Selamat Ulang Tahun! Mari Membangun Rumah Bersama [Bagian Kedua]

All About GKI, Behind The Scene, 21 August 2021
Bergandengan erat, rintanganmu berat, ‘tuk masyhurkan beritakan perdamaian kekal. Kristus adalah Kepala G’rejaNya, RohNya pun tetap membimbing umatNya. Berbarislah utuh, bersatulah teguh, NKB 230 - Berderaplah Satu

Tulisan ini, merupakan lanjutan dari tulisan saya tahun lalu dengan judul yang sama, IGNITE People yang belum sempat membacanya, bisa membaca nya disini https://ignitegki.com/article/945-selamat-ulang-tahun-mari-membangun-rumah-bersama. Bila dalam tulisan itu saya , saya menutupnya dengan sebuah statement seperti ini :  

“Mari, bersama-sama kita membuat nyaman setiap penghuni rumah agar tidak ada rasa sesal dan sakit hati terhadap satu dan yang lainnya.”


Bicara soal kenyamanan, bagaimana kita dapat menciptakan kondisi "nyaman" itu didalam gereja ? Untuk mengawalinya saya mengajak kita semua memperhatikan  lirik lagu yang ada di ini  :

Gereja bukanlah gedungnya, dan bukan pula menaranya

Bukalah pintunya, lihat di dalamnya

Gereja adalah orangnya

Ya, gereja adalah orangnya. Karena terdiri dari orang-orang, Gereja tak lepas dari yang namanya “hospitalitas”. Sebetulnya apa itu hospitalitas? saya mencoba mencari definisi hospitalitas ini di dalam internet. Kemudian saya bertemu dengan penjelasan singkat seperti ini. 

Hospitalitas adalah terjemahan dari kata hospitality yang memiliki arti aksi, hospitalitas sejatinya hendak menunjukkan suatu sikap ramah dan murah hati dari seorang tuan rumah, baik kepada seseorang yang berkunjung, sekalipun seorang asing atau bahkan seorang lawan.

Di dalam gereja, Hospitalitas sering kali diterjemahkan secara singkat menjadi  sebuah program kegiatan, apalagi terkadang hanya sekadar bertujuan untuk beramah tamah dengan orang-orang yang hadir dalam kebaktian. Apakah faktor kenyamanan menjadi salah satu penilaian penting terhadap hospitalitas gereja? Tidak mengelak terkadang memang gereja hanya menjadi sebuah tempat dimana seseorang seringkali terjebak di dalam dinamika pelayanan yang cukup pelik dengan banyaknya program kerja yang sejatinya baik namun akhirnya terkadang menjadi sebuah batu sandungan, setidaknya untuk saya pribadi. 



Seorang aktivis Kristiani dan penulis buku-buku rohani asal Amerika Serikat, bernama Diana Butler-Bass, mengatakan, Hospitalitas bukanlah sebuah program, atau satu jam khusus dalam hidup pelayanan jemaat. Hospitalitas adalah jantung dari cara hidup Kristiani, simbol yang hidup dari keutuhan dalam Allah." Dalam pemahaman iman Kristiani, tema hospitalitas sejatinya menjadi sesuatu yang penting, karena gereja sejatinya bukan hanya sebatas kewajiban mingguan kita, melainkan sebuah konsekuensi iman. Sebagai orang percaya, kita diundang untuk menyambut siapa saja orang yang datang ke Gereja, bahkan orang asing sekalipun. Itu mengambarkan bagaimana kita sendiri, yang adalah manusia berdosa telah disambut oleh Allah lewat kasih dan pengorbanan Tuhan Yesus Kristus (Roma 5:8).  


Anak Muda dan Masa Depan Gereja 

Apa yang ada di benak IGNITE People ketika mendengar nama Gereja Kristen Indonesia? Salah satu sinode gereja yang besar di Indonesia ini memiliki gambaran tersendiri dibanding dengan gereja-gereja lainnya yang ada di Indonesia. Gereja yang memiliki keunikan dimana terdapat 3 Sinode Wilayah dan 19 Klasis di dalamnya membuat GKI menjadi Gereja yang kaya akan keberagaman. Namun, apakah GKI sudah memiliki Hospitalitas yang baik? Berkaca dari kata-kata Diana Butler-Bass diatas, kemudian saya membuat sebuah riset kecil-kecilan terhadap bagaimana “hospitalitas” GKI yang selama ini di rasakan oleh anak-anak muda GKI,. 

Terdapat 33 anak muda yang terdiri dari berbagai jemaat GKI yang telah menjawab angket kuesoner yang saya sebarkan di media sosial terkait bagaimana pandangan mereka terhadap GKI dan hospitalitas didalamnya. Disclaimer sebelumnya, riset yang saya lakukan ini murni untuk melihat sejauh apa anak muda GKI nyaman berada di GKI.  Akhirnya banyak jawaban yang masuk, dan membuat saya semakin paham bahwa benar adanya GKI terdiri dari beragam orang dengan latar belakangnya masing-masing dan konsep berpikir yang berbeda pula Memang, data ini tidak sepenuhnya mewakili keseluruhan jawaban anak-anak muda yang ada di GKI namun menarik akhirnya untuk saya jadikan topik pembahasan.



Saya melemparkan beberapa angket pertanyaan, salah satunya adalah tentang seberapa nyaman mereka berjemaat di GKI”, dan mayoritas responden menjawab sudah sangat nyaman menjadi jemaat di GKI. Ketika kita bicara mengenai “kenyamanan” tentulah ini merupakan penilaian yang sangat subjektif. Namun, menarik ketika saya melihat data yang saya punya,  mayoritas penjawab sudah sangat nyaman berada di GKI.  Beberapa faktor yang akhirnya menjadi indikator "nyaman" menurut angket survei  diantaranya adalah banyaknya bagian pelayanan yang bisa kamu ikuti sesuai minat bakat, Acara-acara yang dibuat gereja menarik untuk diikuti, dan merasa sudah nyaman juga karena sudah ada di GKI sedari kecil

Hal paradoksial lain, ketika saya bertanya sebaliknya, apa indikator "tidak nyaman"  ada begitu banyak hal juga yang menjadi alasan responden untuk merasa tidak nyaman. Di antaranya adalah: relasi dan hubungan yang kurang baik antara pendeta dan penatua,  gesekan dengan rekan sepelayanan, jenuh karena terlalu banyak pelayanan yang diikuti, dan keterpaksaan dalam melayani.  Fakta dan kenyataan ini betul-betul terjadi dalam berdinamika dalam GKI.

Beberapa hal juga yang diharapkan oleh para responden tersebut adanya wadah komunitas yang bisa saling bertumbuh dan menumbuhkan. Anak muda atau mungkin manusia memanglah makhluk sosial, tak heran mengapa kerinduan terbesar mereka di titik beratkan pada kebutuhan komunitas yang bisa menjadi zona aman dan nyaman bagi mereka di dalam gereja.



Menurut para responden yang menjawab angket yang saya berikan, bisa saya pastikan mereka "nyaman" terhadap hospitaliti yang diberikan oleh GKI. Mereka juga kemudian akhirnya memberikan diri mereka juga untuk terlibat di dalam hospitaliti itu untuk bersama membangun Gereja Kristen Indonesia menjadi lebih baik . Namun kemudiah, menjadi menarik juga  ketika disisi lain para responden pun berharap GKI juga menjadi wadah yang tidak hanya nyaman namun menjadi wadah yang aman untuk sama-sama bertumbuh di dalam Kristus. Dalam mencapai cita-cita bersama untuk menjadikan GKI sebagai “Rumah Kedua” (Second Home), maka  setiap kita terpanggil juga  bersama membangun dan menjadikan hospitalitas sebagai inti dari hidup pelayanan kita. 

Untuk itu, ada banyak hal yang harus bersama kita pelajari dan perdalam serta lakukan sebagai satu komunitas, sebagai suatu keluarga besar.  Membangun hospitalitas, khususnya dalam pertemuan-pertemuan kita, baik dalam ibadah minggu maupun kegiatan-kegiatan lain merupakan tanggung jawab kita sebagai anak muda penerus Gereja.  Semangat hospitalitas seharusnya mampu membuat kita menyambut siapapun yang datang ke gereja kita. Itu semua haruslah dimulai dari diri kita dahulu yang mengambil peran atau menyediakan diri di dalam pelayanan, kemudian akhirnya dapat berlanjut pada orang lain. Kita terpanggil, bersama-sama menyambut siapapun yang Tuhan hadirkan dalam hidup persekutuan kita,  sebagaimana Kristus sudah menyambut kita dalam kasih-Nya. 



Di dalam masa pandemi ini yang menuntu kita untuk tetap online, tentu kita juga dituntut untuk semakin kreatif membangun hospitalitas bergereja dalam media online. Syukur kepada Allah ketika kecanggihan jaman membuat kita bisa mudah bersekutu satu dengan yang lainnya dengan platform yang ada. Dasar dan semangat hospitalitas juga tak boleh kita lupakan ketika memindahkan gereja ke dalam media online ini. Kita harus tetap juga membangun kenyamanan dan kesatuan yang tak ada bedanya ketika kita bertatap muka secara langsung. 


Kembali ketika kita menginginkan kenyamanan, ini bukan usaha kita sendiri, bukan usaha segelintir orang saja di komisi kita. Bukan usaha sebagian orang saja, ini usaha kita semua untuk membangun hospitalitas yang cair, fleksibel dan relevan bagi setiap orang yang datang di dalam gereja kita, persekutuan kita dan komunitas kita.  Kiranya kita boleh terus mengingat bahwa ketika Allah menerima kita dengan apa adanya, kita juga harus menerima siapapun yang ada di dalam komunitas kita, persekutuan kita dan Gereja kita karna itulah yang sebetulnya Allah inginkan.


Selamat ulang tahun gerejaku!

Gereja Kristen Indonesia 

. Bersambung ke bagian ketiga......

LATEST POST

 

Hidup ini seperti merangkai puzzle, karena kita akan merangkai kepingan demi kepingannya agar menja...
by Yessica Anggi | 05 Dec 2021

Hallo, gengs! Hmm, filsafat... Filsafat mungkin terdengar menarik sekaligus “mengerikan”...
by Rain Bow Hutabarat | 05 Dec 2021

Bayangkan sebuah dunia di mana kita tak dapat melihat.Sebuah dunia di mana kebutaan merupakan suatu...
by Primaridiana Pradiptasari | 28 Nov 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER