Perjamuan Kudus: Ritual atau Virtual

Going Deeper, God's Words, 21 April 2020
Mengapa Perjamuan Kudus tidak dilayankan secara online? 'Kan tinggal beli roti dan siapin anggur, terus nonton pendeta memberkati roti dan anggurnya, habis itu bisa dimakan deh.

“Kebaktian Minggu udah online, kok Perjamuan Kudus juga gak sekalian online?” Mungkin beberapa dari kita ada yang bergumam demikian. Atau bisa jadi variasinya jadi seperti ini, “Aneh rasanya ibadah Jumat Agung tapi gak ada Perjamuan Kudus.” Wajar sekali jika kita bertanya demikian. Artikel ini akan berusaha untuk memberikan sedikit gambaran mengenai alasan mengapa perjamuan kudus ditunda selama masa PSBB yang mau tidak mau berdampak kepada kehidupan bergereja.

Sebelum bisa menjawab isu tentang Perjamuan Kudus yang tidak diadakan atau ditunda, kita perlu terlebih dahulu memahami apa itu Perjamuan Kudus. Penetapan Perjamuan Kudus atau Perjamuan Paskah, jika mengacu pada sejarah bangsa Israel merupakan momen di mana mereka mengadakan perjamuan makan di Mesir. Tepatnya adalah sebelum tulah ke-10 menimpa keluarga-keluarga di Mesir (Kel 12:1-28). Orang Israel akan mengambil seekor domba untuk kemudian darahnya dibubuhkan di ambang pintu (Kel 12:7), sementara dagingnya dimakan bersama-sama (Kel 12:8-11). Ini diperintahkan oleh Tuhan untuk dilakukan turun-temurun sepanjang sejarah Bangsa Israel (Kel 12:14).

Tradisi ini terus berjalan dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru. Di zaman Perjanjian Baru pun kita justru melihat bahwa Tuhan Yesus mengikuti tradisi Paskah ini. Itu yang dilakukan-Nya bersama para murid di malam sebelum penyaliban-Nya (Mat 26:17-29; Mark 14:12-25; Luk 22:7-38; Yoh 13:1-38). Dalam perkembangannya kita memperingati malam ini di Kamis Putih, di mana Tuhan Yesus juga membasuh kaki murid-murid-Nya.

Sebagian besar dari kita akan langsung sadar simbol utama dalam perjamuan malam itu, yaitu roti dan anggur. Roti yang melambangkan tubuh Kristus dan anggur sebagai materai baru melalui darah Kristus. Sampai di titik ini, perjamuan Paskah mengalami modifikasi. Sebagian gereja tidak lagi merayakannya bersama anak-anak, tetapi bersama orang-orang yang telah mengaku percaya. Perjamuan Paskah atau Perjamuan Kudus merupakan sebuah perjanjian baru yang ditetapkan oleh Tuhan Yesus, bukan lagi ritual untuk memperingati keluarnya bangsa Israel dari Mesir. 

Mengapa kemudian Perjamuan Kudus tidak dilayankan secara online? “Tinggal beli roti dan siapin anggur, terus nonton pendeta memberkati roti dan anggurnya, habis itu bisa dimakan deh,” pikir kita mungkin demikian. Jika memang elemen dari Perjamuan Kudus hanyalah roti dan anggur, maka keberatan tersebut menjadi sah. Pertanyaannya sekarang, bagaimana jika ada satu elemen lagi yang tidak boleh hilang ketika melaksanakan Perjamuan Kudus? Elemen itu adalah kehadiran dan persekutuan tubuh Kristus, dengan kata lain kehadiran kita semua sebagai orang percaya.

Hanya satu bagian Alkitab saja yang akan dibahas untuk mendasari argumen di atas. Perhatikan apa yang tertulis dalam 1 Korintus 11:33, 

“Karena itu, saudara-saudaraku, jika kamu berkumpul untuk makan, nantikanlah olehmu seorang akan yang lain.”

Perlu diketahui bahwa dalam 1 Korintus 11:17-34, Paulus berbicara tentang perjamuan malam atau Perjamuan Kudus. Dari perikop ini juga formula liturgi Perjamuan Kudus disusun (1 Kor 11:23-29). Paulus mengkonfirmasi kedua elemen penting yang menjadi pusat dari Perjamuan Kudus, yaitu roti dan anggur. Namun, di akhir dari perikop ini Paulus juga mengingatkan untuk menantikan seorang akan yang lain. Kata “makan” di ayat 33 mengacu kepada Perjamuan Kudus yang dibicarakan oleh Paulus. Di ayat itu juga Paulus mengatakan untuk kita menantikan kehadiran saudara seiman kita dalam perjamuan tersebut. Bukankah Tuhan Yesus pun pada waktu perjamuan terakhir ada dan hadir bersama dengan murid-murid-Nya? Semisalnya pada saat itu Tuhan Yesus dan para murid makan dari roti dan minum dari cawan yang sama, ini semakin memperkuat elemen kehadiran dalam sebuah perjamuan.

Jika kemudian Perjamuan Kudus diadakan secara virtual, sepertinya ini tidak lengkap. Ada elemen yang hilang ketika diadakan secara virtual. Pada dasarnya memang Perjamuan Kudus merupakan ritual yang memerlukan kehadiran orang-orang secara langsung. Pembagian roti dan anggur ketika di gereja setidaknya merupakan gambaran di mana kita sebagai jemaat makan dan minum dari roti dan cawan yang sama. Ketika kita mempersiapkan sendiri di rumah, ini menghilangkan aspek tersebut.

Artikel ini memang sangat terbatas, hanya membahas dari satu bagian firman Tuhan. Masih ada aspek-aspek lain yang tidak sempat dibahas artikel ini, misalnya tradisi gereja atau perkembangan teknologi untuk kegiatan gereja. Harapannya adalah artikel ini bisa memberikan sedikit klarifikasi mengenai alasan alpanya ritual Perjamuan Kudus di momen Jumat Agung dan juga Paskah. 

LATEST POST

 

Kitab suci umat Nasrani terdiri dari 66 kitab (39 kitab perjanjian lama, 27 kitab perjanjian baru)....
by Nuel Lubis | 01 Jun 2020

Ini suara saya yang sekarang melayani di salah satu another liquid place, yaitu dunia pendidika...
by Febrima Yuliana Mouwlaka | 01 Jun 2020

Hai Ignite People, bagaimana kabar kalian semua? Aku berharap kalian semua dalam kondisi yang baik d...
by Kevin J. Darmawan | 01 Jun 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER