Pelajaran Berharga dari Luna Maya, Kita Sering Menghakimi Tanpa Bercermin

Best Regards, Live Through This, 03 June 2022
Banyak orang Kristen merasa diri paling benar dan sangat senang menghakimi sesamanya.

Luna Maya. tentu nama yang tidak asing lagi terdengar di telinga setiap kita. Sosoknya menjadi sangat kontroversial setelah peristiwa video yang tersebar bertahun-tahun lalu. Mungkin pula tak sedikit dari kita yang ikut-ikutan geram dengan video Luna Maya tersebut. Banyak masyarakat yang marah lantas menghujat aktor dan aktris di dalam video tersebut.

But time flies. Di saat ini kita tahu bahwa si aktor sudah bebas dari penjara dan Luna Maya juga berusaha move on dari masa lalunya tersebut. Bagi saya pribadi, ketika masalah video itu terjadi, saya sebenarnya tidak mengerti dan sampai sekarang masih belum mengerti mengapa hal itu membuat publik sangat marah. Karena sebenarnya, apa yang dilakukan Luna Maya dan kekasihnya waktu itu adalah hal private dan tentu mereka sendiri juga tidak ingin itu tersebar luas. Bahkan bisa dibilang mereka justru mengalami kerugian dengan tersebarnya video itu. Namun, saya memahami bahwa yang menjadi masalah adalah ketika video seperti itu beredar maka itu adalah pornografi dan jika terakses secara bebas dikhawatirkan akan membuat anak-anak atau pelajar menjadi memiliki moral yang bejat (dewasa sebelum waktunya). Seperti itu yang saya tangkap.

Luna Maya baru-baru ini berbicara di kanal Youtube Curhat Bang Denny Sumargo serta pernah juga di Daniel Tetangga Kamu (Ignite People bisa tonton sendiri, ya). Jujur saja, dari dua video itu, saya tersentuh dengan kisah Luna Maya. Dari situ saya mulai mengagumi sosok Luna Maya. Dia seorang wanita tegar yang berusaha survive dengan hidupnya setiap hari. Betapa tidak mudah baginya untuk bangkit dari keterpurukan, rasa rendah diri, hujatan dan kehilangan job. Namun, Luna sendiri sadar semua hal dalam hidupnya yang terjadi semakin mendewasakan dirinya, membuat dirinya menjadi sosok yang seperti sekarang.

Hingga hari ini, Luna Maya masih dikenal sebagai sosok yang lekat dengan kasus masa lalunya. Stempel masyarakat tidak hilang. Masih banyak cemoohan dan hujatan yang ditujukan pada dirinya. Namun, Luna Maya tidak lagi memusingkan akan hal itu. Justru saya yang merasa miris dengan komentar-komentar jahat yang diberikan oleh warganet.


Suara.com


Sampai di sini, banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan. Sadar atau tidak, sering kali kita sebagai pengikut Kristus bersikap merasa diri paling benar. Hal ini membuat kita dengan mudah menghakimi orang lain. Ketika ada seseorang yang melakukan kesalahan, kita berlomba-lomba untuk menegur, atau bahkan menghakimi tanpa sadar. Kita sering lupa untuk melihat ke diri kita sendiri bahwa kita juga tidak luput dari dosa.

Namun apakah kita harus membiarkan orang yang keluar dari jalan Tuhan? Tuhan tidak melarang kita untuk menegur, tetapi sudahkah kita melakukannya dengan kasih? Sering kali justru yang kita lakukan adalah memakai kesempatan itu untuk membuat orang lain semakin jatuh terpuruk. Kita memakai momen itu untuk nyinyir atau bergosip dengan sesama, entah karena merasa diri lebih benar atau ada hal-hal yang memang tidak kita sukai dari orang lain, sehingga rasanya lega untuk membicarakannya di belakang yang bersangkutan. Sering kita tidak mau mengerti atau memosisikan diri sebagai orang tersebut dan hanya larut dengan emosi kita saja. Masalahnya, hal ini justru membuat kita tidak menjadi berkat, melainkan batu sandungan. Itulah sebabnya Kristus pernah berkata demikian:


"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." - Markus 7:1-5


Sebagai pengikut Kristus, kita harus memiliki momen berjumpa dengan Tuhan secara pribadi. Mengetahui dan menyadari bahwa kita memang manusia berdosa. Di situlah kita akan tahu dan dapat melihat serta merasakan bahwa iya Tuhan itu benar-benar baik. Salah satu caranya adalah melalui teguran. Benar bahwa menerima (dan memberikan) teguran itu tidak mudah, karena ada kalanya kita menghubungkannya dengan penolakan. Padahal teguran tidaklah selalu berarti bahwa kita menolak seseorang secara pribadi, kan? Bahkan Amsal 27:5 mengajarkan, "Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi." Artinya, teguran merupakan bentuk kasih yang benar-benar nyata (bukan demi menyalahkan), sehingga dalam penyampaian dan penerimaan terhadapnya juga membutuhkan empati, keterbukaan, dan kerendahan hati. It takes courage and exercise, of course, to understand why rebuke is so important for our growth.


Photo by Kind and Curious on Unsplash  

Pelajaran berharga lainnya dari Luna Maya adalah dia mengungkapkan dia menjadi pribadi yang less to judge people. Karena untuk segala sesuatu dia tahu ada alasannya. Ketika kita pun berada di posisi menyadari bahwa kita juga orang berdosa dan butuh pengampunan maka kita akan menjadi pribadi yang tidak mudah menghakimi karena siapa sih kita berhak berbuat seperti itu?

Manusia terbatas di dalam pengertiannya tetapi Tuhan, Dia mampu mengerti setiap kita. Apa yang dilihat orang jelek, Tuhan mampu melihat apa yang baik. Demikian pula di balik hal-hal yang baik yang ditampilkan seseorang, Tuhan tahu dosa-dosanya yang tersembunyi. Kiranya kita bisa menjadi pribadi lebih baik dengan tidak mudah menghakimi orang lain melainkan mampu menegur dengan kasih dan memiliki penerimaan terhadap orang yang berbeda.

LATEST POST

 

Artikel ini merujuk pada Roma 3:9-12.Akhir-akhir ini, perselingkuhan seolah-olah menjadi “tren...
by Sandra Priskila | 28 Nov 2022

“MANTRAAAA.... AJI!!”Masih ingat dengan tokusatsu fenomenal era 90-an ini? Sebuah tayang...
by Alviedo Yuda | 28 Nov 2022

... namun, apakah dosa hanya sekadar perbuatan jahat saja? bagaimana proses manusia bisa jatuh dalam...
by Samuel Semeion | 25 Nov 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER