ini merupakan kolaborasi 3 Sobat Ambyar: Ari Setiawan, Jonathan Joel Krisnawan, dan Joshua Eldi Setio

LATEST POST

 

Hidup ini seperti merangkai puzzle, karena kita akan merangkai kepingan demi kepingannya agar menja...
by Yessica Anggi | 05 Dec 2021

Hallo, gengs! Hmm, filsafat... Filsafat mungkin terdengar menarik sekaligus “mengerikan”...
by Rain Bow Hutabarat | 05 Dec 2021

Bayangkan sebuah dunia di mana kita tak dapat melihat.Sebuah dunia di mana kebutaan merupakan suatu...
by Primaridiana Pradiptasari | 28 Nov 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER