Arminianism x Calvinism : Mana Yang Kau Pilih?

Going Deeper, God's Words, 12 March 2020
Menjadi Kristen bukan hanya soal menjadi pribadi beragama, namun juga beriman.

Menjadi jemaat GKI, seharusnya jawaban yang kita pilih adalah "Calvinism", sebuah pedoman teologi yang diamali oleh GKI. Dikutip dari desiringgod.org, secara teori berikut adalah pengertian dua paham teologi ini:

"Calvinism says people are so depraved and rebellious that they are unable to trust God without his special work of grace to change their hearts so that they necessarily and willingly — freely — believe. Arminians say, with regard to depravity, that people are depraved and corrupt, but they are able to provide the decisive impulse to trust God with the general divine assistance that God gives to everybody."

(Terjemahan: Calvinism menyatakan bahwa manusia itu bobrok dan pemberontak, sehingga mereka tidak mampu untuk percaya pada Tuhan tanpa kasih yang istimewa bekerja dalam diri kita, mengubah hati kita sehingga kita mampu secara sukarela -bebas-menjadi percaya. Arminian, sebaliknya, menyatakan karena manusia sudah bobrok dan korup, tetapi mereka mampu mendorong diri sendiri untuk percaya kepada Tuhan dengan bantuan ilahi yang disediakan bagi semua orang.)

Photo by Marius Matuschzik on Unsplash 

Saya hanya seorang awam di sini, di artikel ini saya tidak mau menciptakan "Perang Salib" versi yang berbeda. Tetapi dari kedua definisi ini singkatnya kita bisa beranggapan bahwa Calvinism beranggapan bahwa semua hanya karena kasihNya kita dapat percaya, sementara Arminian dapat diasumsi bahwa manusia bisa mengusahakan imannya untuk percaya. Di artikel kali ini saya mau memperlihatkan bahwa kasih Tuhan itu lebih luas  dari teori teologi yang diciptakan manusia.

Mari kita lihat ke dalam cerita-cerita di perjanjian lama, saya akan mengambil contoh "Yakub". Kejadian 27:20b yang berbunyi demikian,

Jawabnya:"Karena Tuhan, Allahmu, membuat aku mencapai tujuanku." 

Kisahnya saat itu Yakub sedang memanipulasi ayahnya, Ishak, untuk diberkati hak sulung kakaknya. Jawaban dari Yakub memperlihatkan pada mulanya Yakub tidak percaya pada Allah, karena di sini Yakub menjawab Ishak dengan kata "Allahmu", bukan "Allah" bukan "Allah kita", juga bukan "Allahku". Namun seiring perjalanannya Yakub yang hanya manusia biasa, tidak sempurna, banyak berbuat salah, Allah tetap mengasihinya. Ia menunjukan diriNya kepada Yakub melalui mimpi (Kejadian 28:13) , menyertai dan memberkati Yakub selama masa hidupnya.

Photo by Pierre Bamin on Unsplash 

Di sisi lain, mari kita kisah Alkitab (favorit saya) mengenai perempuan yang mengalami pendarahan selama 12 tahun (Markus 5: 21-34, Lukas 8: 43-48, Markus 5:18-22). Saya tidak mau membahas perbedaan dari gaya atau sudut pandang dari penulisan ketiga murid Tuhan Yesus. Saya ingin menekankan bahwa cerita yang tertulis dalam tiga kitab Injil ini adalah kesaksian nyata, bahwa mungkin usaha kita dalam Iman diterima dengan tangan terbuka Sang Maha Kasih. 

Jika melihat lebih dalam kisah ini maka kita dapat membayangkan bahwa perempuan yang pendarahan selama 12 tahun ini kondisi kesehatannya sudah pasti sangat lemah. Ia juga kemungkinan besar dikucilkan, karena di masa itu perempuan mengalami pendarahan dikatakan dalam kondisi najis. Bagi perempuan yang mengalami siklus bulanan tentu memahami betapa sakitnya pendarahan itu, bagaimana dengan yang mengalami selama 12 tahun? 

Secara narasi disampaikan bahwa situasi kunjungan Tuhan Yesus, sangat ramai, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan (Markus 5:24). Mungkin para K-popers dapat membayangkan keramaiannya seperti K-Pop Idol yang datang tanpa pengawalan. Mungkin situasi keramaian di sekitar Tuhan Yesus tidak jauh berbeda, apalagi Tuhan baru saja melakukan mujizat, yaitu menyembuhkan anak Yairus. 

Dengan jangka waktu 12 tahun lamanya perempuan ini sakit parah, kita dapat berasumsi bahwa belum ada yang mampu menyembuhkan. Dan Tuhan tidak buta, kegigihan iman dari perempuan ini membawa mujizat kesembuhan bagi dirinya. Perempuan ini beranggapan dan percaya hanya memegang jubahnya saja, aku sembuh (Markus 5:28). Dengan berbagai kemungkinan terinjak, berdesak-desakan dengan manusia lain yang kondisinya jauh lebih kuat dan sehat, perempuan ini berhasil. Hingga Tuhan sendiri berkata,

"Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu."

Photo by Pierre Bamin on Unsplash 

Kesimpulannya? Arminian dan Calvinism bagi orang awam seperti saya, mungkin membantu saya lebih mudah memahami proses mekanisme beriman melalui agama. Lebih-lebih lagi, dua kisah yang kita bahas di atas, baik Yakub yang "nakal" namun dikasihi dan menjadi percaya, serta perempuan biasa yang mengalami pendarahan 12 tahun dan sembuh karena imannya, tentunya memiliki pemaknaan personal bagi pertumbuhan iman saya. Saya yakin Tuhan tidak buta, menjadi kristen (pengikut Kristus) bukan hanya soal menjadi pribadi beragama, namun juga beriman. 

Akhir kata, jadilah terang! Itulah pesan yang sama dari FirmanNya yang diakui kedua paham teologi ini. Tuhan memberkati.

LATEST POST

 

           Masing-masing manusia memiliki tombol pembangkit amarahnya...
by A.Z. Myra Johanna P. | 04 Mar 2021

Awal tahun 2021 Indonesia dan dunia masih bergulat dengan pandemi Covid-19 yang telah menelan banyak...
by Priska Grace | 04 Mar 2021

Jomblo ngenes. Perawan tua. Bujang lapuk. Nggak laku.Aku yakin Ignite People pernah mendengar istila...
by Febe Kartika | 04 Mar 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER