Gereja yang Menyambut

Best Regards, Live Through This, 23 August 2019
Sebuah sambutan hangat dan tulus yang diberikan komunitas gereja bisa dipakai Tuhan untuk menjadi momen yang mengubahkan hidup seseorang.

Berbicara mengenai gereja, ada satu pengalaman yang amat berkesan dalam hidup saya. Pengalaman inilah yang akhirnya menjadikan saya tertanam kuat dalam iman Kekristenan, sejak kecil hingga saat ini. Begini ceritanya... 


Saya tidak terlahir dalam keluarga Kristen yang utuh. Meskipun Mama beridentitas Kristen di KTPnya, tapi dia hampir tidak pernah ke gereja. Sedangkan Papa kala itu belum mengenal Tuhan Yesus sama sekali. Pada saat saya berusia enam tahun, saya pernah menyeletuk kepada Mama, “Ma, nanti Minggu Ary mau ke gereja di depan.”

Entah apa yang mendorong saya mencetuskan ide seperti itu, namun Mama mengiyakan. Ketika hari Minggu tiba, Mama mengantar saya sampai ke depan gereja.

“Masuk sendiri, ya,” katanya.

Setelah melihat saya masuk dan disambut oleh seseorang di gereja, ia pun pulang ke rumah dan menjemput saya beberapa jam setelahnya. 


Photo by Pixabay from Pexels 


Itulah kali pertama saya datang ke gereja dengan kerinduan sendiri. Namun siapa sangka, bahwa sejak momen itu, saya tertanam di suatu gereja, menerima Kristus, hingga akhirnya tumbuh dewasa?


Saya sudah sangat lupa dengan setiap rincian peristiwa yang saya lewati tiap minggunya. Tetapi, satu hal yang tertanam kuat dalam memori adalah bagaimana guru-guru Sekolah Minggu maupun jemaat menyambut saya begitu hangat dalam setiap pertemuan kami. Di saat anak-anak lain datang bersama orang tua atau anggota keluarganya yang lain, saya hanya datang sendirian. “Mama kamu mana?” adalah pertanyaan yang sering diajukan tiap kali ada anggota jemaat yang melihat saya. Saat mereka tahu bahwa keluarga saya belum berkenan mengenal Tuhan dengan sungguh, mereka malah semakin menyambut saya dengan hangat... Sampai akhirnya di tahun 2004, saya menjadi orang pertama yang dibaptis dari keluarga saya, dan setahun kemudian disusul oleh Mama yang menyerahkan dirinya menjadi murid Kristus.


Sekarang, ketika saya sudah merantau ke luar kota dan jauh dari gereja tersebut, kesan hangat itu tidak pernah lekang dari benak saya. Siapa yang menyangka, sebuah sambutan hangat dapat membawa satu orang dituntun untuk mengenal Kristus dan keluarganya diubahkan? Wow! Benarlah bahwa sambutan dan keramahtamahan adalah bagian tak terpisahkan dari gereja Tuhan. Jika kita melihat kepada Bangsa Israel dalam Perjanjian Lama dahulu, Allah memerintahkan mereka untuk hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hati dan jiwa (Ulangan 10:12). Namun bagaimana bangsa Israel dapat mewujudkan perintah itu?


“Haruslah kamu menunjukkan kasihmu kepada orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir.” — Ulangan 10:19 


Meski ayat tersebut secara spesifik ditujukan kepada bangsa Israel, tetapi secara prinsip ayat tersebut juga berlaku bagi kita, orang-orang Kristen, yang kini menjadi bagian dari gereja-Nya. Menyambut orang asing juga merupakan salah satu cara untuk melayani dan memuliakan Allah. Ketika kita menunjukkan kasih dan kepedulian pada orang lain (khususnya orang asing), itu berarti kita sedang memperlihatkan iman kita kepada-Nya.



Photo by Helena Lopes on Unsplash 


Tidak berhenti di Perjanjian Lama, Tuhan juga menegaskan hal yang sama pada kita melalui Paulus dan Petrus. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Paulus berkata, “Bersalam-salamlah kamu dengan cium kudus” (Roma 16:16). Di samping Paulus, ada Petrus yang juga mendorong orang percaya untuk memberikan “tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut,” atau dengan cara yang berpusatkan pada kasih (1 Petrus 4:9; Filipi 2:14). 


Mungkin tidak semua dari kita mampu bersikap akrab dengan cepat kepada orang lain. Tetapi itu bukan alasan bagi kita untuk menarik diri atau menjauh setiap kali ada orang baru yang datang ke dalam gereja maupun komunitas kita. Kita mungkin tidak tahu latar belakang setiap orang yang baru pertama kali hadir di sana, but who knows? Bisa jadi sebenarnya dia sedang berbeban berat dan membutuhkan penghiburan, atau bahkan dia baru pertama kali mendengar Kristus dan ingin lebih dalam mengenal-Nya. 


Sebuah sambutan hangat dan tulus yang diberikan komunitas gereja bisa dipakai Tuhan untuk menjadi momen yang mengubahkan hidup seseorang. 


Pengalaman yang pernah saya alami di masa kecil itu menjadi pengingat buat saya untuk selalu menyambut orang-orang baru dengan hangat, entah itu di gereja ataupun di komunitas orang percaya lainnya.  Jika kita yang berada di posisi tersebut, tentu kita berharap disambut dengan hangat dan baik oleh sesama orang percaya, kan?

LATEST POST

 

Kalimat itu terus terbesit dalam benak saya malam  itu di dalam kesendirian saya di kamar kos s...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 15 May 2021

Tidak ada seseorang yang sempurna untuk dicintai.Kamu akan menemukan orang-orang yang tidak sempurna...
by Monica Petra | 15 May 2021

Tujuh tahun yang lalu, ketika salah seorang sahabat terdekat saya meninggal dunia karena pesawat yan...
by Primaridiana Pradiptasari | 15 May 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER