Keluarga Baru di Hari Valentine

Best Regards, Fiction, 18 February 2020
Ini semua karena sihir Valentine atau karena kelahiran Brian, anak keduaku? Entahlah hanya waktu yang dapat menjawabnya. Karena bagiku sekarang, aku telah berhasil mendatangkan kebahagiaan untuk keluargaku walau aku sendiri juga tak yakin ini karena perananku.

         Dulu aku seorang pemabuk dan pengguna obat-obatan terlarang. Aku juga sering berselingkuh meski telah beristri dan mempunyai satu orang anak laki-laki. Tapi itu dulu. Dulu pada saat anak keduaku, Brian belum dilahirkan ke dunia.

            Waktu itu Brian, anak keduaku, lahir pada tanggal 1 Februari 2011, dan ketika itu anak pertamaku, Ramot, berusia empat tahun. Sama seperti keluarga muda lainnya, walau telah memiliki anak pertama, kelahiran anak kedua tetap saja membahagiakan. Ada kalanya idiom ’banyak anak, banyak rejeki’ benar adanya. Ketika itu keluargaku diliputi kebahagiaan. Ucapan selamat kami dapatkan dari banyak orang. Entah itu sanak saudara, entah itu para tetangga, entah itu rekan-rekan bisnis, maupun kenalan-kenalan kami yang lain. Begitu pun dengan anak pertamaku, Ramot. Ia sangat antusias menyambut kehadiran adik barunya. Ia selalu membangga-banggakan adik barunya, Brian, kepada teman-temannya di Taman Kanak-Kanak.

            Menurutku itu wajar saja. Dulu waktu aku seumuran Ramot, aku begitu senang ketika mendengar ibuku melahirkan adik baruku, yang merupakan pamannya Ramot dan Brian. Mungkin juga karena aku dan Ramot adalah anak pertama. Berhubungan atau tidak, rata-rata yang kulihat kalau anak pertama dari sebuah keluarga selalu senang ketika menyambut kelahiran adik barunya.

            Walau menjadi seorang kakak waktu masih berusia empat tahun, Ramot sudah senang sekali. Aku tak bisa membayangkan andaikan Brian lahir di saat Ramot berumur 6 tahun. Mungkin kebahagiaannya tiga kali lipat dari saat ini. 

            Namun, ini bukan kebahagiaan sesungguhnya. Menurutku kebahagiaan sesungguhnya jatuh tepat pada tanggal 13 Februari 2011, satu hari sebelum hari Valentine. Valentine adalah hari yang dikenal banyak orang sebagai hari kasih sayang. Walaupun kasih sayang bisa dilakukan kapan saja, Valentine tahun ini benar-benar memberikan kebahagiaan sesungguhnya bagi keluargaku, jauh dari sebelumnya.

            Ketika itu tanggal 13-nya, tepatnya jam 7 pagi, pada saat aku dan keluarga yang kucintai akan berangkat ke gereja untuk ibadah hari Minggu. Ya, aku yang pemabuk dan pemadat, pria yang suka menyelingkuhi istriku, masih ke gereja bersama keluarga tiap Minggu.

Saat itu aku sedang menuju kamarnya Ramot yang juga kamarnya Brian. Ia memaksa memintaku dan istriku, Arini untuk meletakkan boks tempat tidur adik barunya di kamarnya. Walau masih kecil, Ramot berani untuk tidur sendiri di kamarnya sejak tahun lalu saat masih berusia tiga tahun.

            Saat itu aku sedang menuju ke kamarnya untuk membangunkannya dan menyuruhnya mandi. Baru saja aku akan hampir membuka pintu kamarnya lebar-lebar, aku mendengar suaranya. Rupanya ia sudah bangun. Kudengar pula ia tengah bercakap-cakap dengan adik barunya seolah-olah adik barunya telah dapat berbicara. Dari celah pintu yang terbuka sedikit, dan kurasa ia tidak mendengar bunyi pintu kamarnya terbuka, aku mendengar ia sedang mengatakan kepada adik barunya suatu kata-kata yang sungguh menggugah hatiku. 

            Berikut kata-katanya yang kudengar: ”Brian, Brian adikku. Kamu seneng gak dilahirkan ke dunia ini? Oh yah, selama kamu masih di perutnya mama, kamu pernah gak melihat wajahNya Tuhan? Kok aku gak pernah yah liat wajahNya Tuhan selama ini? Apa karena aku ini penuh dosa yah, dek? Buktinya Papa dan Mama selalu aja ribut-ribut bahkan saat Mama masih mengandung kamu, dek. Apa aku ini bukan ciptaan Tuhan ya dek, seperti yang Papa dan Mama selalu katakan kepadaku kalau setiap manusia itu ciptaan Tuhan? Apa aku ini ciptaan setan? Aku kok ga pernah lihat Papa dan Mama akur? Mereka hanya akur setelah kamu lahir, Dek. Mungkin itu semua karena hanya kamu ya Dek yang ciptaan Tuhan? Ciptaan setan mana pernah sih membawa kebahagiaan untuk keluarganya...”

            Aku tersentuh mendengar kata-katanya. Luar biasa, anak seusia Ramot dapat mengeluarkan kata-kata seperti itu. "Ramot, maafkan Papa, Nak. Papa tidak bisa memberikan suatu keluarga yang harmonis untuk kamu, Ramot..."

            Segera saja aku pergi meninggalkan kamar Ramot. Baru saja akan menoleh dan meninggalkan kamarnya, aku sudah melihat istriku, Arini telah berada di samping kiriku yang sama-sama sedang menguping juga.

            ”Eh Mama,” hanya itu yang keluar dari mulutku.

            ”Eh Papa... Papa sendiri lagi ngapain di sini. Kalo Mama sih, mau liat si kecil Brian,” jawabnya.

            ”Papa tadi, Papa tadi, ..... eh Papa tadi mau bangunin si Ramot. Ternyata dia sudah bangun,” kataku. Alasanku tidak berarti sama sekali; sedetik kemudian, sebagai pria, aku tak kuat menahan titik air mataku. ”Papa... mau minta maaf ya atas kelakuan Papa selama ini. Maaf kalau selama ini Papa sering ngeduain Mama.”

            ”Iya Pa, Mama maafin. Mama juga minta maaf karena selama ini gak pernah percaya sama Papa. Mama selalu saja curiga sama Papa dan banyak tuntutan sama Papa.” respons istriku. 

            Sedetik kemudian aku langsung memeluk erat tubuh istriku dan Arini juga tak menolaknya. Sekejap aku dan istriku berpelukan mesra. Aku dan istriku lalu saling mengatakan "love you" satu sama lain.

            ”I love you, Arin,”

            ”I love you, Ken,”

            Pada saat aku dan istriku akan berciuman, tiba-tiba anakku yang sulung, Ramot, keluar kamarnya. ”Papa, Mama. Ngapain di depan kamarnya Ramot?” tanya Brian. ”Papa dan Mama nguping ya?”

            Aku pun langsung melepaskan pelukan itu. Begitupun juga dengan Arini. ”Eh enggak Ramot, Papa tadi kebetulan lewat kamar kamu. Papa juga sekalian mau bangunin kamu. Yuk, kamu segera mandi, sudah jam setengah delapan, nanti terlambat pergi ke gerejanya," kataku untuk mengalihkan perhatian.

            ”Mama juga, Sayang. Mama ke kamar kamu buat lihat adek,” kata istriku ikut mencari alasan.

            ”Oooh.... Ya sudah deh Ma, Pa, aku mau mandi dulu. Oh iya, Ma, itu adek ngompol tuh,” ucap Ramot dengan polosnya tanpa mencurigai kalau aku dan istriku mencoba mengalihkan perhatian.

            Brian segera menuju ke kamar mandi untuk mandi tapi sebelum ia telah menjauh, aku segera memanggilnya, ”Ramot, sebentar. Papa mau ngomong sama kamu.” Ramot yang tadinya telah menjauh kembali menghampiri aku dan istriku. ”Iya Pa, ada apa?”

            Langsung kuhampiri Ramot dan kupeluk erat anak sulungku itu. Istriku pun juga turut menghampiri, walau hanya berdiri di belakangku. Aku langsung berkata kepadanya sambil berusaha menahan tangis, ”Ramot, Papa minta maaf ya kalau selama ini selalu mengecewakan Ramot dan gak pernah bisa memberikan kebahagiaan untuk Ramot dan keluarga . Maafin Papa juga yang sampai membuat Ramot bilang kalau Ramot itu anak setan. Ramot itu anak Tuhan kok. Papa bisa menjamin itu.”

            ”Jadi Ramot anak Tuhan, bukan anak setan, Pa, Ma?” tanya Ramot di tengah himpitan karena pelukanku dan istriku yang ikut-ikutan memeluk Ramot dari sisi sampingnya.

            ”Iya Ramot, kamu itu anak Tuhan. Lagi pula anak setan kan gak mungkin punya wajah seimut dan seganteng kamu,” jawab istriku sambil menangis terisak-isak. ”Oh iya, Mama minta maaf juga ya ke Ramot. Maafin Mama yang selama ini selalu berantem terus sama Papa. Mama janji deh Mama gak akan lagi berantem lagi sama Papa, Mama janji.” Terlihat raut wajah Ramot yang polos namun juga tampak ekspresi sukacita di wajahnya. Mungkin ia senang melihat aku dan istriku terlihat mesra. Sesuatu yang selama ini belum pernah dilihatnya setahun terakhir ini. 

            ”Bener ya Papa dan Mama gak mau berantem lagi?” tanyanya lagi. Aku dan istriku pun menjawab serempak, ”Iya sayang. Papa dan Mama gak akan berantem lagi. Kami janji.” Aku dan istriku saling berpandangan dan mengeluarkan senyum malu-malu. Lalu aku dan istriku kembali memeluk erat Ramot lagi.

            ”Pa, Ma, udah dong meluk Ramotnya. Ramot mau mandi nih,” protesnya. Lalu aku dan istriku pun melepaskan pelukan kami berdua terhadap Ramot dan beranjak berdiri.

            ”Ya udah, Ramot mandi gih,” ucapku.

            Sekarang tinggallah aku bersama istriku. Kami saling berpandangan lama sebelum kami masing-masing mengucapkan ’i love you’ dengan diakhiri pelukan mesra dan juga ciuman mesra yang tadi sempat tertunda. Kami pun juga saling berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan-kesalahan lama kami yang membuat kami selalu saja bertengkar.

            Aku berjanji untuk tidak lagi menjadi peminum dan pengguna ganja yang untungnya selama ini belum pernah tertangkap polisi. Aku pun juga berjanji untuk tidak merokok dan main perempuan lagi. Istriku pun berjanji untuk tidak lagi cemburu berlebihan dan tidak terlalu banyak menuntut kepadaku.

            Besoknya, tepat di Hari Valentine, aku membawa istriku Arini beserta kedua anakku ke restoran termegah di kota kami tinggal, Grand Kitchen. Selama dua jam, kami menghabiskan makan siang kami di sana. Hari Valentine ini pun aku jadikan sebagai hari keluarga buat keluarga baruku. Keluarga baru tapi sebetulnya lama.

             Bahkan setelah hari lewat Valentine pun, kegembiraan dan kebahagiaan yang melingkupi keluarga kami masih tetap ada dan berlangasung. Aku pun tetap memegang janjiku pada istriku untuk tidak kembali lagi pada kebiasaan burukku. Begitu juga dengan istriku. Ia tidak lagi selalu menuntutku ini-itu dan tidak lagi cemburu berlebihan.

             Ini semua karena sihir Valentine atau karena kelahiran Brian, anak keduaku? Entahlah hanya waktu yang dapat menjawabnya. Karena bagiku sekarang, aku telah berhasil mendatangkan kebahagiaan untuk keluargaku walau aku sendiri juga tak yakin ini karena perananku.

LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER