Misteri Ilahi: Sebuah Investigasi (Part 2)

Best Regards, Live Through This, 01 November 2021
Mystery creates wonder and wonder is the basis of man’s desire to understand. - Neil Armstrong

Dalam artikel yang lalu, saya bercerita bahwa saya menyukai cerita-cerita fantasi yang imajinatif. Cerita-cerita seperti ini menarik perhatian saya melalui deskripsi dan peristiwa yang begitu detail sehingga mampu menghisap diri saya masuk ke dunia cerita tersebut. Selain cerita fantasi, ada satu genre lain yang bagi saya juga cukup menawan dan mengagumkan: misteri.



Saya berterima kasih kepada Sir Arthur Conan Doyle yang telah menciptakan Sherlock Holmes dan rekan kesayangannya, Dr. John Watson. Doyle menenun kisah-kisah misteri yang menjadi inspirasi bagi ilmu forensik dalam mengembangkan metode penyelidikan kasus kriminal. Membaca cerita-cerita Sherlock Holmes selalu membuat saya berpikir, “Kok bisa begitu, ya?”, “Kepikiran banget buat menyelidiki detail itu”, “Perhatian banget sama detail kaya gitu”, dan banyak lagi komentar penuh keheranan lainnya. Apalagi, kalau dilihat dari latar belakang waktu penulisan, pada masa itu teknologi belum secanggih sekarang, ilmu forensik belum semaju sekarang, dan penyebaran informasi belum secepat dan semasif sekarang. Jika tokoh yang diceritakan semengherankan itu, apalagi penulisnya?


Keheranan ini juga terjadi ketika saya membaca jalinan cerita cinta Allah melalui sebuah buku yang kita kenal sebagai Alkitab. Kitab-kitab di dalamnya memiliki kisah-kisah dengan detail yang memunculkan pertanyaan yang serupa dengan pertanyaan saya ketika membaca cerita Sherlock Holmes. Dengan latar belakang waktu dan konteks yang jauh lebih kuno dari Sherlock Holmes, saya juga heran bagaimana buku ini masih relatable dengan pergumulan saya sebagai manusia yang hidup di zaman ini. Ada begitu banyak detail dan bukti yang merangkai 66 kitab menjadi satu kisah yang utuh dengan satu pesan besar: Allah Tritunggal, Sang Kasih, begitu mengasihi kita.


Kasih Allah yang begitu besar tentu sangat mengherankan, tetapi bisa juga menjadi terlalu overwhelming. Ada masa-masa dalam kehidupan saya yang membuat saya terlalu overwhelmed dengan kasih Allah karena saya sadar saya adalah manusia berdosa yang tidak layak menerima kasih-Nya. Terlebih lagi, saya adalah pengikut Kristus yang juga seorang thinker. Segala sesuatu dipikir dan banyak pertanyaan kenapa: kenapa ini terjadi, kenapa saya, dan kenapa harus orang-orang itu yang ada di sekitar saya. Allah pun tak luput dari interogasi ini: kenapa saya harus menerima kasih-Nya?


Selama hidup saya sebagai pengikut Kristus, saya begitu yakin dengan apa dan siapa yang saya percayai. Saya percaya diri dengan iman saya kepada Yesus Kristus, sampai di satu titik saya menyadari bahwa saya meragukan iman saya. Ada juga momen di mana saya sulit untuk percaya kepada Allah karena apa yang terjadi dalam hidup saya tidak masuk akal. It didn't make sense. Kemudian, muncul banyak pertanyaan, kebimbangan, dan pertentangan. Saya merasa Yesus yang saya percayai saat itu bukanlah Ia yang saya kenal selama bertahun-tahun sebelumnya. 


Momen ini mempertemukan saya dengan pendekatan investigatif terhadap Alkitab dan apologetika. Sebelumnya saya tidak pernah mencoba mendalami Alkitab sebagaimana seorang detektif mengumpulkan bukti-bukti untuk kasus yang harus dipecahkan. Namun, saya menemukan bahwa cara ini pun bisa saya gunakan untuk lebih memahami Allah dan kasih-Nya bagi saya.


Lee Strobel, J. Warner Wallace, dan David Wood adalah beberapa tokoh yang saya eksplorasi dalam masa-masa itu. Ketiganya adalah contoh orang-orang yang menemukan Allah melalui penyelidikan objektif dan investigatif terhadap Alkitab serta doktrin-doktrin Kristen. Strobel dan Wallace menggunakan keahlian mereka sebagai jurnalis dan detektif untuk menyelidiki kebenaran Firman Tuhan sebagaimana mereka mencari berita dan mengumpulkan bukti untuk memecahkan sebuah kasus. David Wood memperlengkapi dirinya dengan membaca buku-buku apologetika untuk membantu dia memahami apa yang sedang terjadi dalam hidupnya.



Seperti ketiga orang tersebut, saya memulai mendalami Alkitab dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mengungkapkan keraguan terhadap Allah dan penyataan-Nya. Dalam hal ini, pembahasan apologetika memberikan jawaban yang cukup komprehensif terhadap pertanyaan dan keraguan saya, sekaligus menyentuh pergumulan dan ketakutan saya. Saya kembali jatuh cinta dan terpesona kepada Allah, yang begitu mengasihi saya dan merindukan saya mengenal-Nya lebih dalam. 


“I believe in Christianity as I believe that the sun has risen: not only because I see it, but because by it I see everything else.” - C. S. Lewis


Pengenalan akan Allah melalui pemikiran, pertanyaan, dan keraguan ini justru membuka mata saya terhadap perspektif Allah akan persoalan-persoalan kehidupan. Seperti kutipan dari C. S. Lewis di atas, pengenalan akan Allah membuat saya belajar melihat segala sesuatu melalui kacamata Firman Tuhan. Ternyata, ada banyak hal yang selama ini saya pahami dengan keliru. 


Saya terdorong untuk terus mencari, bertanya, dan menantang iman dan pemikiran saya. Pencarian saya membuahkan perjumpaan, dan perjumpaan melahirkan banyak pertanyaan lainnya. Kadang saya merasa apakah saya ini kurang ajar dengan terus-menerus mempertanyakan Allah dan penyataan-Nya. Namun, akhirnya saya memahami bahwa inipun bagian dari perjalanan iman saya dan cara Allah menyatakan diri-Nya kepada saya. Ia menyentuh saya melalui logika dan membuktikan betapa Ia mengasihi saya. “Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar--tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati--Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:7-8).


Kasih Allah bagi saya tidak masuk akal, tetapi Allah, Sang Deus Revelatus, bisa menggunakan apa yang tidak masuk akal sekalipun untuk menolong saya memahami dan menerima kasih-Nya. Saya memohon kepada Allah sebagaimana Paulus berdoa bagi jemaat di Efesus, “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah” (Ef. 3:18-19). Dalam kasih-Nya yang incomprehensible tapi bisa dikenali, saya belajar memahami cara-cara Allah yang kadang tidak bisa saya mengerti.


“I want you to be the two-decision Christian: one to believe in Jesus, His salvation, and resurrection, and two to defend the truth of it.” - J. Warner Wallace


Menerima dan merasakan kasih Allah yang begitu besar membuat saya tidak cukup hanya dengan menjadi penerima kasih itu. Belajar dari pengalaman, saya menyadari bahwa sesungguhnya tiap orang juga mempunyai momen keraguan mereka sendiri-sendiri. Oleh karena itu, saya ingin menjadi orang yang selalu siap sedia mempertanggung jawabkan iman saya. “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, …” (1 Petrus 3:15). Sebagaimana kutipan dari Wallace di atas, bagi saya tidaklah cukup untuk hanya percaya saja, tetapi saya ingin belajar untuk mempertahankan kebenaran itu.


“To a great mind, nothing is little.” - Sir Arthur Conan Doyle



Tidak seperti cerita-cerita fantasi yang kita baca, Allah bukanlah Allah yang berasal dari khayalan kita. Terkadang ada celah dalam hal-hal yang tidak bisa kita pahami dari Allah karena Ia memang tidak dapat dipisahkan dari kemisteriusan dalam penyataan dan sifat-sifat-Nya. Namun, Allah menyatakan diri-Nya dalam kemisteriusan rencana dan pikiran-Nya. Dia adalah Deus Revelatus, yang sudah menyatakan diri secara khusus melalui Yesus Kristus dan Alkitab yang bisa kita baca setiap hari.


Allah tidak hanya bekerja melalui hal-hal yang spektakuler; Ia juga memakai hal-hal kecil dan remeh untuk menyatakan diri-Nya. Alkitab memuat detail yang luar biasa tentang kasih Allah yang besar. Kita bisa mengalami perjumpaan dengan Allah melalui kata-kata atau cerita-cerita yang mungkin tidak populer. Allah juga bisa memakai detail kecil dalam kehidupan kita untuk menjadi sarana kita bisa mengenal Allah dengan lebih dalam. Seperti kutipan dari Sir Arthur Conan Doyle di atas, tidak pernah ada yang terlalu kecil bagi Allah untuk menyatakan diri-Nya dan memperjumpakan setiap kita dengan-Nya. His mind is beyond great, His love is beyond measurable, and His ways are inexplicable.



Allah yang misterius bukan berarti tidak bisa dipahami. Kadang kita hanya perlu belajar menantang alasan-alasan, pemikiran, dan keengganan untuk mengenal Dia lebih jauh. Alkitab yang tersedia bagi kita bisa kita baca; ada banyak buku rohani yang juga bisa membantu kita lebih mengenal Allah. Beranilah berproses dengan pertanyaan dan keraguan yang kita alami, dan carilah orang-orang yang tepat untuk membantu kita bertumbuh dalam iman melalui kebimbangan kita.

Selamat mengenal Allah yang tak mudah dipahami!

LATEST POST

 

Hidup ini seperti merangkai puzzle, karena kita akan merangkai kepingan demi kepingannya agar menja...
by Yessica Anggi | 05 Dec 2021

Hallo, gengs! Hmm, filsafat... Filsafat mungkin terdengar menarik sekaligus “mengerikan”...
by Rain Bow Hutabarat | 05 Dec 2021

Bayangkan sebuah dunia di mana kita tak dapat melihat.Sebuah dunia di mana kebutaan merupakan suatu...
by Primaridiana Pradiptasari | 28 Nov 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER