Beautiful Mess

Best Regards, Live Through This, 01 August 2019
Ketakutan itu “melumpuhkan” yang artinya membuat kita tidak berdaya jika hal yang kita takutkan terjadi nyata.

Di suatu malam, Claudia Tio Elleossa, atau yang dikenal Adis, memberikan pertanyaan bagi follower tercintanya melalui instastory. Ia bertanya, “Hal apa yang kalian takutkan?” Para penikmat aktif dari Instagram Adis pun merespons dengan menyatakan aneka ragam ketakutan mereka. Mulai dari takut akan hewan melata, takut akan ketinggian, takut dengan situasi tidak naik kelas, takut miskin, takut ditinggal orang yang dikasihi seperti keluarga atau pasangan, dan bentuk ketakutan lainnya.

Saya pun, sebagai teman yang baik bagi Adis, iseng-iseng memikirkan jawaban yang sangat berfaedah. Aslinya sih, saya takut ular, takut ketinggian, takut kantong menipis, takut diabaikan, takut para pembaca belum mendengarkan podcast IGNITE GKI di Spotify, dan banyak ketakutan lain yang tidak akan cukup untuk diketikkan bahkan di artikel ini. Tapi yang saya yakini, setiap manusia seharusnya takut jika mereka tidak punya ketakutan. Saya lupa respons Adis bagaimana, tapi saya rasa, jawaban saya cukup cerdas kok.

***

Mari kita pikirkan bareng deh. Ketakutan bagi sebagian manusia itu hal buruk. Dalam sebuah diskusi bersama Olivia Elena Hakim, Head Editor IGNITE GKI, ketakutan itu “melumpuhkan” yang artinya membuat kita tidak berdaya jika hal yang kita takutkan terjadi nyata. Memiliki sebuah ketakutan, terkadang memberikan rasa was-was dalam menjalani hidup dan sebisa mungkin kita berusaha agar terhindar dari faktor penyebab ketakutan kita.Ketika ketakutan kita terjadi, secara refleks tubuh pun ikut merespons. Dimulai dari sebuah benda berbentuk almond di kepala kita, yaitu saraf amigdala yang bertanggung jawab atas segala persepsi emosi, seperti sedih, marah dan termasuk rasa takut. Saraf amigdala memberikan respons yang berbeda-beda atas setiap ketakutan yang terjadi. Bagi beberapa orang, mereka akan refleks meneteskan air saat mendengar kabar kedukaan dari orang terdekat. Ada juga orang yang mungkin seketika pingsan, menjerit, diam dengan pikiran yang kosong, atau respons tubuh lainnya.

Respons dari amigdala adalah refleks pertama, bersifat seketika dan tidak permanen. Maka setiap manusia sangat mungkin mengolah emosi mereka setelah respons pertama tersebut. Rasa takut yang tidak diolah dengan baik, ataupun terus-menerus terjadi dengan intens dalam diri manusia memungkinkan terjadinya penderitaan secara psikis atau gangguan mental. 

Well, jangan bayangkan orang yang gangguan mental hanyalah orang-orang di pinggir jalan dengan badan kotor dan bau, pakaian robek-robek atau bahkan telanjang, serta meracau. Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, semakin banyak pula nama penyakit, termasuk sakit karena gangguan mental. Mengutip editor’s letter bulan Juli, “Mungkin setiap orang memiliki gangguan mentalnya masing-masing, yang berbeda jenis dan kadarnya.” Sebuah dugaan yang membutuhkan koreksi diri, bilamana kita memiliki kisah hidup yang berat seperti beberapa Sobat Anonim. Mungkin ada juga di antara kita yang memiliki gangguan mental karena ketakutan-ketakutan hidup lain yang menjadi nyata dan tidak bisa kita olah dengan baik.

***

Bagi beberapa orang, gangguan mental masih dianggap terjadi akibat orang tersebut, atau mungkin orang tuanya, melakukan kesalahan atau dosa besar. Tak jarang orang yang mengalami gangguan mental akan dibawa oleh keluarganya ke pendeta atau orang pintar lainnya agar disembuhkan dengan cara seperti orang kerasukan setan. Alhasil, banyak orang yang menegaskan bahwa memiliki ketakutan atau mengalami gangguan mental adalah hal buruk dan sebisa mungkin tidak terjadi dalam diri mereka. Faktanya secara ilmu pengetahuan, banyak variabel yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan mental. 

Saya meyakini bahwa Tuhan mengizinkan kita, orang percaya, juga mengalami hal tersebut dengan suatu maksud. Saya sendiri berusaha bersyukur, bahwa saya menderita karena ketakutan dan gangguan mental yang mungkin ada dalam diri saya. 

Seperti yang dituliskan Rasul Paulus dalam suratnya, yaitu Roma 5: 3-5

Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

Mungkin awal diterpa oleh berbagai masalah yang kita takutkan, spontan kita sedih, hancur, dan marah. Tetapi ketika kita menghayati kasih dan penyertaan-Nya dalam masa susah ini, kita akan berusaha tekun untuk merespons setiap permasalahan. Kita jatuh, maka kita tekun untuk bangkit, jatuh lagi dan bangkit lagi.

Ketika kita sudah tekun menghadapi segala permasalahan dan penderitaan, Tuhan akan membuat kita menjadi tahan uji. Dulu kita jatuh ketika mengalami ketakutan yang nyata, dengan semakin tekun dalam Tuhan, kita bukan hanya sekadar bangkit, tetapi kita bertahan untuk tetap berdiri menghadapi terpaan ketakutan dan penderitaan yang sama, mental kita bisa merespons untuk tidak jatuh.

Dan saat kita makin tahan uji, maka kita akan semakin berharap pada Tuhan. Kita semakin terus sadar bahwa kita manusia lemah, yang bisa mengalami ketakutan dan gangguan mental. Namun kita juga sadar bahwa hanya dengan penyertaan Tuhan, kita menjadi tekun untuk bangkit dan bertahan berdiri dalam menghadapi segala ketakutan yang menjadi nyata.

***

Ketika kita merasa ketakutan menjadi nyata, berbanggalah, karena Tuhan punya maksud dalam hidup kita. Mungkin kita lelah menjerit dan ingin menyerah karena tidak ada yang menolong kita. Di saat itu terjadi mintalah penyertaan Tuhan. Seperti klip lagu dari Billy The Band, berjudul Sleepless, yang bisa kita saksikan dengan klik gambar di bawah ini. Yakinlah, lambat laun kita akan melihat rona keindahan-Nya dalam kekacauan mental kita. 


Sleepless


Verse

Anxiety surrounds me

It's so dark, no, can you hear me?

I scream and shout, but no one can see me

I need someone, to serenade me


Interlude / Poem

Such a terrible place, this is when evening and past collides

I'm trying to count my ways, but all I see is nothing in your face

I cannot go on like this

I wish I can close my eyes, you will all be gone

But you won't

I think I'm lost

I wanna be found, I wanna be found


Chorus

Sing to me through this sleepless night

Harmonize my heart and my soul

Tune my heartbeat to Your rhythm

Be the air I breathe into my heart

LATEST POST

 

           Masing-masing manusia memiliki tombol pembangkit amarahnya...
by A.Z. Myra Johanna P. | 04 Mar 2021

Awal tahun 2021 Indonesia dan dunia masih bergulat dengan pandemi Covid-19 yang telah menelan banyak...
by Priska Grace | 04 Mar 2021

Jomblo ngenes. Perawan tua. Bujang lapuk. Nggak laku.Aku yakin Ignite People pernah mendengar istila...
by Febe Kartika | 04 Mar 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER