Crazy Rich Asians: Be Careful What You Wish For!

Best Regards, Live Through This, 10 July 2020
It was never my job to make you feel like a man. I can't make you something you're not. - Astrid Young

Seluruh novel itu tercipta dari cerita singkat milik Kevin Kwan yang membahas bagaimana klub diskusi Alkitab berubah jadi arisan ibu-ibu dan tempat gosip. Ada satu tema lain yang menurut gue cukup menarik buat dibahas lebih dalam: pressure.


Yes, tekanan sosial. Sadar atau tidak, kita sedang hidup di tengah budaya yang mewajibkan kita untuk pamer sebagai bentuk kita “hidup”. Pernah dengar istilah “PAP”? Dulu, istilah ini gue kenal dari AskFM. PAP itu artinya Post a Picture, intinya kalau lu enggak punya foto, lu bohong. Awalnya cara ini oke banget untuk membuktikan sesuatu. Ada foto, jelas ini harusnya asli! Tapi lama-lama hasil foto pun bisa dimanipulasi, kita bisa memalsukan liburan, bahkan ada yang memalsukan kebahagiaan.

Belum lama ini, sekitar beberapa tahun yang lalu ada yang namanya Fyre Festival. Konser musik yang dipromotori anak muda bernama Billy MacFarlane yang ternyata berkedok penipuan. Kegagalan konser ini menghasilkan uang membuka kenyataan bahwa Billy melakukan korupsi dan mencuri uang investor.

Selain itu, Anna Delvey. Dia perempuan yang mengaku sebagai anak diplomat atau anak konglomerat Rusia. Ia menipu banyak orang dengan meyakinkan mereka bahwa ia kaya dan bisa mengembalikan uang yang dipinjam dari bank maupun teman-teman dari masyarakat elite. Sama seperti Billy, Anna berakhir di penjara.

Mereka berdua menipu karena ingin sukses, maka dari itu, strategi awal mereka adalah “terlihat sukses dahulu”. Anna berhutang ribuan dolar untuk menyewa hotel mewah dan untuk membeli sebuah galeri seni, Billy mengorupsi uang investasi dan menyewa apartemen serta kantor mewah seharga 4 juta dolar. Mereka ingin terlihat sebagai anak muda sukses dan menipu orang lain supaya mereka bisa membuat khayalan tersebut menjadi nyata.

Kita yang tumbuh dewasa dengan aplikasi Instagram tentu pernah mengalami peer pressure untuk tampil keren juga setiap waktu. Wah, geng gue pakai Supreme, masa gue enggak ikutan? Wadudu, couple itu kok #couplegoals banget, terus ceweknya #bodygoalsbanget, cowoknya juga #careergoals. Banyak banget goals yang harus dipenuhi untuk tampil di media sosial masa kini. Kalau kita tidak ikut atau tidak tampil, maka otomatis kita dianggap “hilang” atau tidak ada. Logis sih, karena nyaris semua hal terjadi secara aktual di media sosial.

Tapi kembali, dalam memenuhi goals itu? Apa jalan yang kamu pilih?

Dan kalau sudah dapat, apa yang akan kamu lakukan?


Rachel/Nick | Michael/Astrid

Oke, gue yakin mayoritas udah tahu Crazy Rich Asians itu cerita tentang apa.

Untuk menyegarkan saja dan enggak banyak spoiler:

Rachel Chu, seorang dosen ekonomi di Amerika memutuskan untuk ikut pacarnya, Nicholas Young untuk liburan ke Singapura. Tanpa ia ketahui, Nick sebenarnya adalah pewaris dari keluarga super kaya marga Young. Nick memiliki beberapa sepupu, namun paling dekat adalah Astrid yang menikahi mantan tentara dari keluarga miskin, Michael.

Hubungan Nick dan Rachel tidak direstui oleh Nyonya Eleanor selaku ibu dari Nick. Menurutnya, Rachel tidak akan bisa bersikap seperti masyarakat kelas atas. Rachel sempat rendah diri, tanpa ia ketahui – Michael pun merasa minder karena dapat menikahi Astrid. Keduanya mengalami insecurities, serta keraguan akan kemampuan mereka untuk memenuhi ekspektasi “warga kelas atas”.

Rachel memutuskan untuk melampiaskan kekesalannya dengan terus-menerus berjuang untuk bersikap seperti warga kelas atas. Sementara Michael menjalin hubungan dengan wanita lain (selingkuh) untuk menghindari Astrid. Kegigihan Rachel berbuah manis karena Nyonya Eleanor akhirnya memberi restu. Michael dan Astrid akhirnya bercerai karena Astrid menganggap bahwa walau Michael tahu akan kelemahannya, ia tidak berbuat apa-apa dan justru menyerah untuk berjuang.


In The Crossroads of Destiny

Nyaris semua cowok pernah mendambakan cewek yang “sempurna”, tapi juga “bisa diajak susah”. Ini buat gue menarik kalau melihat karakter cowok pada umumnya. Maksudnya, cowok itu punya kadar optimisme (ingin cewek yang sempurna) dan pesimisme yang sama besarnya. Di satu sisi yakin bisa mendapatkan hati seorang artis, tapi di sisi lain, yakin hidup mereka akan susah sehingga berharap si pasangannya bisa menerima apa adanya.

Maaf bro atau sis yang berharap demikian, seperti yang kalian sadari, hal itu hanya mimpi saja. Ini karena pilihan dan target yang kita buat akan menghasilkan pressure. Jujur, gue suka barang hype. Gue suka Air Jordan, gue suka Supreme, dan Bathing Ape. Cool, hype brands. Yang dilarang itu bukan gue memakai brand tersebut, tapi gimana cara gue mendapatkan barang yang gue inginkan itu? Dengan makin tinggi dan makin keren brandnya, maka tentu harga semakin mahal, ini pressure buat gue untuk cari tahu bagaimana tetap bisa beli barang hype, tapi tabungan dan cashflow personal finance tetap jalan. Mungkin dari kamu ada yang berhutang untuk beli barang ini itu, nantinya kamu akan ngerasain pressure juga gimana cara bayar hutang. Intinya, target menentukan strategi dan strategi menentukan pilihan kamu.

Semakin tinggi pressure, maka semakin berat beban kita untuk mempertahankan posisi yang ada sekarang. Pertanyaannya, bisakah kamu tetap bersyukur dan bertanggung jawab?

Honestly, dulu entah bagaimana caranya, gue berhasil dekat dengan cewek terpintar di sekolah. Well... ketika gue remedial, maka ada guru yang nge-diss gue dengan bilang, “Cewek kamu pintar, kamu malah remedial!”. Pada saat itu gue cengeng dan bertindak bodoh, gue malah nyerah dan semakin malas belajar. Dengan kualitas seperti itu, apakah gue worth it untuk diperjuangkan? Putus menjadi pilihan terlogis untuk dia.

Gue suka banget dengan quote dari Astrid: 

"It's not my job to make you feel like a man, I can't make you what you aren't."

Intinya, bukan tugas dari goals kita untuk menjadikan kita lebih baik, tugas kita adalah untuk memperbaiki diri agar bisa layak mendapatkan mereka.



Poin utamanya di sini adalah bertanggung jawab sama apa yang kamu minta dengan Tuhan.

Ingat perumpamaan tentang talenta?

Orang yang punya talenta terbanyak itu, ya kayak Rachel. Dia punya goal untuk diterima di masyarakat elite, walau statusnya hanya seorang dosen. Dengan gigih dan ulet, ia belajar memakai baju yang elegan, berjalan dengan anggun, serta berbicara dengan karisma. Dia tahu kalau memang Nick dan Eleanor menuntut yang terbaik dari calon menantu, karena Nick memang seorang yang baik.

Di sisi lain, Michael sudah diberkati dengan Astrid, namun malah minder. Ini umum terjadi, kita kadang tidak siap dengan apa yang Tuhan rencanakan sehingga kita tidak percaya diri. Bisa jadi kamu dipilih untuk ikut olimpiade dan lomba akademik, dipercaya untuk bekerja di perusahaan internasional, walau skill kamu belum siap atau orang tua mewariskan bisnis karena sakit atau lelah bekerja sehingga kamu bertanggung jawab akan survival perusahaan. 

Yes, Tuhan bisa saja percayakan kamu langsung ke hal besar, wajar kalau kamu takut. Tapi Tuhan percaya sama kamu, menolak percaya diri berarti kamu menolak untuk percaya pada keputusan Tuhan untukmu.

So, be careful what you wish for!

LATEST POST

 

"Ibadah seharusnya memelihara kehidupan bukan malah mengancam kehidupan"Minggu, 19 Juli 20...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 11 Aug 2020

Lee Ha-yi, atau yang lebih dikenal dengan nama Lee Hi, merupakan seorang singer-songwriter asal Kore...
by Jerell Michael Cussoy | 11 Aug 2020

Sudah bertahun-tahun aku melihat anakku terkulai lemah di atas ranjangnya. Tubuhnya panas, sewaktu-w...
by Hendrik Siboro | 11 Aug 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER