Trilogy #Secretum Part 3: Godly Sorrow VS Worldy Sorrow, Saatnya Memutuskan

Best Regards, Live Through This, 14 October 2020
“ Oh, the deep, deep love of Jesus ,’Tis heaven of heavens to me And it lifts me up to glory for it lifts me up to Thee Oh, the deep, deep love of jesus , Spread his praise from shore to shore How he loveth, ever loveth, Changeth never, nevermore” Lirik dari lagu “Oh Deep, Deep Love of Jesus” dinyanyikan oleh Audrey Assad & Fernando Ortega

Sedalam-dalamnya kasih Tuhan, IA tak bisa menerima ketika kita mendua hati dengan memilih dosa dalam hidup kita. Tuhan mau para pendosa ambil langkah untuk berproses dalam menanggalkan berbagai keberdosaannya, bukan hanya di bibir atau dalam satu waktu tertentu saja.



“Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan”.
-Lukas 15:7

Perumpamaan domba yang hilang adalah salah satu cerita dari Tuhan Yesus yang sangat populer karena memiliki arti yang sangat dalam tentang bagaimana Sang Gembala akan berusaha mencari satu domba hilang sampai dapat dan bergembira untuk kejadian itu. Menariknya, Tuhan Yesus memberikan makna dari perumpamaan itu bahwa Tuhan akan sangat bergembira ketika ada anaknya yang memberi diri untuk bertobat.

Bertobat dalam bahasa Yunani adalah ‘metanoia’ yang berarti merubah pikiran. Bagaimana kita berpikir, itulah yang akan membentuk hidup kita. Jika kita berpikir untuk lulus kuliah, maka sikap dan usaha kita menuju ke sana. Jika kita berpikir untuk menikahi seseorang yang kita kasihi, pastinya perjuangan menuju restu dan pernikahan itu pun diupayakan sedemikian rupa, atau doktrin yang kita dengar dan masuk ke pikiran kita kadang itu yang akan memengaruhi hidup secara keseluruhan.


Ketika kita sudah mengetahui sinful nature (dosa yang menjadi kebiasaan atau karakter), melakukan pengakuan dengan jujur padaNya, saatnya ambil keputusan untuk bertobat. Pertobatan dimulai dari merubah pikiran yang selama ini mendorong kita untuk berbuat dosa. Pertanyaan berikutnya, pikiran seperti apa yang harus dimiliki saat ingin memulai pertobatan? Membedakan bagaimana dosa yang kita lakukan membuat dukacita menurut Kehendak Allah (Godly sorrow) atau dukacita duniawi (wordly sorrow).




Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian. Sebab perhatikanlah betapa justru dukacita yang menurut kehendak Allah itu mengerjakan pada kamu kesungguhan yang besar, bahkan pembelaan diri, kejengkelan, ketakutan, kerinduan, kegiatan, penghukuman! Di dalam semuanya itu kamu telah membuktikan, bahwa kamu tidak bersalah di dalam perkara itu.
-2 Korintus 7:10-11


Ketika kita melakukan dosa dan mengakuinya, ada rasa penyesalan atau dukacita yang kita dapat dari perenungan dan pengakuan terhadap dosa-dosa itu. Namun, dukacita yang kita rasakan juga harus jelas membawa kepada pertobatan yang seperti apa.

Godly sorrow (dukacita menurut Kehendak Allah) adalah dukacita atas dosa yang kita lakukan dan penyesalan itu membawa kepada pertobatan yang sungguh-sungguh dan keputusan untuk sepanjang hidup, sedangkan wordly sorrow (dukacita duniawi) membawa kepada penyesalan sementara atau sesaat dan tekad dalam pertobatan tidak ada karena masih mengikuti apa yang menjadi standard dunia seperti hal materi, pencitraan semata, atau bahan untuk membuat diri lebih baik dari yang lain.

Memahami Godly sorrow (dukacita menurut Kehendak Allah) dengan kemauan berbalik hati dan pikiran kepada apa yang menjadi kehendakNya dan meninggalkan apa yang jahat. Sebaliknya, wordly sorrow tidak mengambil langkah untuk berbalik hati namun hanya berhenti sejenak dan jika “kambuh”nya datang, akan mudah terjebak dalam dosa lagi. Your deed depends on your creed.

Godly sorrow (dukacita menurut Kehendak Allah) mendatangkan keselamatan karena ada hati yang berbalik menuju kebenaran di dalam Tuhan yang telah memberi penebusan dosa, sedangkan wordly sorrow tidak ada usaha yang dilakukan cenderung defensif atau menganggap waktu yang dimiliki masih banyak jadi nikmati dosa selagi bisa, sehingga membawa ke arah kematian. Contoh nyata dari wordly sorrow adalah Yudas yang mengkhianati Yesus. Ketika ia menjual dan menyangkal Yesus namun ketika ia sadar dan menyesal, ia berduka dan memilih untuk pergi menjauh dan menggantung dirinya.



Pertobatan sejati ditandai dengan ketika kita memiliki simpati dengan apa yang Tuhan rasakan melalui perenungan Godly sorrow secara pribadi dan pastinya pertobatan yang akan menghasilkan buah-buah Roh yang membawa kehidupan kita jauh lebih baik, damai, tenang, dan sekalipun menderita, kita bisa menderita dalam hikmat yang Tuhan beri. Bagaimana caranya untuk bisa mencapai Godly sorrow bisa dilakukan dengan refleksi secara mendalam seperti pada ayat 11 yang menyebutkan:


-Kesungguhan yang besar (diligence), artinya bertekun dalam memperbaiki diri sesuai dengan standard Tuhan melalui relasi denganNya yang dekat dan intim,
-Pembelaan diri (clearing of yourselves) dengan benar-benar melepas cara hidup yang lama yang menjadi sinful nature,
-Ketakutan (fear) dengan adanya takut untuk berbuat dosa yang sama dan akibat buruknya sehingga tak lagi mau mengalami ketakutan itu,
-Kegiatan (vehement desire) yang dimana melakukan sesuatu berlandaskan keinginan yang Kuat untuk tak melakukan dosa atau salah yang sama lagi seperti memutuskan untuk belajar meditasi agar pikiran bisa lebih tenang dan terarah atau hal positif lainnya,
-Kerinduan (zeal) dengan antusias untuk mengerjakan hal-hal yang berbalik dengan dosa atau kesalahan, seperti awalnya suka menggosip dan sekarang lebih baik menggunakan energi fokus dan rindu melayani yang menghasilkan karya yang bisa dilakukan untuk menjadi berkat,
-Penghukuman (vindication) dengan tidak lagi melakukan dosa seperti yang orang lain pikirkan tentang kita entah sebagai orang yang pemalas, tidak disiplin, suka berbohong atau labelling lainnya namun “membersihkan diri” seutuhnya dengan pemulihan diri di dalam Tuhan.

Memutuskan untuk menjalani pertobatan sejati adalah langkah yang sangat besar, ekstrim, dan membutuhkan proses yang entah mudah atau sulit, cepat atau lambat, dan sebagainya tapi yang jelas itu adalah langkah yang benar untuk memulai yang baik di dalam Tuhan kita.

Ini memang akhir dari Trilogy #Secretum tapi semoga ini menjadi awal untuk memulai langkah besar dalam hidupmu yang berarti dan akan penuh dengan kejutan dari Tuhan yang selalu memiliki banyak cara kreatif untuk mengasihi kita.

Selamat melanjutkan hidup.


LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER