On Surviving Schizophrenia

Best Regards, Live Through This, 03 May 2021
"People who committed suicide didn't want to end their lives; they wanted to end their pain."

Tujuh tahun yang lalu, ketika salah seorang sahabat terdekat saya meninggal dunia karena pesawat yang ditumpanginya bersama keluarganya mengalami kecelakaan di Laut Jawa, saya berada di titik terendah dalam hidup saya. Saat itu, saya bahkan tidak mampu lagi bangkit dari tempat tidur dan pergi bersekolah seperti biasanya, tidak mampu bertemu teman-teman, tidak mampu melakukan aktivitas yang biasanya saya lakukan.


Singkat cerita, oleh keluarga saya dibawa untuk menemui seorang psikolog secara diam-diam. Keluarga tidak ingin hal tersebut diketahui oleh orang banyak (karena memalukan, mungkin). Saat itu, saya didiagnosis mengalami major depressive disorder, atau yang dikenal luas sebagai depresi, dengan gangguan psikotik berupa halusinasi visual, karena saat itu saya mulai melihat hal-hal yang sebenarnya tidak ada. Setelah beberapa kali menjalani sesi perawatan yang hampir selalu diakhiri dengan ceramah agama, saya dinyatakan sudah baik-baik saja, dan pertemuan saya dengan psikolog tersebut selesai sampai di sana.

Apakah depresi saya benar-benar sudah disembuhkan? Sayangnya tidak.

Satu tahun kemudian, saya lulus dari bangku SMA dan mulai memasuki dunia perkuliahan. Saya bukan orang yang pandai beradaptasi dengan lingkungan baru, juga bukan orang yang terbuka. Praktis saya melewati semester pertama perkuliahan nyaris tanpa teman—saat itu hanya ada beberapa orang. Dan di saat-saat tersebut, beberapa kali saya mengalami kembali beberapa episode akut dari depresi, juga mulai melihat kembali hal-hal yang sebenarnya tidak ada, sekarang ditambah lagi dengan suara-suara yang sebenarnya tidak nyata.

Ini bukan hal yang mudah dan membanggakan untuk diakui, tetapi saya pun pernah beberapa kali mencoba mengakhiri segalanya, baik dalam keadaan sadar maupun kurang sadar, apalagi ketika depresi saya berada pada episode akut. Sekarang, saya sungguh bersyukur tak satupun percobaan tersebut ada yang berhasil.

Hal-hal tersebut berulang selama satu tahun berikutnya. Di pertengahan tahun 2017 saya baru benar-benar bisa menceritakan tentang gangguan-gangguan yang saya alami dengan detail kepada seorang teman. Dia menyarankan saya untuk kembali menemui tenaga ahli di bidang kesehatan mental, namun dengan pengalaman terakhir saya dengan psikolog tadi, awalnya saya merasa sangat takut untuk kembali.

Hingga pada akhirnya muncul berita bahwa seorang musisi terkenal asal Korea Selatan meninggal dunia karena depresi, seorang teman tadi, entah kenapa, sangat bersikeras ingin membawa saya kepada seorang dokter ahli jiwa di rumah sakit universitas kami. Saya pada akhirnya mengiyakan, datang ke sana tanpa mengatakan apapun kepada keluarga karena takut akan mengalami penolakan keras; dengan hanya diantarkan oleh seorang kawan.

Setelah dua kali pertemuan dengan dokter tersebut, muncul diagnosis baru: skizofrenia. Bahwa batas antara mimpi dan realita bagi saya sudah sangat tipis, bahwa apa yang saya alami ini adalah life-long disease, dan bahwa saya akan terus hidup dengan skizofrenia sampai entah kapan, mungkin selamanya.

Sejak saat itu, saya diharuskan rutin meminum obat untuk mengontrol mood saya dan untuk sebisa mungkin menghilangkan bisingnya suara-suara yang saya dengar, juga untuk membantu menjaga saya agar tetap tidur lelap di malam hari, karena mimpi buruk dengan intensitas ketakutan yang besar juga merupakan salah satu masalah yang saya alami. Saya juga wajib menjalani kontrol ke dokter tersebut setidaknya satu bulan sekali.

Apakah gangguan yang saya alami dapat teratasi?

Most of the time, ya. Tetapi ada waktu-waktu di mana gangguan-gangguan ini dapat membahayakan nyawa saya sehingga saya perlu dirawat inap, membuat kondisi saya yang pada awalnya tidak diketahui oleh keluarga mau tidak mau harus disampaikan kepada mereka. Akhirnya pihak keluarga (yaitu wali yang tinggal bersama saya, namun bukan orang tua), diberitahu oleh dosen pembimbing akademik—yang saat itu bersedia menjadi wali sementara untuk keperluan berobat—dan juga beberapa orang teman.

Reaksi keluarga setelah tahu?

Pada awalnya, keluarga bersikap biasa saja. Menemani di kamar tempat saya dirawat dan sebagainya. Namun, sepulang dari rumah sakit, mereka menegaskan bahwa saya tidak boleh kembali dirawat di tempat yang sama. Saat itu, saya dirawat inap di bangsal khusus pasien kejiwaan.

Agaknya, lingkungan keluarga besar saya ini termakan stigma yang ada di masyarakat bahwa bertemu dokter spesialis jiwa, atau psikolog sekalipun, sama dengan gila. Setelah orang tua saya pun tahu, mereka menyuruh saya untuk berhenti mengonsumsi obat-obatan yang diberikan, menyuruh untuk berhenti bertemu dokter tersebut, dan mengatakan bahwa apa yang saya alami ini "tidak masuk akal". Mereka mengatakan bahwa saya hanya mengada-ada, dan hanya "mencari perhatian". Mereka bahkan menganggap apa yang saya alami ini adalah akibat "kurang iman", dan menyarankan saya untuk "lebih rajin berdoa saja", which was not always the case. Mereka merahasiakan perihal saya yang pernah dirawat di rumah sakit kepada lebih banyak orang karena takut, "apa kata orang nanti?"

Semenjak saya dirawat, mulai banyak teman-teman yang tahu keadaan saya dan tetap menerima saya apa adanya. Relasi kami lalu tumbuh menjadi lebih dekat, beberapa di antaranya bersedia turut mendampingi saya ketika jadwal kontrol tiba ataupun bergantian menginap ketika saya harus diopname. Berbeda dengan keluarga saya. Karena itu, saya tidak pernah benar-benar bisa menganggap keluarga saya sebagai bagian dari support system yang saya miliki, karena mereka tidak mengerti, dan tidak pernah mencoba memahami; alih-alih, mereka malah menganggap remeh kesulitan yang saya alami.

Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. (Amsal 17:17)

Saat ini, saya tidak lagi bertemu psikiater saya dan mengonsumsi obat secara rutin, karena terakhir, orang tua pernah membawa saya untuk 'berobat' pada seorang dukun—sebuah hal yang sangat saya sayangkan mengingat latar belakang pendidikan orang tua saya yang cukup tinggi, lebih-lebih karena usaha tersebut mengantarkan mereka pada kesimpulan bahwa saya sudah sembuh. Saya juga mendapat ancaman bahwa jika saya mencoba menemui psikiater lagi, saya akan kembali dibawa ke dukun tersebut.


Stigma yang ada di masyarakat tentang kesehatan mental membuat banyak orang menolak membicarakan pentingnya kesehatan mental, karena takut dianggap lemah dan mungkin dicibir sebagai 'drama', maupun 'ajang untuk mencari perhatian'. Saya pun demikian, pada awalnya.

Padahal, komunikasi dan dukungan dari lingkungan sekitar adalah faktor terpenting yang membuat saya masih bisa bercerita tentang hal ini sekarang. Untungnya, saya tinggal di lingkungan pertemanan yang suportif dan diberkati dengan orang-orang yang sangat baik, terlepas tanpa dukungan keluarga.

Karena support system saya yang sangat kuat inilah saya mulai berani meminta bantuan. Mulai berani melawan semua keputusasaan. Dan dalam perjalanannya, menemukan kembali kenyataan bahwa sesungguhnya pertolongan Tuhan itu dekat, dan seringkali hadir melalui orang-orang di sekitar kita.

Untuk semua orang di dalam support system saya: terima kasih telah memberikan banyak sekali dukungan alih-alih hinaan. Terima kasih karena telah memvalidasi luka-luka serta hal-hal yang telah saya lalui. Terima kasih, karena apa yang kalian lakukan sekarang sungguh telah menyelamatkan satu nyawa, dan mungkin lebih banyak nyawa lagi di masa depan.

Untuk siapapun di luar sana yang sempat berpikir untuk menyerah dan ingin mengakhiri segalanya, ingat ini:

kamu berharga, dan jauh lebih kuat dari yang kamu kira.


Tertanda,

Prima, a schizophrenia survivor.

LATEST POST

 

SAAT GEREJA “DILARANG” MENGURUSI POLITIKKetika menemukan berita Persekutuan Gereja-Gerej...
by Christan Reksa | 13 Jun 2021

            Di dalam buku nyanyian Kidung Jemaat pada nomor 26 terdapa...
by Christyana Elizabeth Huwae | 13 Jun 2021

Ada orang yang habiskan seumur hidupnyahanya untuk berbuat baik.Lalu khilaf satu kali dan berbuat ke...
by Primaridiana Pradiptasari | 13 Jun 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER